Bab 26 Membeli Permen, Penculikan
Malam musim panas, angin sepoi-sepoi bertiup lembut. Ye Tianxie berjalan seorang diri di jalanan yang penuh cahaya lampu, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Keramaian orang dan kendaraan yang berlalu-lalang di sekitarnya sama sekali tidak menarik perhatiannya. Di benaknya hanya terbayang sosok Guoguo yang baru saja muncul di dunia ini.
Semua jawaban seharusnya ada pada "Titik Takdir" ini. Ye Tianxie mengangkat kalung hitam di dadanya... Baik di dunia takdir maupun dunia nyata, Guoguo selalu muncul dari benda ini, dan benda ajaib yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata itu bisa bebas berpindah antara dunia takdir dan dunia permainan bersama dirinya... Sebenarnya, apa alasannya?
Apa yang sebenarnya dia tinggalkan untukku?
Siapa dia sebenarnya?
Langkah Ye Tianxie tiba-tiba terhenti. Pertanyaan yang telah lama dia lupakan dan hindari, kini menyerbu hatinya. Dia menghembuskan napas panjang, lalu melanjutkan langkahnya ke depan.
Setelah melewati tiga ruas jalan, Ye Tianxie akhirnya tiba di depan mesin penjual otomatis terdekat. Di kawasan vila tempatnya tinggal, ada lima atau enam minimarket yang buka 24 jam, tapi... jika seorang pria dewasa harus keluar tengah malam hanya untuk membeli sekantong besar permen lolipop... rasanya terlalu malu untuk melakukannya. Tatapan aneh dari kasir saja sudah cukup membuatnya mati kutu.
Dengan canggung, Ye Tianxie melirik sekeliling. Setelah memastikan tak ada orang, ia memasukkan selembar uang seratus ribu ke slot mesin, lalu menekan tombol lolipop dua puluh kali.
Permen lolipop berbagai rasa keluar satu per satu, sebanyak dua puluh buah. Ye Tianxie kembali memastikan keadaan sekitar, lalu dengan tenang memasukkan semua lolipop ke dalam saku, menutupinya rapat-rapat. Saat hendak pergi, ia ragu sejenak, berbalik, lalu memasukkan lagi selembar uang seratus ribu, membeli sepuluh batangan cokelat berbagai rasa, dan memenuhi saku lainnya.
Misi selesai! Ye Tianxie menghela napas lega dan mempercepat langkah menuju rumah. Ia tak pernah membayangkan suatu hari akan keluar khusus membeli permen untuk seorang anak kecil... Namun, tatapan Guoguo yang polos, penuh harap dan iba, membuatnya tak kuasa menolak.
Langit benar-benar gelap, awan kelam menutupi bulan yang cacat, menghilangkan sinar putih yang membasahi bumi. Lampu kota berkelip menegaskan kemegahan, namun tak mampu menerangi segala kejahatan dan kebusukan yang tersembunyi di balik kegelapan.
Ye Tianxie selalu menganggap dirinya sebagai orang di luar dunia, kehidupannya pun terasa asing dari kenyataan. Kadang ia bersikap dingin dan penyendiri, kadang melakukan hal-hal berani yang orang lain hanya berani memikirkan. Apa sebenarnya yang ia inginkan... bahkan dirinya sendiri masih mencari jawabannya. Dengan mata dingin, ia mengamati dunia nyata, diam-diam melihat sudut-sudut yang tak terlihat oleh orang biasa, ia merasa semakin jauh dari dunia ini.
Biru, betapa langitnya kau.
Putih, betapa awannya kau.
Ye Tianxie menatap langit gelap dan awan yang membentuk siluet suram, melantunkan puisi indah yang dulu membuat guru SD-nya menangis putus asa, sampai ingin terjun ke selokan.
Angin dingin bertiup melewati telinganya, Ye Tianxie mengangkat kepala, menikmati sejuk samar yang membawa aroma polusi kota. Namun, ia tiba-tiba berhenti, mengalihkan pandangan ke sisi kanan, ke sudut yang remang-remang.
"Uh... uh... lepaskan aku... tolong... tolong..."
Senyum mengejek terukir di wajah Ye Tianxie. Ia menarik pandangan, tak lagi melihat ke arah itu, dan terus berjalan. Kota utama termegah di Tiongkok ini dipenuhi berbagai kebusukan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Ia sudah terlalu sering menyaksikannya, dari awal merasa marah, hingga terbiasa, lalu menjadi kebal. Mungkin, itulah hukum dunia nyata di sisi lain, dan ia tak lagi tertarik untuk ikut campur.
Jarak seratus meter, suara yang tertahan itu jelas bukan sesuatu yang biasa didengar orang, pun tak ada yang melihat apa yang terjadi di sudut gelap itu. Ye Tianxie berbelok, matanya sekilas melirik ke arah sana, lalu langkahnya tiba-tiba terhenti.
Dari jarak seratus meter, pandangannya menembus malam, tertuju ke sudut itu, tepat pada wajah ketakutan si gadis. Dari wajahnya, ia menangkap rasa familiar, dan keakraban itu tidak jauh, seolah ia baru saja bertemu dengannya.
Tak lama, Ye Tianxie sudah ingat di mana ia pernah melihat gadis itu, sedikit pasrah ia berbalik dan berjalan ke arah sana, berbisik, "Hari ini kau benar-benar beruntung, pasti tadi sudah melihat kalender keberuntungan sebelum keluar rumah."
"Cepat, jangan lama! Beberapa pengawal di sekitarnya bukan orang sembarangan, kalau mereka kembali ke sini, kita bisa repot."
"Hmph! Pengawal tolol itu pasti masih sibuk dikelabui anak buah kita keliling kota. Hmph, elit organisasi Cheetah apalah itu, cuma sedikit trik mengalihkan perhatian saja, mereka sudah seperti babi yang berlomba-lomba mati." Seorang pria berambut cepak, berpakaian serba hitam dan berwajah bengis, berkata mengejek.
"Sudah, cepat masuk ke mobil." Pria berwajah suram yang menghisap cerutu, berkata.
Dalam kegelapan malam, pintu belakang van hitam dibuka, seorang gadis muda dengan mulut ditutup lakban didorong kasar ke dalam bagasi. Matanya terbuka lebar penuh ketakutan, meronta hebat hanya menghasilkan suara "uh uh" yang tak berdaya.
Ada empat pria berbaju hitam, dari ekspresi dan penampilan mereka jelas bukan orang baik, hanya kurang label "Saya preman" di tubuh mereka.
"Malam yang gelap dan berangin, betapa indah dan nyaman, entah ke mana kalian dan gadis cantik ini akan menghabiskan malam yang luar biasa ini," ujar seorang pemuda berpakaian santai yang tiba-tiba berdiri di depan mereka. Di bawah cahaya suram, senyum tenang terlukis di wajahnya, namun entah mengapa, senyuman itu membuat jantung keempat pria itu berdegup kencang.
Dengan kewaspadaan tinggi mereka, tak satu pun menyadari kapan pemuda itu muncul di belakang mereka. Orang ini...
Bos mereka kembali tenang setelah kaget sesaat, ia mengibaskan kepala, membuang cerutu dari mulutnya, mata tajam menatap dingin dan berkata, "Singkirkan dia."
"Uh uh..." Gadis yang setengah terjatuh di pinggir mobil mengeluarkan suara memelas, berusaha membuka mata lebar-lebar untuk melihat siapa orang yang tiba-tiba muncul itu. Harapan yang hampir pupus kini kembali seperti menemukan sebatang jerami, ia berjuang sekuat tenaga.
Ceng!
Suara gesekan logam terdengar, kilatan dingin melintas, sebuah pistol perak terangkat, moncongnya diarahkan ke kepala Ye Tianxie. Keempat wajah pria itu serempak menampilkan senyum kejam.