Bab 14: Membantunya Pijat di Malam Hari
Tentu saja Su Xin tidak keberatan, lagipula Nyonya Tua Shen adalah penolongnya, ia malah sangat senang bisa menyambut kedatangannya.
“Nyonya, saya sangat senang Anda mau datang. Hanya saja rumah ini agak berantakan, saya takut nanti Anda menertawakan saya,” ujar Su Xin sambil mengambil kunci dan membuka pintu, mempersilakan Nyonya Tua masuk, seraya tersipu malu.
Melihat Su Xin masih saja memanggilnya “Nyonya”, Nyonya Tua Shen berpura-pura mengeluh, “Kamu ini, semuanya baik, tapi terlalu sopan. Sudah menikah dengan Shen Zui, masih saja memanggilku Nyonya?”
Diingatkan begitu, pipi Su Xin langsung memerah. Ia buru-buru memanggil, “Nenek.”
Panggilan nenek itu langsung membuat hati Nyonya Tua Shen berbunga-bunga. Ia pun segera mengeluarkan angpao tebal yang sudah disiapkannya, dan menyelipkannya ke pelukan Su Xin.
“Ini untukmu. Tidak banyak, hanya sedikit tanda kasih, terimalah ya.”
Angpao itu cukup tebal, kira-kira isinya lebih dari sepuluh juta. Su Xin tidak ingin membuat Nyonya Tua mengeluarkan uang sebanyak itu, ia pun mengembalikan angpao itu.
“Nenek, uang ini terlalu banyak, saya tidak bisa menerimanya.”
“Nenek punya uang pensiun, cukup untuk hidup. Anggap saja ini bantuan untuk kalian berdua. Kalau nanti kekurangan uang, bilang saja sama nenek.”
Sambil berkata demikian, Nyonya Tua Shen kembali menyelipkan uang itu ke pelukan Su Xin.
Keluarga Shen memang tidak kekurangan uang. Kalau bukan karena mempertimbangkan status Shen Zui saat ini, ia bahkan ingin langsung memberikan kartu berisi satu miliar.
Su Xin masih ingin menolak, namun Shen Zui tiba-tiba berkata, “Karena ini pemberian nenek, terimalah.”
Mendengar itu, barulah Su Xin menerima angpao itu. Ia kembali berbasa-basi beberapa kata pada Nyonya Tua, lalu membantu lelaki di depan pintu membawa masuk barang-barang.
Saat Su Xin sibuk, Nyonya Tua Shen mengamati tata letak ruangan, memperhatikan bahwa Shen Zui dan Su Xin tidur di kamar terpisah. Ia pun bertanya, “Kalian tidak tidur sekamar?”
Shen Zui melirik, lalu balik bertanya, “Memangnya kami harus tidur sekamar?”
“Ya tentu saja! Kalian suami istri, masa masih tidur terpisah?”
Shen Zui malas berdebat, ia pun memutar kursi rodanya dan masuk ke kamar.
Setelah Su Xin mengatur koper di ruang tamu, ia melihat Nyonya Tua duduk sendiri dan bertanya, “Nenek, Shen Zui ke mana?”
“Oh, dia bilang agak lelah, jadi masuk kamar duluan,” jawab Nyonya Tua sambil tersenyum dan melambaikan tangan, memanggil Su Xin mendekat.
Setelah duduk di sampingnya, Nyonya Tua Shen menggenggam tangan Su Xin, lalu berpesan, “Xin Xin, meski Shen Zui lumpuh, bukan berarti akan seperti ini selamanya. Jika kamu merawatnya dengan sungguh-sungguh, masih ada kemungkinan dia bisa berdiri lagi.”
Su Xin tidak menyangka akan mendengar hal itu. Matanya langsung berbinar.
“Benarkah? Tapi Shen Zui bilang, tulang punggungnya cedera, seumur hidup...”
“Itu dia tidak mau merepotkanmu. Kondisinya, aku sendiri tahu.” Sambil bicara, Nyonya Tua Shen mengeluarkan laporan pemeriksaan dari saku bajunya dan menyodorkannya pada Su Xin.
“Lihat, ini hasil pemeriksaannya. Kata dokter, selama rehabilitasi berjalan baik, kakinya masih bisa pulih seperti sedia kala.”
Su Xin menerima laporan itu dan membacanya dengan saksama. Ternyata di situ tertulis ada lebih dari tujuh puluh persen kemungkinan sembuh. Ia pun diam-diam menghela napas lega.
Meskipun ia tidak mempermasalahkan kondisi Shen Zui yang lumpuh, tapi jika Shen Zui bisa berdiri lagi, ia tentu sangat senang.
“Jadi, apa yang harus saya lakukan untuk membantunya?” tanya Su Xin dengan serius sambil menyimpan laporan itu.
Melihat reaksi Su Xin, Nyonya Tua Shen tersenyum puas, “Anak baik, benar dugaanku memilihmu.” Ia lalu menyerahkan dokumen lain yang ia bawa.
“Ini materi rehabilitasi yang sudah kusiapkan untuknya. Bacalah, luangkan waktu untuk membantunya.”
Su Xin menerima berkas itu dan membukanya. Seketika wajahnya yang putih merona merah.
Dalam materi itu, ada anjuran agar pasien melakukan pijatan kaki dan pinggang minimal seratus kali sehari. Untuk memijat paha Shen Zui, ia masih bisa menerima, tapi bagian pinggang...
“Ada apa, Xin Xin? Apakah kamu keberatan?” tanya Nyonya Tua Shen melihat Su Xin menunduk diam.
“Tidak... Nanti saya bicarakan dengan Shen Zui, kapan bisa mulai.”
Tak ingin membuat Nyonya Tua khawatir, Su Xin akhirnya tidak mengutarakan kegundahannya.
“Jangan bilang padanya. Shen Zui itu gengsiannya tinggi. Kalau kamu tanyakan, pasti dia menolak,” ujar Nyonya Tua cepat-cepat mengingatkan.
“Lalu... bagaimana?” tanya Su Xin sedikit cemas.
Soal rehabilitasi, tentu harus ada kerja sama dari pasien. Kalau Shen Zui tidak mau, usahanya akan sia-sia.
“Tunggulah sampai dia tertidur. Setelah itu, kamu diam-diam pijat otot-ototnya. Kalau sudah terasa manfaatnya, dia pasti akan menerima,” bisik Nyonya Tua Shen pelan di telinga Su Xin.
Ini memang bisa jadi solusi. Namun...
Mengingat wajah waspada Shen Zui, Su Xin tetap merasa ragu.
“Caranya memang bisa, hanya saja... saya takut kalau dia terbangun tengah malam dan melihat saya di kamarnya, dia akan marah.”
Siapa pun pasti kaget jika tiba-tiba melihat seseorang di samping tempat tidurnya malam-malam, apalagi Shen Zui yang sensitif. Kalau sampai ia melihat Su Xin menyelinap masuk dan memegang tubuhnya, apa yang akan dipikirkannya? Jangan-jangan ia dikira perempuan mesum.
“Jangan takut, dia tidak merasakan apa-apa di bagian bawah. Mau kamu sentuh seluruh tubuhnya pun, dia tidak akan sadar,” ujar Nyonya Tua sambil menepuk punggung tangan Su Xin menenangkannya.
Mendengar itu, Su Xin tak bisa menahan batuk kecil karena malu, wajahnya semakin memerah.
Saat itu, terdengar suara pintu kamar Shen Zui terbuka. Melihat itu, Nyonya Tua buru-buru membereskan berkas-berkas tadi dan menyelipkannya ke saku Su Xin.
“Xin Xin, Shen Zui itu gengsinya tinggi, tidak suka merepotkan orang. Jangan sampai dia tahu tentang ini,” pesan Nyonya Tua dengan sungguh-sungguh.
Su Xin menoleh sekilas ke kamar Shen Zui, lalu mengangguk pelan, “Ya, saya mengerti.”
“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Shen Zui membuka pintu, melihat mereka berdua seperti menyimpan rahasia.
Nyonya Tua segera berdiri dari sofa, berpamitan, “Tidak apa-apa, cuma mengobrol ringan. Sudah malam, nenek pulang dulu ya.”
Sembari berkata, ia memberi isyarat semangat pada Su Xin, lalu pergi bersama pria paruh baya yang bersamanya.
Su Xin sebenarnya ingin menahan Nyonya Tua untuk makan bersama, tapi ia sudah buru-buru pergi, jadi ia tidak bisa memaksa.
Setelah Nyonya Tua pergi, Su Xin membantu Shen Zui membereskan koper, lalu menyiapkan makan siang dan menemaninya makan. Setelah itu, ia membawa berkas-berkas tadi ke kamar untuk dipelajari.
Shen Zui mengira Su Xin sedang belajar, jadi ia tidak mengganggu, menutup pintu dan mulai mengurus urusan kantor.
Keduanya menjalani hari dengan tenang hingga malam tiba. Hingga akhirnya, Su Xin merasa sangat lapar dan keluar untuk memasak.
Shen Zui juga seharian belum makan apa-apa. Mendengar suara dari dapur, ia menutup laptop, lalu keluar dengan kursi rodanya.
Melihat Shen Zui keluar, Su Xin berpikir sejenak lalu berkata, “Tuan Shen, nanti malam mungkin saya akan masuk ke kamar Anda untuk mengambil sesuatu. Bisakah... Anda tidak mengunci pintu?”