Bab 3 Pernikahan yang Diatur?
"Hei, tunggu aku sebentar!"
Chen Fan berlari kecil mengejar sosok wanita cantik di depannya. Ia merasa heran saat melihat wanita itu memasuki sebuah rumah mewah. Apakah wanita secantik ini begitu akrab dengan keluarga Gu?
Satpam yang berjaga di pintu gerbang sempat ingin mencegat Chen Fan karena menganggapnya sebagai orang udik yang hendak menyelinap masuk, namun ia segera mengurungkan niatnya saat sang nona muda memberi isyarat tangan.
Gu Qingcheng tumbuh sebagai sosok yang mandiri dan paling membenci perjodohan. Saat ini, ia justru berharap Chen Fan membatalkan pertunangan mereka, jadi tentu saja ia tidak akan melarang pria itu masuk.
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam pekarangan, kemegahan rumah tersebut semakin mempertegas status keluarga Gu yang luar biasa. Halaman depan yang tertata indah dengan bebatuan dan kolam tampak seperti miniatur pemandangan Jiangnan yang memukau. Belasan mobil mewah terparkir di sana, persis seperti sedang mengadakan pameran otomotif, sementara pengawal berpakaian hitam tampak berseliweran di mana-mana.
Gu Qingcheng menyadari banyaknya kendaraan asing yang terparkir, yang memberinya firasat buruk. Ia bergegas masuk ke dalam rumah utama. Begitu sampai di dalam, ia mendapati ruang tamu di sisi rumah telah dipenuhi oleh banyak orang. Para wanita berbusana mewah dan pria paruh baya yang tampak berwibawa duduk memenuhi ruangan tersebut. Siapa pun yang melihat jajaran tamu ini pasti tahu bahwa mereka bukanlah orang sembarangan.
Bagi mereka yang mengenal Suzhou dan Hangzhou, pemandangan ini akan sangat mengejutkan. Orang-orang yang biasanya memiliki kedudukan tinggi di luar sana, kini hanya bisa duduk menunggu di lantai bawah dengan suasana yang tegang. Sesekali, tatapan mereka tertuju ke sebuah kamar di lantai atas, yang membuat hati Gu Qingcheng semakin gelisah. Hanya saat kondisi sang kakek berada di titik kritis, orang-orang penting seperti ini akan datang berkunjung.
"Qingcheng, akhirnya kau kembali!" sebuah suara wanita yang terdengar antusias menyapa.
Seorang wanita dengan dandanan yang sangat menggoda menghampiri Gu Qingcheng dengan raut wajah cemas. Pakaiannya yang terbuka membuat orang yang melihatnya merasa risih. Banyak tamu yang menoleh dan mulai berbisik-bisik saat melihat kedatangan sang nona muda keluarga Gu. Wajar saja, karena sebagai cucu kandung Tuan Gu, keterlambatan kedatangannya dinilai kurang pantas dibandingkan para tamu yang sudah datang lebih awal.
Belum sempat Gu Qingcheng menanggapi, pria paruh baya yang duduk di kursi utama—yang wajahnya terlihat mirip dengan Gu Qingcheng—mencemooh dengan nada sinis.
"Huh! Anak perempuan memang tetaplah anak perempuan!"
"Semua orang tahu betapa kakekmu sangat menyayangimu. Namun di saat kritis seperti ini, di saat kakekmu sedang sakit parah, kau baru muncul sekarang."
"Sudah kubilang sejak dulu, seorang wanita seharusnya tinggal di rumah mengurus suami dan anak, bukan malah sibuk berbisnis di luar sana. Benar-benar membuang-buang kekayaan keluarga Gu!"
Suasana seketika menjadi tegang. Wajah cantik Gu Qingcheng memucat menahan amarah. Seluruh keluarga tahu bahwa perusahaannya sedang berada di masa tersulit, sementara di saat yang sama, kakeknya, Gu Jiangsheng, jatuh sakit. Sebagai satu-satunya orang yang menyayangi Gu Qingcheng dalam keluarga itu, Gu Jiangsheng sengaja memerintahkan agar berita penyakitnya tidak disampaikan kepada cucunya agar tidak mengganggu pekerjaannya. Siapa sangka, penyakitnya ternyata begitu serius.
Kini, Gu Qingcheng yang memang tidak disukai di keluarga itu, justru menjadi sasaran pelampiasan amarah semua orang. Matanya memerah. Demi bisa segera kembali, ia terpaksa meninggalkan urusan bisnis penting yang sedang ia tangani dan rela berdesak-desakan di kereta cepat tanpa henti.
"Sudahlah, Qingcheng, jangan dengarkan ucapan pamanmu. Cepatlah naik ke atas dan temui kakekmu," ujar wanita menggoda tadi dengan sikap seolah ingin menengahi, namun Gu Qingcheng tidak memberikan tatapan ramah sedikit pun. Wanita itu adalah selingkuhan ayahnya yang berhasil mendepak posisi ibu kandungnya.
Menekan perasaannya, Gu Qingcheng bergegas naik ke lantai atas. Tepat di belakangnya, seorang pria dengan raut wajah santai berjalan mengikuti dengan lamban.
Melihat punggung Gu Qingcheng, Chen Fan hanya bisa mendengus pelan. Jadi, inilah tunangannya. Benar kata gurunya, semakin cantik seorang wanita, semakin pandai ia membohongi orang. Namun, melihat situasi keluarga Gu yang tampak sangat sibuk, Chen Fan memutuskan untuk ikut naik ke atas.
"Siapa orang udik itu?"
"Entahlah, sepertinya dia dibawa oleh nona muda."
Gu Qingcheng tidak punya waktu untuk memikirkan Chen Fan dan terus bergegas naik.
...
Aroma cairan antiseptik memenuhi ruangan. Seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih terbaring di ranjang rumah sakit, tidak sadarkan diri, dengan detak jantung yang sudah sangat lemah.
"Tuan Gu, kondisi ayah Anda sangat berbahaya. Saat ini hanya tersisa satu jalan," ujar seorang pria tua berjubah Tao dengan ekspresi serius di dalam kamar tersebut. Beberapa dokter medis barat yang berdiri di sampingnya tidak berani mengangkat wajah.
Pria tua berjubah Tao itu adalah Ge Fang, seorang ahli pengobatan tradisional Tiongkok yang legendaris. Meski usianya sudah lebih dari seratus tahun, tubuhnya masih sangat bugar. Ge Fang telah menyelamatkan banyak orang yang divonis tidak bisa disembuhkan oleh dokter medis barat, termasuk para tokoh politik dan pengusaha besar.
Semua mata tertuju pada seorang pria paruh baya yang tampak berwibawa, yaitu Gu Wanshang. Sejak Tuan Gu pensiun, seluruh kendali bisnis keluarga Gu diserahkan kepadanya. Dialah satu-satunya orang yang berhak mengambil keputusan.
"Dokter Ge, berapa besar peluang untuk menyelamatkan ayah saya?" tanya Gu Wanshang dengan ragu.
Ge Fang terdiam sejenak, lalu mengamati kondisi Tuan Gu sekali lagi. Tuan Gu sudah berusia delapan puluh tahun lebih, kakinya sudah hampir melangkah ke liang lahat. Dokter sehebat apa pun hanyalah penyembuh, bukan penentu takdir.
"Kurang dari dua puluh persen," jawab Ge Fang. "Ramuan sup penambah energi 'Harimau Putih' hanyalah upaya paksa untuk mempertahankan napasnya saja. Bahkan jika berhasil selamat, beliau mungkin akan terbaring selamanya dan hanya bisa bertahan paling lama tiga tahun."
Mendengar vonis dari seorang legenda seperti Ge Fang, Gu Wanshang hanya bisa menghela napas panjang. "Dokter Ge, kalau begitu saya serahkan semuanya kepada Anda..."
Tepat saat Gu Wanshang hendak mengambil keputusan terakhir itu, sebuah tawa kecil terdengar dari arah pintu.
"Jika menggunakan ramuan sup 'Harimau Putih', orang tua itu pasti akan mati!"