Bab 55: Tempat yang Pernah Membuatnya Tak Ingin Mengenangnya Kembali
Pada saat itu, Su Xin telah selesai berbicara dengan Jiang Ning dan bersiap mengendarai mobil menuju reruntuhan di pinggiran barat kota. Ia melihat Shen Zui sedang mengirim pesan, lalu bertanya santai, "Sedang chat dengan siapa?"
Shen Zui dengan cepat menyimpan ponselnya dan menjawab datar, "Bukan apa-apa, tadi hanya memeriksa kondisi medan di reruntuhan pinggiran barat."
Su Xin percaya begitu saja dan buru-buru berkata, "Oh, kamu tidak perlu lihat, aku sudah sangat paham tempat itu."
Shen Zui menatapnya dengan heran, "Tempat itu kan sepi sekali, kenapa kamu bisa akrab dengan daerah seperti itu?"
Alasan Su Xin mengenal tempat itu adalah karena dulu, di sanalah ia pernah tertipu oleh Su Yuncheng dan dibawa ke sebuah klub malam. Lima tahun lalu, tempat itu tiba-tiba terbakar hebat dan semuanya habis dilalap api. Sejak saat itu, tempat itu benar-benar terbengkalai, menjadi reruntuhan yang tak pernah didatangi orang lagi.
"Jangan tanya lagi, pokoknya aku tahu tempat itu."
Mungkin karena kenangan lama yang terlalu menyakitkan, Su Xin tidak ingin menjelaskan lebih banyak pada Shen Zui. Melihat itu, Shen Zui pun tidak bertanya lagi. Namun, ia melirik Su Xin dengan tatapan rumit. Reruntuhan itu juga bagian dari ingatannya, jadi ia pun sangat mengenal tempat itu. Ia hanya penasaran, bagaimana seorang perempuan seperti Su Xin bisa mengenal tempat seperti itu? Mungkinkah ia pernah ke sana sebelumnya?
...
Setengah jam kemudian, Su Xin mengarahkan mobilnya ke dekat reruntuhan klub malam sesuai titik yang ditentukan lawan. Malam hari membuat reruntuhan itu tampak lebih menyeramkan, bahkan dari kejauhan Su Xin sudah merasakan tekanan tak kasat mata yang menghampirinya. Meskipun klub malam di depannya sudah hangus tak berbentuk, ketika ia melihat pintu besar keemasan yang rusak itu, tubuhnya refleks bergetar.
Shen Zui melihatnya dan segera menggenggam tangan kecil Su Xin.
"Kamu jangan masuk, biar aku saja yang menemani Jiang Ning."
Karena Jiang Ning adalah sahabatnya, Su Xin tentu tak bisa membiarkan Shen Zui masuk sendirian.
"Tidak, aku tidak apa-apa, kita masuk bersama saja."
Ia menarik napas dalam-dalam, melepaskan tangan Shen Zui, lalu cepat turun dari mobil. Shen Zui pun akhirnya membuka pintu penumpang, lalu dengan bantuan Su Xin duduk di kursi roda.
Jiang Ning turun lebih dulu dan menelepon Qiang Zi, menanyakan di mana mereka menahan orangnya. Di pihak Tang Wansheng, semua sudah siap, tinggal menunggu Jiang Ning datang.
Begitu Jiang Ning benar-benar tiba, pihak lawan langsung memerintahkannya naik ke aula lantai dua, katanya Tang Wansheng dikurung di sana. Mendengar itu, Jiang Ning spontan menoleh ke arah Shen Zui yang duduk di kursi roda.
"Xin, mereka bilang Tang Wansheng ada di lantai dua. Aku lihat Shen Zui agak sulit bergerak, bagaimana kalau dia menunggu di sini saja?"
Sebenarnya, Su Xin juga berencana demikian, tapi sebelum ia sempat menjawab, Shen Zui sudah berkata tegas, "Kalau aku sudah datang ke sini, tak ada niat untuk bersembunyi di belakang dan membiarkan kalian berdua yang maju ke depan."
Setelah berkata begitu, ia mengulurkan tangan kepada Jiang Ning, meminta ponsel. Jiang Ning ragu-ragu menyerahkan ponselnya, lalu Shen Zui mengambilnya dan berbicara melalui kamera, "Bawa orangnya ke lantai satu. Setelah kami pastikan, uang pasti akan kami serahkan."
Pihak lawan tak menyangka Jiang Ning membawa seorang pria, sejenak tertegun.
"Kamu siapa? Kenapa kami harus dengar sama kamu?" Qiang Zi membentak dengan nada meremehkan.
Shen Zui tetap tenang, "Karena dua ratus juta yang kalian minta, ada di tangan kami. Kalian tentu tak ingin kehilangan uang sebanyak itu hanya karena masalah kecil seperti ini, bukan?"
Mendengar itu, Qiang Zi pun menoleh pada Tang Wansheng dengan ragu. Tang Wansheng juga tak menduga Jiang Ning membawa orang yang sulit dihadapi seperti Shen Zui. Tapi demi uang, ia tetap mengangguk pada Qiang Zi, menyuruhnya mengikuti permintaan mereka.
"Baik, kami akan bawa Tang Wansheng ke bawah, tapi hati-hati, kalau kalian berani macam-macam, aku takkan biarkan kalian lolos!"
Setelah mendapat persetujuan Tang Wansheng, Qiang Zi berpura-pura galak mengancam mereka. Shen Zui hanya tersenyum tipis, sinis, "Tenang saja, selama kalian tidak berbuat curang, kami pun tak akan menyulitkan kalian."
Mendengar suara Shen Zui yang tegas, Qiang Zi merasa sedikit gentar. Selesai menutup telepon, ia tak bisa menahan diri untuk bertanya pada Tang Wansheng, "Bang Wansheng, kita benar-benar harus turun? Aku merasa ada yang aneh dengan laki-laki di telepon tadi."
Tang Wansheng hanya mendelik tajam, mendengus, "Jiang Ning itu perempuannya lingkaran kecil, mana mungkin kenal orang hebat? Jangan pikirkan macam-macam, setelah dapat uang, kau pasti dapat bagianmu."
Mendengar soal uang, Qiang Zi langsung bersemangat, "Baik, kalau Bang Wansheng sudah bilang begitu, aku tenang."
Setelah itu, ia memerintahkan dua anak buahnya untuk mendorong Tang Wansheng yang sudah diikat erat ke bawah. Tak lama kemudian, mereka sampai di aula lantai satu dan bertemu Su Xin serta yang lain.
Begitu melihat Tang Wansheng yang terikat, Jiang Ning refleks ingin berlari ke arahnya. Su Xin buru-buru menariknya, "Ning, tenang dulu."
Su Xin menarik Jiang Ning ke belakang tubuhnya, lalu menatap Qiang Zi, "Kamu bos rentenir itu?"
Qiang Zi melotot, berusaha tampak garang, "Banyak tanya, uangnya mana? Sudah siap belum?"
"Uangnya sudah kami siapkan. Tapi sudah malam, kami tak bisa ambil tunai. Uang ada di rekening Ning, bisa ditransfer ke kalian?"
Su Xin sengaja bertanya seperti itu.
Melihat sikap Su Xin yang tegas, mata Qiang Zi langsung berbinar, bahkan Tang Wansheng pun diam-diam bernapas lega.
"Tentu, aku kasih nomor rekening, kau langsung transfer!"
Qiang Zi pun segera ingin mengambil ponsel untuk mengirim nomor rekening ke Jiang Ning.
Namun Su Xin segera menahan, "Jangan terburu-buru. Kami bisa beri uangnya, tapi bagaimana kalian bisa jamin, utang Tang Wansheng benar-benar lunas?"
Qiang Zi sebenarnya cuma suruhan, urusan rentenir bukan keahliannya. Ditanya seperti itu, ia asal bicara, "Itu mudah, aku tulis surat penerimaan, selesai urusan."
Su Xin pun tersenyum, "Surat penerimaan? Seperti apa? Tulis tangan? Mana aku tahu kamu benar-benar bosnya? Kalau setelah terima uang kalian kabur, uang kami hilang sia-sia!"
Qiang Zi tak menyangka Su Xin begitu cerdas, ia jadi tak bisa menjawab. Baru setelah Tang Wansheng melotot padanya, ia berpura-pura garang sambil mengacungkan pisau, "Perempuan bawel, kalau banyak bicara, percaya atau tidak, aku potong tangannya!"
Qiang Zi menekan lengan Tang Wansheng ke atas meja, berpura-pura ingin melukai.
Jiang Ning yang melihat itu langsung panik, "Jangan sakiti dia, aku transfer sekarang juga!"
Jiang Ning pun mengeluarkan ponsel, siap mentransfer uang.
Shen Zui segera berkata, "Jiang Ning, jangan transfer uang pada dia."
Jiang Ning tertegun, "Shen... Shen Zui, maksudmu apa?"
Shen Zui tidak menjawab, tapi dengan suara dingin bertanya pada Qiang Zi dan yang lain, "Aku kenal beberapa perusahaan rentenir di Kota Awan, tak pernah ada yang tidak profesional seperti kalian. Sebenarnya kalian siapa? Benarkah utang Tang Wansheng ini dari rentenir?"
Ucapannya langsung membuat Qiang Zi dan Tang Wansheng merasa gelisah.
"Kau... kau bicara apa? Kalau bukan utang rentenir, utang dari mana lagi?" Qiang Zi berusaha menutupi kepanikan.
"Itu hanya kalian yang tahu. Tapi aku beritahu, aku sudah lapor polisi. Mereka sebentar lagi tiba. Kalau kalian benar rentenir, tak masalah. Tapi kalau tidak, itu pemerasan dan kalian bisa dipenjara!"
Shen Zui tersenyum dingin sambil mendorong kursi rodanya mendekati mereka. Wibawanya begitu kuat, semakin ia mendekat, Qiang Zi dan yang lain justru mundur tak sadar.
Akhirnya, mereka terdesak, tak punya tempat untuk mundur lagi.