Bab 162 Melihatnya Tanpa Busana
Su Xin masih sibuk memperbarui cerita dengan fitur suara, sehingga Shen Zui merasa tidak enak untuk mengganggu. Ia pun menggerakkan kursi rodanya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Ketika ia keluar, Su Xin telah selesai memperbarui dan sedang merapikan meja.
Melihat hal itu, Shen Zui berjalan menghampirinya dan berkata, "Biar aku saja yang merapikan meja. Pergilah mandi, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu."
Mendengar itu, Su Xin menatapnya dengan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih."
Shen Zui menggerakkan sudut bibirnya tanpa berkata apa-apa. Ia mengambil alih barang-barang di tangan wanita itu dan mulai merapikannya.
Setelah Su Xin pergi, Shen Zui membereskan berbagai barang di atas meja dan bersiap untuk mematikan komputer.
Di layar komputer, masih terbuka bab yang baru saja diperbarui hari ini.
Mengingat pesan teks yang dikirimkan Xie Jingyan padanya tempo hari, hati Shen Zui tergerak. Tanpa sadar, ia membuka tulisan Su Xin dan mulai membacanya.
Kisah yang ia baca adalah novel terbaru karya Su Xin yang sedang sangat populer. Baru memiliki dua ratus ribu lebih kata, jumlah pembacanya telah mencapai lebih dari satu juta.
Popularitas yang begitu tinggi ini diraih karena Su Xin memasukkan beberapa unsur realistis ke dalam cerita tersebut. Ia menuangkan pengalamannya dari lima tahun lalu ke dalam bentuk tulisan dan meramunya ke dalam alur cerita.
Karena isinya terasa begitu nyata, ditambah tren tema realistis yang sedang digandrungi saat ini, novel tersebut pun menjadi sangat diminati.
Kecepatan membaca Shen Zui selalu sangat cepat. Hanya dalam beberapa menit saja, ia sudah sampai pada bagian memori yang diadaptasi oleh Su Xin.
Saat ia merasa penasaran mengapa deskripsi adegan tersebut terasa begitu familiar, tiba-tiba sebuah jeritan bernada kesakitan terdengar dari dalam kamar mandi.
Mendengar jeritan itu, hati Shen Zui terasa berat. Ia segera melepaskan tetikus dan meluncur dengan kursi rodanya menuju kamar mandi.
"Su Xin, ada apa?"
Tiba di depan pintu kamar mandi, Shen Zui mengetuk pintu dan bertanya dengan suara nyaring.
Su Xin tanpa sengaja membenturkan punggungnya saat hendak keluar dari bathtub.
Mendengar teriakan Shen Zui dari luar, ia menahan rasa sakitnya dan menjawab, "Aku tidak apa-apa. Tadi tidak sengaja membentur luka, tapi sekarang sudah tidak sakit lagi."
Meski begitu, Shen Zui tetap merasa khawatir. Ia kembali mengetuk pintu dan menyuruhnya keluar.
"Keluarlah, biar kulihat. Kalau jahitannya sampai lepas, kita harus pergi ke rumah sakit."
Mendengar perkataan itu, Su Xin mau tidak mau meraih handuk di rak untuk membalut tubuhnya, lalu dengan hati-hati membuka pintu kamar.
Setelah pintu terbuka, Shen Zui melambaikan tangan, mengisyaratkannya untuk mendekat.
"Kemari, biar kulihat luka di punggungmu."
Su Xin mengangguk, lalu melangkah mendekat. Ia menyibakkan rambutnya ke depan dada, memperlihatkan luka di bahu kirinya.
Melihat hal itu, Shen Zui mengulurkan tangan dan menekan dengan lembut di area tempat pin baja dipasang. "Sakit?"
Su Xin menggelengkan kepala. "Tidak sakit."
Mendengar jawabannya, Shen Zui baru bisa bernapas lega. "Kalau tidak sakit, berarti tulang di dalamnya tidak retak. Tunggu sebentar."
Usai berkata demikian, ia mengambil salep pereda bengkak dan nyeri yang diberikan oleh rumah sakit dari dalam lemari, lalu berkata kepadanya, "Aku akan mengoleskan sedikit salep untukmu, kalau tidak, nanti malam akan terasa nyeri."
Su Xin menatapnya dengan penuh rasa terima kasih. Sambil mendekap handuk di dadanya, ia berjongkok secara otomatis di depan kursi roda Shen Zui.
Shen Zui menuangkan sedikit salep ke telapak tangannya, meratakannya, lalu bersiap mengoleskannya ke punggung Su Xin.
Saat ia menunduk, tanpa sadar pandangannya meredup.
Mungkin karena baru saja selesai mandi, wajah mungil Su Xin saat itu tampak berembun, bulu mata lentiknya sedikit menunduk, dan rambut hitam lebatnya yang basah menjuntai di sisi bahunya. Ia tampak begitu penurut dan tenang, cantik bagaikan bunga teratai yang baru keluar dari air.
"Ada apa?"
Melihat pria itu bergeming cukup lama, Su Xin mau tidak mau membuka suara untuk bertanya.
Shen Zui tersadar dari lamunannya dan buru-buru menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa. Nanti kalau tekananku terlalu kuat, beritahu aku ya, biar aku pelan-pelan."
Sambil berkata demikian, ia dengan lembut mengoleskan salep di tangannya pada luka Su Xin.
Gerakan Shen Zui tidak bisa dikatakan sangat mahir, tetapi ia melakukannya dengan sepenuh hati. Su Xin sama sekali tidak merasa tidak nyaman; sebaliknya, area yang diolesi salep oleh pria itu dengan cepat meredakan rasa sakitnya.
Setelah selesai mengoleskan salep, Shen Zui mengisyaratkan kepada Su Xin, "Berbaringlah di tempat tidur, sisanya biar aku yang urus."
Su Xin tahu betul bahwa dirinya tidak boleh banyak bergerak saat ini, jadi ia menatap Shen Zui dengan penuh rasa terima kasih. "Kalau begitu, merepotkanmu."
"Omong kosong apa ini? Bukankah saat kau merawatku dulu, jauh lebih merepotkan?"
Shen Zui tersenyum kecil, lalu berbalik menuju kamar mandi.
Setelah ia pergi, Su Xin buru-buru mengambil satu set piyama dari lemari, bersiap menggantinya sebelum pria itu keluar.
Namun, tepat setelah ia melepas handuknya dan belum sempat mengenakan piyama, Shen Zui tiba-tiba menjulurkan kepalanya dari arah kamar mandi.
"Su Xin, apa kau punya..."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, ia tiba-tiba melihat Su Xin yang berdiri tanpa sehelai benang pun, membuat sekujur tubuhnya langsung membeku.
Su Xin sama sekali tidak menyangka Shen Zui akan muncul pada saat seperti itu. Ia begitu terkejut hingga buru-buru menutupi dadanya dengan piyama yang ada di tangan.
"A-apa?"
"...... Bukan apa-apa."
Dengan susah payah, Shen Zui menarik kembali pandangannya dan menjawab sekenanya untuk menutupi kecanggungan.
"Oh, kalau begitu, bisa... bisakah kau menutup pintunya? Aku mau ganti baju."
Melihat pria itu masih berdiri kaku di ambang pintu, Su Xin mengingatkan dengan nada canggung.
Mendengar itu, Shen Zui baru sadar sepenuhnya. Ia langsung menarik pintu kamar mandi hingga tertutup rapat.
Setelah pintu tertutup dengan baik, Su Xin akhirnya bisa bernapas lega. Dengan kecepatan kilat, ia segera mengenakan pakaiannya.
Shen Zui membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk beres-beres di dalam kamar mandi sebelum akhirnya keluar.
Saat ia keluar, Su Xin sudah berbaring di atas tempat tidur untuk beristirahat.
Mungkin insiden yang baru saja terjadi membuatnya merasa agak canggung.
Sesampainya di atas ranjang, ia tidak hanya membelakangi Shen Zui, tetapi juga mematikan lampu di sisi tempat tidurnya.
Shen Zui tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas dan tidak tahu apakah wanita itu benar-benar sudah tertidur, tetapi ia merasa tidak enak untuk mengajaknya berbicara pada saat seperti itu. Ia lantas berbaring di tempat tidur dan mematikan lampu di sisinya.
Pandangan langsung berubah menjadi gelap gulita, dan seluruh ruangan menjadi sunyi senyap.
Shen Zui berbaring di atas ranjang sejenak. Merasa dadanya sedikit sesak, ia membalikkan badan dan melirik ke arah Su Xin.
Su Xin masih mempertahankan posisinya semula, berbaring di atas ranjang tanpa bergerak.
Dibandingkan tadi, kali ini ia menutupi dirinya dengan sangat rapat, bahkan lehernya hampir tidak kelihatan.
Kendati demikian, setiap kali melihat wanita itu, bayangan adegan yang ia saksikan tadi langsung terlintas di benaknya.
Menyadari bahwa malam ini ia tidak akan bisa tidur dengan tenang, Shen Zui menghela napas dalam-dalam di dalam hati. Ia akhirnya bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar.
Malam itu, ia tidur di sofa ruang tamu.
Keesokan paginya, Bibi Tian bangun untuk menyiapkan sarapan dan terkejut bukan kepalang saat melihat Shen Zui tidur di ruang tamu.
"Tuan Shen, kenapa Anda tidur di ruang tamu?"
Shen Zui membuka matanya, memijat pelipisnya yang berdenyut, lalu menjawab, "Tidak apa-apa. Tadi malam aku bekerja dan takut membangunkan Su Xin, jadi aku tidur di sini saja."
Nyonya Tua juga sudah bangun pada saat itu. Mendengar alasannya, beliau mendengus dingin. "Kau begitu sibuk? Bukannya karena kau takut tidak bisa menahan diri makanya kabur ke sini?"
"......"
Shen Zui merasa sangat canggung mendengar pertanyaan itu, sehingga ia buru-buru bangkit dan menuju ke kamar mandi.
Ketika ia keluar lagi, Su Xin juga sudah bangun dan sedang dibujuk oleh Nyonya Tua.
"Xin Xin, lukamu belum pulih sepenuhnya. Bagaimana kalau hari ini kita tidak usah pergi bekerja? Kalau perlu, resign saja, biarkan Shen Zui yang menafkahimu."
Su Xin bukan tipe wanita yang suka menggantungkan hidup pada pria. Mendengar itu, ia tersenyum dan menjawab, "Nenek, aku sangat menyukai pekerjaanku ini. Lagipula, seorang wanita harus memiliki kariernya sendiri meskipun sudah menikah, kalau tidak, cepat atau lambat kita akan terisolasi dari masyarakat."
"Tapi kalau kau begitu memforsir diri, bagaimana kalian bisa memiliki bayi bersama Abang Zui kelak?"
Mendengar jawabannya, Nyonya Tua kembali bergumam sambil mengerutkan kening.