Bab 51 Pukul dia lagi
"Kamu mencariku untuk membahas tentang turnamen besar ilmu bela diri, ya? Kalau begitu, silakan masuk!"
Meskipun merasa canggung, Mu Xingyun tetap berusaha memasang ekspresi acuh tak acuh di permukaan. Ia membuka pintu kantornya dan mempersilakan Chen Fan masuk.
"Kamu ingin minum apa? Aku punya air putih dan kopi di sini!"
Setelah masuk ke dalam ruangan, Chen Fan mencari sebuah kursi dan duduk.
Entah karena merasa bersalah atau bukan, Mu Xingyun tiba-tiba bersikap ramah kepadanya.
"Aku tidak minum apa-apa, Bu Guru Ma. Sebaiknya kita bahas saja masalah turnamen besar ilmu bela diri itu. Bukankah waktu di rumahmu, kakekmu mengusulkan agar aku mewakili dirimu untuk ikut bertanding?
Waktu itu aku menolaknya, tetapi setelah kupikir-pikir lagi, rasanya aku terlalu tidak berperasaan. Lagipula, aku juga sudah sering makan di rumahmu, jadi aku akan terpaksa membantumu bertarung. Bagaimana menurutmu?"
Chen Fan menyilangkan kakinya dan langsung pada intinya.
Mu Xingyun yang duduk di hadapannya langsung menjadi waspada saat mendengarnya.
Tentu saja ia tidak percaya bahwa nurani Chen Fan tiba-tiba tergerak. Pria ini sama sekali bukan tipe orang seperti itu.
Pepatah bilang, jika seseorang berbaik hati tanpa alasan yang jelas, kalau tidak berniat jahat pasti ada pamrihnya. Mu Xingyun saat ini sedang menebak-nebak niat apa sebenarnya yang tersembunyi di dalam hati Chen Fan.
"Chen Fan, jujur katakan padaku, sebenarnya kenapa kamu mengubah pikiranmu?"
Mu Xingyun tadinya sedang pusing memikirkan cara untuk membujuk Chen Fan agar mau setuju bertanding, tetapi siapa sangka pria ini malah datang sendiri mencarinya.
Karena situasi ini, Mu Xingyun justru tidak terburu-buru lagi. Ia harus mencari tahu alasan di balik perubahan pikiran Chen Fan.
"Mana ada begitu banyak alasan? Aku hanya merasa kasihan padamu dan tidak ingin melihatmu menangis tersedu-sedu. Siapa suruh aku menjadi orang yang begitu penuh kasih sayang ini!"
Chen Fan merentangkan kedua tangannya dan berkata dengan ekspresi tulus.
"Kamu penuh kasih sayang?"
Mu Xingyun meliriknya sekilas dan berkata dengan penuh kecurigaan, "Jika kamu benar-benar penuh kasih sayang, lalu kenapa waktu itu kamu tidak langsung menyetujuinya saja? Sekarang kamu malah datang mencariku lagi, sulit bagiku untuk tidak mencurigai motifmu!"
Mendengar perkataan Mu Xingyun, Chen Fan pun merasa sangat jengkel. "Kubilang Bu Guru Ma, kenapa kamu sangat bertele-tele? Bukankah kakekmu sangat ingin aku mewakili dirimu untuk bertanding? Jadi, kamu setuju atau tidak?"
"Jika kamu tidak menyebutkan alasannya, maka aku pasti tidak akan bisa menyetujuinya. Siapa yang tahu kalau kamu ingin memanfaatkan hal ini untuk memeras!"
Mu Xingyun memasang wajah dingin dan berkata dengan nada tegas.
"Bu Guru Ma, menurutmu apa yang ingin aku peras darimu?"
Chen Fan tertegun sejenak, lalu tiba-tiba mengerti apa yang dipikirkan oleh Mu Xingyun.
Ia mendekatkan tubuhnya ke depan, menatap tajam ke mata Mu Xingyun, lalu bertanya.
"Aku... aku tidak tahu, intinya aku tidak tenang!"
Mu Xingyun sekilas merasa wajahnya memerah, lalu buru-buru menundukkan kepalanya.
Hingga titik ini, Chen Fan juga menyadari bahwa wanita ini menganggapnya sebagai bagian kedua dari pepatah "kalau tidak berniat jahat pasti ada pamrihnya".
Maka, ia menarik kembali tubuhnya, bersandar di kursi, dan berkata dengan serius, "Bu Guru Ma, kamu benar-benar salah paham padaku. Alasan kenapa aku mengubah pikiran memang karena seseorang.
Tetapi orang itu bukanlah kamu, melainkan seorang pria bernama Long Aotian. Aku memiliki sedikit dendam dengannya, jadi aku ingin menghajarnya habis-habisan di turnamen besar ilmu bela diri nanti hingga ia merasa malu. Dengan begitu, aku akan merasa sangat puas!"
"Kamu ingin menghajar Long Aotian?!"
Mendengar perkataan Chen Fan, Mu Xingyun begitu terkejut hingga langsung berdiri dari kursinya.
"Mungkinkah kalian berdua sudah pernah bertemu?"
Long Aotian adalah lawan paling kuat dalam turnamen besar ilmu bela diri kali ini. Alasan kakeknya meminta Chen Fan turun tangan adalah untuk menghadapi Long Aotian.
Namun, dari arti perkataan Chen Fan barusan, sepertinya ia sudah pernah bertatap muka dengan Long Aotian.
Mu Xingyun adalah orang yang paling tahu seperti apa Long Aotian itu.
Pribadinya licik dan caranya sangat kejam, sehingga ia sangat khawatir Chen Fan akan menderita kerugian di tangan Long Aotian.
"Benar, kami sudah pernah bertemu, dan aku bahkan sudah menghajarnya sekali. Hanya saja, hajatan itu belum cukup memuaskan, makanya aku ingin menghajarnya sekali lagi di turnamen besar ilmu bela diri!"
Ucapan Chen Fan sangat mencengangkan, sementara Mu Xingyun justru menunjukkan ekspresi penuh keraguan di wajahnya.
Ia sangat tahu seperti apa kekuatan Long Aotian, jadi ia merasa situasinya mungkin justru sebaliknya.
Sangat mungkin Chen Fanlah yang menderita kerugian di tangan Long Aotian, sehingga ia ingin membalas dendam.
Jika memang seperti itu, maka alasan Chen Fan mengikuti turnamen besar ilmu bela diri juga cukup masuk akal.
"Chen Fan, karena kamu sudah pernah bertarung melawan Long Aotian, maka kamu seharusnya tahu bahwa mengikuti turnamen besar ilmu bela diri memiliki risiko yang sangat besar. Meskipun Kakek sangat ingin kamu turun tangan, tetapi sebagai... pembimbingmu, aku tetap berharap kamu bisa mempertimbangkannya dengan matang!"
Setelah merenung sejenak, Mu Xingyun berkata kepada Chen Fan dengan penuh makna.
Tentu saja ia ingin Chen Fan bertarung mewakili dirinya, tetapi ia juga takut Chen Fan terluka.
Namun, ketika Chen Fan mendengar ucapannya, ia justru merasa bingung. "Bu Guru Ma, aku tahu kamu menyayangi murid-muridmu, tetapi apakah kamu tidak mendengarkan baik-baik? Aku mengikuti turnamen besar ilmu bela diri karena ingin menghajar orang, bukan untuk dihajar, jadi risiko apa yang bisa terjadi?"
Chen Fan memasang wajah sangat tulus, seolah-olah ia sedang menceritakan sebuah fakta yang tidak terbantahkan.
Mendengar hal itu, Mu Xingyun tetap merasa bahwa pria itu sedang menyombongkan diri.
Namun, karena sikap Chen Fan begitu tegas, ia pun merasa tidak enak untuk mengatakan apa-apa lagi.
"Baiklah, karena kamu sudah membuat keputusan sendiri, kalau begitu aku akan memberitahu Kakek untuk membantumu mendaftar!"
Pada akhirnya, Mu Xingyun menyetujuinya.
Ini seharusnya menjadi hal yang baik, tetapi entah mengapa, di wajahnya sama sekali tidak terlihat ekspresi senang, melainkan dipenuhi dengan rasa khawatir.
"Bukankah akan lebih baik kalau kamu menyetujuinya sejak tadi? Jadi aku tidak perlu membuang banyak air liur!"
Begitu tujuannya tercapai, Chen Fan bangkit berdiri dari kursinya. "Bu Guru Ma, silakan lanjutkan kesibukanmu, aku pergi dulu!"
Setelah pamit kepada Mu Xingyun, Chen Fan berbalik dan melangkah pergi. Namun, ketika sampai di dekat pintu, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Ia berbalik menatap Mu Xingyun, mengangkat sebelah alisnya, dan berkata dengan nada usil, "Bu Guru Ma, aku ingin menyampaikan satu hal terakhir.
Semua hal tentang dirimu sudah sangat baik, hanya saja kesan yang kamu berikan terlalu dingin. Jadi, kurasa kamu benar-benar harus mencari seorang pacar dan lebih sering berpelukan, dengan begitu gunung es sepertimu ini bisa segera mencair lebih awal!"
"Murid yang tidak berbakat ini kebetulan memiliki dua otot dada yang bidang. Jika kamu membutuhkannya, kamu bisa datang mencariku kapan saja, aku pasti akan menyambutmu dengan dada terbuka lebar!"
Setelah merampungkan kalimat itu, Chen Fan langsung berbalik dan berlari pergi.
Mu Xingyun tidak mengejarnya dengan perasaan marah. Di dalam kepalanya, tiba-tiba terlintas bayangan saat ia bertabrakan dengan Chen Fan tadi.
Kemudian, di atas wajahnya yang selalu membeku sepanjang tahun itu, tanpa diduga tersungging sebuah senyuman tipis!
"Keparat ini meskipun menyebalkan, tetapi kedua otot dada itu memang terasa cukup kokoh!"
Mu Xingyun bergumam pelan sambil menatap ke arah kepergian Chen Fan.
Di sisi lain.
Chen Fan mengerahkan seluruh tenaga untuk berlari sejauh beberapa ratus meter sebelum akhirnya menghentikan langkahnya.
Ia menoleh ke belakang dan mendapati bahwa Mu Xingyun tidak mengejarnya, barulah ia merasa lega.
Setelah itu, ia kembali memasang ekspresi slengean seperti biasanya dan pergi ke lapangan olahraga untuk mencari kakak tingkat atau adik tingkat perempuan yang cantik.
Chen Fan merasa hari ini ia mungkin bisa menemukan takdir cintanya sendiri.
Namun, kenyataannya justru berbanding terbalik. Ia berputar-putar di lapangan beberapa kali, tetapi bahkan tidak berhasil mendapatkan satu pun akun WeChat perempuan.
Bukan karena wajahnya terlalu jelek hingga membuat orang-orang ketakutan dan lari, melainkan karena reputasinya saat ini terlalu besar.
Entah bagaimana mulanya, semenjak insiden saat ia makan bersama Xia Shuyao di kantin yang kedapatan oleh orang lain, julukannya berubah dari "Super Saiya" menjadi "Si Maniak Kekerasan".
Akibatnya, para mahasiswi itu langsung memilih untuk menjaga jarak sejauh mungkin begitu melihatnya, mana mungkin memberinya kesempatan untuk mendekati mereka.