Cemburu
Sampai Leng Yunshan menceritakan seluruh duduk perkara dari awal hingga akhir kepada Xiao Xiao, barulah gadis itu bersedia menatapnya dengan serius. "Oh, jadi begitu rupanya. Berarti, kita berdua adalah orang yang sama-sama tahu status hubungan asmara satu sama lain yang paling spesial?"
"Hanya saja, kamu berada pada bentuk *ing* yang sedang berlangsung, sementara aku berada pada bentuk harapan masa depan yang sedang berlangsung," dengus Xiao Xiao.
Leng Yunshan tersenyum ceria lalu memeluknya dari belakang. "Baguslah, bentuk yang mana pun itu, wah, pada akhirnya akhir cerita kita pasti akan bahagia! Aku mendukungmu."
Ia menarik kesimpulan dengan penuh keyakinan. "Coba lihat, orang yang kamu sukai adalah sahabat baik pacarku. Nanti setelah lulus, kita tinggal menggunakan berbagai cara untuk menjodohkan mereka. Lihat! Ini pasti tidak akan ada masalah."
Xiao Xiao mengeluarkan suara "ehm" yang panjang, lalu menatapnya dan berkata, "Kamu ini, cukup rahasiakan kisah cintamu sendiri saja, tidak usah mengurusiku. Soal aku, masa depan masih begitu panjang, siapa tahu nanti aku malah berubah pikiran."
"Hal itu sulit dipastikan," kata Leng Yunshan sambil tersenyum. "Orang-orang bilang bahwa murid jurusan sastra murni seperti kita ini selalu lebih setia dan berdedikasi dalam percintaan. Lagipula, menurutku, kita seharusnya adalah tipe orang yang begitu menetapkan pilihan pada seseorang seumur hidup, tidak akan pernah berubah lagi."
"Haha, itu semua bergantung pada apakah para pria menyebalkan itu bisa membuat kita rela sepenuh hati..." Xiao Xiao menepuk tangan sahabatnya itu sambil tertawa kecil. "Bagaimanapun, faktor pengaruhnya terlalu banyak. Bahkan jika di masa depan kita benar-benar bisa terus mencintai orang itu, tidak ada jaminan faktor eksternal tidak akan memisahkan kita."
"Jadi, membicarakannya sekarang hanyalah sebatas wacana. Praktik nyatanya tetap bergantung pada diri kita sendiri."
Leng Yunshan tampak berpikir.
"Benar juga."
*
Makan malam Tahun Baru.
Keluarga Ling biasanya hanya terdiri dari dua atau tiga orang. Terkadang Ling Kuai pulang, terkadang tidak.
Tahun ini tampaknya menjadi tahun di mana ia tidak pulang.
Karena kedatangan Leng Yunshan, meskipun Ling Jincheng telah pergi, jumlah orang di rumah tetap tidak berubah. Setidaknya dari ekspresi Lin Lin, Leng Yunshan tidak dapat melihat sedikit pun kesedihan atau kepedihan di wajah wanita itu.
Hidangan di atas meja makan tetap sangat berlimpah. Dibandingkan biasanya, ada tambahan beberapa menu hidangan utama yang istimewa. Kepala pelayan dan Bibi Liu tidak pergi, mereka tetap berdiri di samping untuk melayani.
Televisi menayangkan siaran malam Tahun Baru.
Lin Lin berkomentar dengan nada mengejek, "Gala Tahun Baru tahun ini tidak ada istimewanya sama sekali jika dibandingkan dengan tahun lalu. Aku tadinya mengira tahun ini akan ada sesuatu yang spesial, acara ini tetap kurang memiliki kebaruan."
Leng Yunshan mengangguk sebagai bentuk persetujuan.
Hari ini ia berdandan dengan sangat cantik. Mengenakan pakaian serba merah yang dipilihkan oleh Lin Lin, pakaian itu memiliki sentuhan gaya Tiongkok yang sangat khas. Warna merah adalah warna yang sangat menguji penampilan seseorang. Jika seseorang bisa mengenakan warna merah dengan indah, maka ia pastinya adalah seorang gadis yang sangat cantik.
Jarang ada gadis yang mampu membawakan warna merah seperti itu dengan baik. Lin Lin memandangi gadis yang duduk di sampingnya, hatinya dipenuhi dengan rasa puas yang luar biasa. Benar juga, melahirkan anak perempuan memang menyenangkan, bisa mendandaninya sepuas hati. Tidak seperti anak laki-lakinya, yang dipakaikan baju apa pun selalu itu-itu saja, sama sekali tidak ada variasinya.
Berpikir bahwa ia tidak boleh melewatkan kesempatan untuk memamerkannya, ia langsung merangkul Leng Yunshan dan berkata sambil tersenyum, "Ayo, Shanshan, berfotolah dengan Bibi Lin. Aku mau mengunggahnya ke Momen WeChat dan memamerkannya kepada sekumpulan pria menyebalkan itu."
"Haha, baiklah."
Lin Lin sangat pandai mengambil foto. Tak lama kemudian, banyak foto kebersamaan mereka berdua diunggah ke Momen WeChat. Ia menuliskan keterangan: [Cantik kan, gadis kesayanganku!!!]
Di hari Tahun Baru yang meriah ini, saat di mana banyak orang mengunggah sesuatu ke Momen WeChat, benar saja, tidak sampai beberapa menit kemudian, kolom komentar langsung dibanjiri tanggapan bertubi-tubi dari para wanita dari kalangan atas.
[Gadis kecilnya cantik sekali!]
[Lin Lin beruntung sekali ya, ini putri kecilnya ya?]
[Duh duh duh, kapan-kapan bawa ke sini biar aku bisa lihat!]
Lin Lin merasa sangat bersemangat dan terus membalas pesan-pesan tersebut. Leng Yunshan duduk diam di samping sambil menonton televisi, suasananya terasa begitu harmonis.
Saat itu, Lin Lin menerima sebuah pesan pribadi dari seorang teman.
[Kak Lin Lin, apakah ini gadis yang sebelumnya kamu ceritakan, anak dari temanmu itu? Cantik sekali... Aku naksir. Mumpung belakangan ini kita sedang tidak ada kesibukan, aku akan membawa anak laki-lakiku ke sini untuk menemuinya.]
[Hih! Aku tidak percaya kalau kamu yang naksir, pasti anak laki-lakimu kan yang naksir?] balas Lin Lin tepat sasaran.
[Kamu sudah tahu, lalu kenapa masih diungkapkan juga? Boleh atau tidak? Kalau boleh, beberapa hari lagi aku akan membawanya berkunjung.]
Lin Lin berpikir sejenak. Hmm... Sepertinya tidak akan ada masalah besar. Lagipula tidak ada keharusan untuk langsung menjalin hubungan khusus, anggap saja seperti berkenalan dengan teman baru. Akhirnya ia pun menyetujuinya.
Leng Yunshan terus tinggal di ruang tamu sampai pukul 12 malam. Begitu jarum jam melewati tengah malam, ia pamit naik ke atas untuk tidur.
Baru saja ia mencolokkan pengisi daya ke ponselnya, panggilan video dari seseorang langsung masuk. Leng Yunshan tertegun sejenak. Bukankah pria itu baru saja mengiriminya pesan tadi yang mengatakan bahwa mereka tidak akan melakukan panggilan video hari ini? Kenapa sekarang malah menelepon lagi?
Mengira ada hal penting, ia mengangkat panggilan tersebut sambil merapikan rambutnya. "Ada apa? Apakah ada sesuatu yang penting?"
"Kamu merasa risi ya padaku? Memangnya tidak boleh meneleponmu kalau tidak ada urusan penting?" Ling Jincheng memasang wajah cemberut.
Leng Yunshan dibuat tak bisa berkata-kata. "Kamu ini benar-benar... Mana mungkin aku bermaksud begitu? Bukankah kamu sendiri yang bilang sudah terlalu malam jadi tidak usah menelepon?"
"Tadi memangnya begitu, melihat waktu sudah terlalu malam jadi aku berniat tidak menelepon agar kamu bisa tidur lebih cepat. Tapi, tepat sebelum tidur, aku malah melihat Momen WeChat yang diunggah oleh mamaku. Hmm, Nona yang satu ini sungguh terlihat sangat cantik, tapi sama sekali tidak mau mengirimkan beberapa fotonya kepadaku, sampai-sampai aku harus melihatnya dari Momen WeChat mamaku sendiri. Dan akibatnya, aku malah dikejar-kejar oleh sekelompok teman yang menanyakan informasi tentangnya," ucap remaja itu dengan nada menyindir.
"Eh, menanyakan informasiku? Kenapa harus menanyakan tentangku?" Leng Yunshan merasa bingung.
Mereka berdua saling bertatapan selama beberapa detik. Setelah itu, Tuan Muda Ling dengan sangat enggan mengungkapkan alasannya. "Ya apalagi kalau bukan karena Nona Muda yang satu ini terlalu cantik, sampai-sampai teman-teman benalu ku yang hubungannya biasa saja dengannya itu berdatangan dan mendesak untuk meminta kontak pribadinya. Mereka bahkan bertanya apakah kamu sudah punya pacar, katanya ingin mengejarmu."
Setelah berbicara sampai sejauh ini, Leng Yunshan akhirnya mengerti kenapa pria itu menelepon pada jam selarut ini. Rupanya ia sedang cemburu.
Jarang sekali melihat pria itu menunjukkan ekspresi seperti ini. Leng Yunshan tidak terburu-buru membujuknya, ia justru berniat sedikit usil. "Oh, bilang aku cantik ya? Ya, hari ini dandananku memang sedikit lebih formal dari biasanya, kan Bibi Lin yang memilihkan pakaiannya untukku."
"Kalau kamu tidak suka, lain kali aku tidak akan mengenakan pakaian setelan ini lagi."
"..." Ekspresi Ling Jincheng tetap saja terlihat buruk. "Apakah yang aku permasalahkan itu pakaiannya? Apa pernah aku melarangmu mengenakan pakaian itu? Semakin cantik kamu berpakaian, aku justru semakin senang, tahu tidak? Hanya saja, foto-foto seperti ini jangan disebarluaskan lagi ke depannya. Aku harus bicara pada Mama agar tidak ada orang lain yang mengincarmu lagi."
Leng Yunshan hanya tersenyum. Sikap pria itu terlihat begitu menggemaskan, ia sangat menyukainya.
"Sudahlah~" ia membujuk dengan lembut. "Sekalipun seperti yang kamu katakan tadi, orang-orang itu menginginkan kontak pribadiku, tinggal tidak usah diberikan saja kan beres? Aku juga tidak akan berhubungan dengan mereka. Lagipula aku sudah berjanji padamu, apa lagi yang masih membuatmu khawatir?"
Mata gadis itu tampak basah dan jernih, kelembutannya mengalir bagai air. Kemarahan di dalam hati Ling Jincheng seketika lenyap seketika. Ia tahu tentu saja ini bukan salah kekasihnya, hanya saja dirinya sedang berada di luar dan tidak bisa kembali, tidak bisa sering-sering menemui pacarnya, sementara pacarnya justru diincar oleh orang lain, membuat hatinya merasa sangat tidak nyaman.
Namun, setelah mendengar kata-kata gadis itu, ia merasa dirinya terlalu berlebihan, untuk apa memikirkan hal-hal yang tidak penting.
Orang yang disukai oleh gadis itu hanya dirinya seorang.