Bab Dua: Tongkat Penembus Langit dan Bumi, Pedang yang Menembus Kekosongan!
“Tongkat itu!”
“Itu Tongkat Penakluk Naga milik Raja Penopang!”
“Itu benar-benar beliau!”
“Astaga, sungguh ada yang berani menerobos istana kekaisaran!”
Seruan terkejut bergema di seantero tempat itu!
Sementara itu, di pusat Kota Daxing, tepat di atas istana kekaisaran, bayangan tongkat raksasa semakin lama kian membesar, bahkan perlahan-lahan menjadi nyata. Aura menakutkan menghantam bagaikan badai dahsyat yang menerpa dari langit.
“Itu Raja Penopang, Yang Lin! Membunuh tiran sudah mustahil, cepat mundur!”
Terdengar seruan panik dari bawah.
Beberapa sosok berpakaian hitam pun segera menyebar, melarikan diri ke berbagai arah.
Pada masa Kejayaan Sui, ketika kerajaan menaklukkan negeri-negeri lain, tidak hanya berkat kebijaksanaan kaisar pendiri Yang Jian, tetapi juga karena dukungan para jenderal tiada tanding. Mereka dikenal sebagai Sembilan Sesepuh Sui yang legendaris di negeri ini.
Kesembilan tokoh itu, masing-masing ahli dalam ilmu sastra dan bela diri. Beberapa di antaranya bahkan layak disebut sebagai manusia langka yang hanya muncul dalam beberapa generasi.
Namun, zaman telah berubah. Puluhan tahun berlalu, sebagian besar Sembilan Sesepuh telah tiada, hanya segelintir yang masih hidup. Di antara mereka, Raja Penopang Yang Lin adalah yang paling menonjol.
Sebagai adik kandung Yang Jian, ia dulu mengandalkan satu tongkat Penakluk Naga dan hampir tak terkalahkan di medan perang, mencatat prestasi gemilang.
Kini, ia menjadi sosok paling berpengaruh di militer, tiang utama kekuatan Sui.
Di bawah, para pembunuh berbaju hitam berlarian menyelamatkan diri. Namun, Yang Lin yang mengawasi dari balik bayangan, belum juga menampakkan diri.
Dengan dengusan meremehkan yang menggema di udara, bayangan tongkat raksasa itu menghantam bumi dengan dahsyat.
Dari kejauhan tampak seperti pilar langit yang runtuh. Ruang di sekitarnya pun bergetar hebat.
Para pembunuh itu tak sempat mengeluarkan suara sebelum tubuh mereka terhapus oleh bayangan tongkat.
“Aaarrgh! Dasar tua bangka, Yang Lin!”
Di pinggiran istana, salah satu dari mereka menyaksikan pemandangan itu dan menjerit marah dengan penuh keputusasaan.
Namun, belum sempat ia berteriak lagi, ruang di sebelah kirinya tiba-tiba terbelah, pancaran sinar pedang hitam menyambar keluar!
Pria itu pun tak sempat bereaksi sebelum tubuhnya terpisah oleh cahaya pedang.
Sesaat kemudian, ruang kembali normal. Yang tersisa hanya tubuh tak utuh dan suara tua yang bergema.
“Berani-beraninya badut kecil seperti itu membuat keributan di Daxing!”
Bayangan tongkat pun lenyap, sinar pedang menghilang.
Seluruh Daxing seketika kembali seperti biasa, seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu yang mengguncang kota barusan.
Namun, bagi mereka yang menyaksikan langsung peristiwa itu, perasaan mereka jelas tak mudah untuk kembali tenang.
Badai itu memang singkat, namun informasi yang terungkap sangat mengejutkan.
Raja Penopang Yang Lin—tokoh yang telah membuat negeri Sui bergetar selama puluhan tahun. Selama ini, ia selalu memimpin pasukan di luar kota.
Tak disangka, ia diam-diam kembali ke Daxing.
Dan para pembunuh tadi, jelas-jelas menggunakan jurus pedang yang khas dari Fu Cailin, ahli dari Goryeo.
Yang Lin kembali, pembunuh dari Goryeo datang.
Ditambah lagi akhir-akhir ini pasukan elit sering kali muncul, siapa pun yang cermat pasti menyadari, negeri Sui akan menghadapi gejolak besar.
Tentu saja, itu hanya bagi mereka yang peduli dengan urusan negara dan dunia.
Bagi kebanyakan orang, yang paling menarik perhatian tetaplah pertarungan mengagumkan barusan.
Kekuatan yang diperlihatkan Yang Lin sungguh luar biasa, membuat para pendekar terpesona.
Nama Raja Penopang hampir semua orang tahu, meski ia paling aktif di masa awal berdirinya Sui. Beberapa tahun belakangan, seiring negeri Sui kian stabil dan usianya bertambah, ia jarang lagi beraksi.
Karena itu, banyak orang di dunia persilatan masa kini sebenarnya tidak begitu mengenal sosok Raja Penopang.
“Tak kusangka hari ini bisa menyaksikan Raja Penopang bertindak langsung.”
“Haha, benar-benar tua-tua keladi!”
Teriakan semangat pun menggema.
“Tak kusangka Raja Penopang yang melegenda itu memiliki kekuatan sehebat ini.”
“Bukankah ia dikenal menempuh jalan kemiliteran? Kenapa bisa sedahsyat itu?”
Sebagian lagi bertanya-tanya.
“Dasar katak dalam tempurung!” seseorang menimpali dengan nada mencemooh.
“Baik jalan militer, bela diri, sastra, atau lainnya, asalkan sampai puncak, semua bisa menggetarkan dunia. Kau kira hanya pendekar sepertimu yang punya kekuatan? Sungguh lucu!”
Daxing pun geger akibat kejadian barusan, namun istana kekaisaran, pusat dari semua peristiwa itu, justru tampak sangat tenang.
Di dalam salah satu aula utama di pusat istana, beberapa sosok tengah duduk khidmat.
Siapa pun yang mengenal Sui pasti tahu, mereka adalah para tokoh penting di pemerintahan.
Di kursi paling atas, seorang pemuda berpakaian jubah naga, tak lain adalah Kaisar Sui saat ini, Yang Guang.
Di samping kiri bawah, duduk seorang tua berambut putih mengenakan zirah perang.
“Terima kasih atas kerja keras Paman Raja!” ujar Kaisar.
Orang tua itu melambaikan tangan, “Hanya segelintir anak kecil tak tahu diri. Aku memang tua, tapi belum sampai tak mampu mengangkat tongkat! Jika Fu Cailin sendiri yang datang, barulah layak kulihat.”
Jelaslah, orang tua itu adalah Raja Penopang Yang Lin yang termasyhur.
“Paman Raja memang tetap perkasa! Ini keberuntungan besar bagi negeri Sui,” puji Yang Guang sambil tersenyum.
“Harapan Raja Penopang tampaknya sulit terwujud, Fu Cailin membawa nasib bangsa Goryeo, mustahil ia nekat mengambil risiko,” sahut salah satu sesepuh.
“Benar, namun langkah Goryeo kali ini menunjukkan mereka sudah siap siaga,” sahut yang lain.
“Kalau memang sudah bersiap, biarkan saja. Kita tidak pernah menutupi gerakan pasukan, toh memang tak bisa disembunyikan,” ujar Yang Lin dengan suara berat.
“Lagi pula, Goryeo hanya negara kecil, kita tidak perlu bertindak diam-diam.”
“Selama bertahun-tahun, Goryeo terus saja mengusik perbatasan. Jika kita tidak mencabut duri ini, menghadapi musuh dari barat dan utara sekaligus akan sulit.”
“Kalau memang harus berperang, lebih baik sekalian besar-besaran, sapu bersih mereka!”
Semua yang hadir mengangguk setuju.
“Benar kata Raja Penopang! Namun, soal siapa yang akan memimpin pasukan…,” ujar salah satu pejabat di kanan.
“Yang Mulia tidak boleh ikut ke medan perang, mohon cabut titah itu,” pintanya.
Mendengar itu, wajah Yang Guang seketika muram. Ia cepat memandang Yang Lin, seolah berharap mendapat dukungan.
Namun, Yang Lin yang memahami maksudnya, hanya menggeleng pelan, lalu menoleh ke arah lain.
Yang Guang pun tampak kehilangan semangat, duduk lemas di singgasananya.
“Baiklah, urusan pemimpin pasukan, biar para penasihat yang memutuskan.”
Melihat itu, yang lain pun tak mempermasalahkan.
Beberapa saat kemudian, Yang Lin perlahan angkat bicara.
“Soal panglima utama mudah urusannya. Meski Yang Mulia tak pantas turun ke perang, hal ini mengingatkanku pada satu hal.”
“Sekarang, mayoritas tentara Sui hanyalah para veteran tua. Para jenderal tangguh zaman dulu, sebagian sudah gugur, sisanya menua.”
“Aku mungkin masih cukup sehat, tapi tidak akan bertahan lama lagi.”
“Maka dari itu, aku sarankan, kali ini, kita bawa lebih banyak anak muda!”
“Aku ingin tahu, apakah ada generasi penerus di militer Sui yang bisa diandalkan?”
“Benar sekali!” Semua orang segera menyetujui.
“Kalau bicara generasi muda, putra mendiang Penguasa Yue, yaitu Yang Xuangan, cukup menjanjikan.”
“Putra Yang Su, ya?” Yang Lin mengangkat alis.
“Benar, dan putra saudara perempuan Han Qinhu dari Kabupaten Shouguang, bernama Li Yaoshi, juga memiliki potensi,” tambah yang lain.
Yang Lin mengangguk. Baik Yang Su maupun Han Qinhu sama-sama termasuk Sembilan Sesepuh masa lalu, namun kini telah tiada.
“Silakan pikirkan baik-baik, siapa saja anak muda berbakat, beberapa hari ke depan laporkan padaku.”
“Karena sudah diputuskan, jadikan saja Goryeo sebagai medan latihan. Dengan kami para sesepuh mengawasi, tak mungkin Goryeo bisa membuat masalah.”
Semua pun mengangguk paham, lalu bangkit memberi hormat.
Saat itulah, di pojok ruangan, seorang tua berpakaian hitam tiba-tiba berkata, “Tambah satu lagi, bawa juga anak keluarga Gao!”
Mendengar ucapan itu, Yang Lin sempat tertegun, lalu perlahan mengangguk.