Bab Empat Puluh: Yang Aku Culik
Dia bahkan belum sempat bereaksi, tetapi tubuhnya sudah terlebih dahulu mengambil tindakan.
Pemuda itu menarik tangannya dan berlari ke luar. Semua orang yang ada di sana terkejut setengah mati, dan sebelum mereka sempat menghentikannya, keduanya sudah berlari jauh.
“Hei, A-Chi, mau bawa Shanshan ke mana?”
Teriakan Lin Lin terdengar dari belakang. Namun, mereka berdua sudah berlari sangat jauh. Leng Yunshan tidak bisa mendeskripsikan apa yang dirasakannya saat ini. Lama kemudian, barulah ia mengerti bahwa perasaan ini disebut kebebasan.
Seharusnya, ia menghentikan pemuda itu dan mengucapkan beberapa patah kata untuk meredakan amarah paman dan bibi. Biasanya, ia pasti akan melakukan hal seperti itu. Namun, saat ini, melihat sudut mata pemuda yang memerah, ia seketika tidak ingin mempedulikan apa pun lagi.
Sebuah sepeda motor terparkir di lapangan terbuka di luar vila, dan tidak sulit untuk menebak siapa pemiliknya. Ada dua helm yang tergantung di atasnya. Pemuda itu mengambil salah satunya lalu memakaikannya ke kepala Leng Yunshan. Setelah terdiam selama beberapa detik, ia bertanya, "Apakah kamu sudah siap?"
Ling Jinchi melirik ke arah vila. Langit kini sudah benar-benar gelap, disertai suara guntur yang bergemuruh, menandakan hari akan segera hujan.
Leng Yunshan tidak menjawab. Helm itu berukuran dua kali lebih besar dari kepalanya dan sama sekali tidak pas. Ia dengan susah payah menyesuaikan helm itu agar terasa sedikit lebih mantap.
Di tengah tubuhnya yang begitu kecil dan cuaca yang begitu buruk, Ling Jinchi tiba-tiba merasa dirinya begitu kejam sekaligus egois, karena telah menarik gadis itu pergi tanpa menjelaskan apa pun dan tanpa memikirkan akibatnya.
Bayangan kemarahan ayahnya tiba-tiba terlintas di benaknya: "Lihat dirimu yang tidak berguna ini! Kamu tidak memikirkan apa pun selain dirimu sendiri, tanpa sedikit pun memperdulikan orang tuamu."
Hah! Benar sekali...
Ling Jinchi merentangkan tangannya; memang begitulah dirinya.
"Sebenarnya apa yang sedang kulakukan... Lupakan saja, cepatlah kembali." Ia terdiam sejenak, lalu menaiki sepeda motor dan berkata, "Masuklah kembali ke dalam."
Saat ia hendak memutar kunci untuk menyalakan mesin, ujung bajunya ditarik pelan. Ia mendongak, mendapati wajah gadis itu penuh dengan rasa pasrah. "Apa yang kamu lakukan? Tidak mau menungguku lagi?"
"..."
"Baiklah, baiklah. Sepertinya ini pertama kalinya aku naik sepeda motor, bawalah pelan-pelan ya, keselamatan yang utama." Usai berkata demikian, Leng Yunshan membenarkan letak helmnya, bertumpu pada bahu pemuda itu, lalu duduk di kursi boncengan.
"Pergilah ke tempat yang ingin kamu tuju," ucap Leng Yunshan dengan nada lega. "Ujian akhir sudah selesai, aku bisa menemanimu sekarang."
"Begitukah..." Ling Jinchi tersenyum tipis dengan nada berat. Ia meraih helm satu lagi dan berkata, "Baiklah, akan kuajak kamu jalan-jalan."
...
Ini adalah pertama kalinya Leng Yunshan duduk di atas sepeda motor, sehingga ia merasa sedikit tegang dan gelisah. Angin menderu melewati sisinya, memberikan sensasi ketegangan sekaligus kegairahan. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai terbiasa dengan kecepatan sepeda motor itu, bahkan merasa kecepatannya masih kurang dan harus sedikit ditambah lagi.
Punggung lebar pemuda itu berada tepat di depannya, membuat rasa takutnya menguap seketika.
"Kita mau pergi ke mana?" tanyanya.
"Kamu ingin pergi ke mana?" tanya pemuda itu balik.
Leng Yunshan berpikir sejenak, tidak ada tempat khusus yang ingin ia tuju. "Aku tidak tahu... Bawa aku ke tempat yang kamu sukai."
"Gimana kalau ke gelanggang olahraga?"
"Boleh juga."
"Peluk aku yang erat. Kelihatannya mau hujan, kita harus cepat." Gerimis tipis mulai turun, dan siapa pun dapat merasakan bahwa hujan tersebut berpotensi semakin lebat.
"Semoga saja bukan badai hujan yang besar," doa Leng Yunshan dalam hati.
"Bukan badai kok, paling-paling hanya hujan sedang," kata pemuda itu.
Leng Yunshan merasa penasaran dengan alasan di balik ucapannya. "Kenapa?"
"Hahaha..." Namun, ia tidak menjawab. Ling Jinchi dalam hati juga bertanya-tanya mengapa ia bisa mengucapkan kata-kata itu barusan; mungkin karena ada gadis ini di sisinya, keberuntungan tidak akan pernah memburuk.
*
Hujan ternyata tidak turun semakin lebat.
Keduanya tiba di gelanggang olahraga. Suhu di dalam ruangan sangat nyaman, bahkan di musim dingin pun tidak akan terasa dingin.
Seseorang sudah menunggu di sana.
——Itu adalah Cheng Yu.
Melihat keduanya berjalan berdampingan, alis Cheng Yu terangkat. Ia berkata kepada Ling Jinchi, "Wah, bagaimana ceritanya kamu malah membawa Nona Mudamu ini ke mari?"
"Anggap saja aku telah menculiknya."
Cheng Yu tertawa kecil. "Sebenarnya apa yang terjadi?"
Melihat Ling Jinchi tampak enggan menjawab, ia mengalihkan pandangannya ke arah Leng Yunshan. "Nona Shanshan, ada apa dengan dia?"
"Eh, ada sedikit perselisihan kecil dengan paman dan bibi..." Leng Yunshan terkekeh canggung. Sejujurnya, ia sendiri tidak tahu persis apa alasan di baliknya.
"Kalian sudah makan belum?" Cheng Yu sedari tadi sudah mendengar suara guntur bergemuruh. "Perjalanan kalian ke sini lancar, kan? Dengar tuh suara guntur di luar."
Ling Jinchi menoleh ke arahnya, seolah-olah pada saat itu barulah ia menyadari sebuah masalah yang cukup serius: "Kamu belum makan, kan?"
"Aku..."
Tidak perlu dipikirkan lagi, ia pasti belum makan. Padahal tujuan awal keduanya pulang ke rumah adalah untuk makan malam, tetapi setibanya di rumah mereka justru mendapati pemandangan perang besar antara sang anak dan orang tuanya. Setelah itu, ia malah ditarik pergi oleh pemuda ini secara misterius ke tempat ini, mana mungkin ada waktu untuk makan?
Ling Jinchi ingin menampar dirinya sendiri. Ia mengeluarkan ponselnya dan berkata, "Aku akan memesan makanan untukmu."
"Biar aku saja yang pesan, sudah kupesan kok. Sinyal di sini jelek, kamu tidak akan bisa memesannya. Mumpung ada waktu sekarang, ceritakan dulu bagaimana proses kejadiannya. Aku penasaran sekali," potong Cheng Yu dengan wajah penuh rasa ingin tahu. "Paman pasti marah besar, ya?"
"Seberapa besar kemarahan orang tuamu di rumah, sebesar itulah kemarahan yang kudapat di sana," jawab Ling Jinchi ketus.
"Hahahahaha..." Cheng Yu tertawa sambil menepuk bahu pemuda itu. "Itu adalah rintangan yang harus dilewati di jalan menuju kedewasaan. Bersabarlah. Nanti masih ada segudang proses untuk urusan ke luar negeri. Kalau hal seperti ini saja tidak bisa kamu tahan, apa yang akan kamu lakukan kedepannya?"
Melihat Ling Jinchi hendak memukulnya lagi, Cheng Yu buru-buru memasang wajah serius dan berkata, "Cepat ceritakan prosesnya."
...
Segera setelah itu, sembari menunggu pengantar makanan tiba, Ling Jinchi menceritakan dengan jelas semua kejadian saat ia pulang ke rumah hingga apa yang mereka lakukan belakangan ini.
"Bagaimana kalau aku saja yang pergi membujuk ayahmu?"
"Kamu mau mencari masalah sendiri?" cibir Ling Jinchi sambil menunjukkan separuh wajahnya yang bengkak karena tamparan. "Kalau kamu juga ingin ditampar, silakan saja coba sana, aku sama sekali tidak akan melarangmu."
"...Kalau begitu aku tidak jadi pergi deh."
Tepat pada saat itu, sebuah panggilan masuk. Cheng Yu bangkit berdiri. "Makanannya sudah tiba, kurir tidak tahu jalan masuk ke sini, aku yang akan mengambilnya."
Di dalam gedung olahraga kini hanya tinggal Leng Yunshan dan Ling Jinchi berdua.
Ling Jinchi mengusap wajahnya yang terasa panas, lalu mengumpat, "Orang tua itu benar-benar kejam!"
"Makanya kubilang, seharusnya aku membantumu mengobati luka itu dulu baru kamu menarikku keluar. Di rumah masih ada es batu, tapi di sini tidak ada apa-apa, coba lihat ini." Leng Yunshan mendesah pelan. "Coba periksa apakah di dalam pesanan makanan itu ada es batu? Biar kucarikan, siapa tahu dia memesan minuman dingin?"
"Jujur saja, jika dengan menerima tamparan ini dia bisa mengizinkan aku bermain bola basket, kurasa itu sepadan," kata Ling Jinchi sambil menopang dagunya.
"Mana ada orang yang merasa senang dipukul?" ujar Leng Yunshan dengan rasa pasrah yang teramat sangat.