Bab 11, 【Cinta】 dan 【Nafsu】

O Livro Negro Tudo é vazio. 2485kata 2026-07-31 19:49:48

Halaman (1/3)

Kalau bisa menikahinya, pasti akan sangat bahagia, ya…

Dia begitu lembut. Dia pasti akan menjadi istri sekaligus ibu yang baik…

Dalam sekejap, Zhu Haomiao bahkan sudah memikirkan nama anak-anak mereka. Ia sontak tersadar, mengira akan kembali menerima peringatan agar tidak melakukan hal-hal mesum. Namun, Kitab Hitam sama sekali tidak bereaksi.

Sesaat kemudian, ia samar-samar memahami sesuatu.

Cinta dan nafsu tidak boleh dicampuradukkan. Meskipun tujuan keduanya sama, titik awalnya jelas berbeda.

Hanya saja, dalam keadaan normal, cinta dan nafsu bercampur menjadi satu. Orang biasa sama sekali tidak mampu membedakan mana yang lebih banyak di antara keduanya.

Seperti kata pepatah: sebagian besar cinta pada pandangan pertama sebenarnya hanyalah ketertarikan yang timbul karena rupa…

Cinta yang murni, tanpa sedikit pun bercampur nafsu, bertentangan dengan kodrat manusia. Hanya seorang santo yang mampu melakukannya.

Demikian pula, nafsu yang sama sekali tidak bercampur cinta juga amat langka. Itulah sifat khas iblis sejati.

Sementara manusia berada di antara keduanya. Hanya saja, pada sebagian orang, cinta sedikit lebih dominan, sedangkan pada sebagian lainnya, nafsu yang lebih kuat.

Saat ini, “cinta” Zhu Haomiao kepada perempuan itu sedikit lebih besar daripada nafsunya.

Tentu saja, “cinta” itu hanya sedikit lebih tinggi daripada rasa suka. Itu baru perasaan paling awal, paling dangkal, paling samar—jauh dari kata mendalam.

Namun, perasaan tersebut berasal dari harapan yang tulus dalam lubuk hatinya. Itu adalah kehendak “dirinya” sendiri, bukan dorongan yang digerakkan oleh nafsu. Karena itulah Kitab Hitam tidak menunjukkan reaksi apa pun.

Pada akhirnya, Kitab Hitam tidak peduli apakah dirinya baik atau jahat, suci atau iblis…

Yang dipedulikannya hanyalah… apakah hasrat itu benar-benar berasal dari lubuk hati!

Seperti yang tertulis dalam pesan di halaman pembukanya: teguhlah pada suara hati, dan lakukan apa pun yang kauinginkan!

Saat pikiran Zhu Haomiao sedang berkecamuk, dokter sekolah itu selesai mengoleskan salep dan mengangguk puas.

“Sudah. Bangunlah.”

“Hah?”

Masih tenggelam dalam kenyamanan pijatan tadi, Zhu Haomiao duduk dengan linglung. Ia terkejut mendapati dirinya hampir sepenuhnya pulih!

Rasa sakit luar biasa yang sebelumnya terasa seperti tubuhnya dicabik-cabik kini berubah menjadi nyeri otot tertunda setelah olahraga berat. Meskipun masih terasa tidak nyaman, rasa sakit itu tidak lagi mengganggu aktivitas normal.

Yang lebih mencengangkan, betisnya yang semula menghitam dan membengkak kini telah pulih sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah sedikit bekas memar.

Ia berdiri dari ranjang pemeriksaan, lalu menginjak lantai dan mengerahkan sedikit tenaga. Sensasi yang diterima kakinya memberi tahu Zhu Haomiao bahwa semuanya normal.

“…………”

Bukankah orang bilang cedera tulang dan otot membutuhkan waktu seratus hari untuk pulih?

Ini sudah sembuh?

Inikah efek penyembuhan dari kekuatan adikodrati?

Benar-benar mengerikan!

Halaman (1/3)

Halaman (2/3)

Untuk pertama kalinya merasakan secara langsung sisi misterius dunia ini, hati pemuda itu pun dipenuhi kerinduan.

Apakah dirinya juga bisa mengendalikan kekuatan dahsyat yang melampaui hukum realitas seperti ini?

Sesaat kemudian, sebuah pikiran mengerikan muncul di benaknya. Pupil matanya yang semula menerawang mendadak menyusut hingga sekecil jarum!

Celaka! Aku tidak punya asuransi kesehatan!

Zhu Haomiao menarik napas dalam-dalam, menekan gejolak di hatinya, lalu memandang dokter sekolah itu dengan tatapan serius.

“Bu Guru, saya tidak punya asuransi kesehatan…”

Biaya pengobatan adikodrati seperti ini pasti tidak murah… Semoga saja tidak keterlaluan…

“Apa?”

Pemuda itu mengedipkan mata dengan canggung, lalu berkata dengan susah payah,

“Saya ingin bertanya, berapa biaya pengobatannya? Apakah bisa dicicil?”

“Dici…………”

Melihat ekspresi serius pemuda itu yang tampak lugu dan bodoh, sudut bibir dokter sekolah tersebut tak terkendali bergetar hebat. Ia mengerahkan seluruh tenaganya agar tidak tertawa terbahak-bahak.

“Tidak perlu. Biaya itu sudah termasuk dalam uang sekolah yang kalian bayarkan.”

Zhu Haomiao menggaruk kepalanya, lalu dengan jujur dan gelisah mengaku kepada dokter sekolah itu,

“Tapi saya murid jalur khusus. Saya belum pernah membayar uang sekolah. Setiap bulan saya bahkan masih bisa mengais sedikit tunjangan hidup dari sekolah…”

“…………”

Jangan-jangan anak ini pernah belajar menjadi pelawak?

Dokter sekolah itu memejamkan mata dan mengembuskan napas panjang yang harum seperti anggrek dan kemuning. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menahan bahunya yang berguncang, baru kemudian membuka mata dan menjawab dengan suara yang sedikit bergetar,

“Selama kamu siswa atau pegawai Akademi Transenden Pusat, semua pengobatan di klinik sekolah gratis.”

“Benarkah ada keuntungan seperti itu?”

Melihat mata pemuda itu berbinar, dengan wajah yang seolah berkata, “Aku punya sebuah gagasan berani,” dokter sekolah itu buru-buru mengalihkan pembicaraan.

“Baiklah, selama beberapa hari ke depan jangan melakukan olahraga berat. Kamu akan segera pulih sepenuhnya.”

Setelah memberi Zhu Haomiao berbagai nasihat, dokter sekolah itu menatap matanya. Senyum di antara alisnya perlahan menghilang, berganti dengan keseriusan dan ketegasan.

“Selain itu, aku harus mengingatkanmu bahwa masalah di dalam tubuhmu sekarang jauh lebih serius daripada luka luarmu.”

“Hah? Ada apa?”

“Kekurangan gizi parah, pertumbuhan terhambat, dan gangguan endokrin. Jika tidak segera diperbaiki, akibat ringannya adalah kecerdasanmu menurun dan tubuhmu tidak akan pernah bertambah tinggi. Dalam kasus yang lebih berat, nyawamu bisa terancam.”

“…………”

Masalah lain masih bisa diabaikan, tetapi begitu mendengar bahwa dirinya mungkin tidak akan pernah bertambah tinggi, Zhu Haomiao langsung panik.

Ia tidak mau menjadi orang Yordel!

Halaman (2/3)

Halaman (3/3)

“Apakah kamu menderita anoreksia? Atau keluargamu sedang mengalami kesulitan? Mengapa kamu tidak makan?”

Setelah mencuci tangan, dokter sekolah itu kembali duduk di kursi ergonomis, lalu bertanya dengan suara lembut.

Memanfaatkan kesempatan itu, Zhu Haomiao mengenakan pakaian dan celananya, kemudian menggelengkan kepala dengan serius.

Tunjangan yang diberikan sekolah setiap bulan memang tidak banyak, tetapi sebenarnya sudah lebih dari cukup. Ditambah lagi, ia dibebaskan dari uang sekolah dan biaya asrama, sehingga tekanan ekonominya tidak terlalu besar.

Namun, alasan sebenarnya dari kekurangan gizinya tidak mungkin ia ungkapkan. Karena itu, pemuda tersebut hanya menjawab dengan samar,

“Sebenarnya saya makan cukup banyak, hanya saja pencernaan saya kurang baik…”

Mendengar itu, dokter sekolah tersebut sedikit mengernyitkan alisnya yang indah. Ia menatap Zhu Haomiao dalam-dalam, menyadari bahwa pemuda itu sedang menghindari sesuatu, tetapi dengan penuh pengertian tidak memaksanya untuk menjelaskan lebih lanjut.

“Kalau masalahnya adalah penyerapan nutrisi, mulai sekarang datanglah setiap hari untuk menerima infus nutrisi. Aku ada di sini dari pukul sembilan pagi sampai lima sore.”

“Selain itu, kamu harus makan dengan baik. Jangan pilih-pilih makanan…”

“Perbanyak daging, telur, dan susu. Pastikan gizimu seimbang…”

Mendengarkan nasihat yang terus mengalir di telinganya, Zhu Haomiao tahu bahwa perempuan itu hanya menjalankan kebaikan seorang dokter dan akan bersikap penuh perhatian kepada siapa pun. Namun, ia tetap tidak mampu menahan rasa haru yang tumbuh di dalam hatinya.

Sejak tiba di dunia ini, inilah pertama kalinya ia merasakan kepedulian orang lain kepadanya. Zhu Haomiao tersenyum dan mengangguk.

“Saya mengerti. Terima kasih, Bu Guru.”

“Tidak perlu berterima kasih. Pergilah.”

Setelah menyampaikan semua petunjuk medis, dokter sekolah itu kembali mengambil komputer tablet di atas meja. Ia bersandar sedikit ke belakang, berbaring malas di kursi ergonomis seperti seekor kucing yang sedang bermalas-malasan.

Merasakan pesona menggoda yang tanpa sengaja terpancar darinya, dada Zhu Haomiao pun bergejolak. Setelah bertanya pada hati nuraninya sendiri, ia mengangkat sudut bibirnya dengan senyum lega.

Saudara-saudara, ini bukan ketertarikan yang timbul semata-mata karena rupa, lho!

Kitab Hitam adalah saksinya!

“Bu Guru, apakah Anda punya pacar?”

“Hah?”

Pandangan dokter sekolah itu perlahan beralih dari layar tablet. Ia mendorong kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya yang indah. Kedua matanya yang besar dan menawan dipenuhi kebingungan.

Perempuan yang cerdas dan peka itu sudah menangkap maksud tersirat di balik ucapan sang pemuda, sehingga pertanyaan tersebut terasa semakin konyol baginya.

Jangan-jangan otak anak ini memang bermasalah?

Namun, menatap sorot mata pemuda itu yang penuh percaya diri, tulus, jernih, keras kepala… sekaligus bodoh, dokter sekolah tersebut hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa getir.