Bab 78: Rumah Berhasil Dibongkar
Sambil mereka berbincang, keduanya sudah meninggalkan rumah sakit.
Melihat waktu masih pagi, Su Xin ingin membicarakan dengan Shen Zui tentang rencananya membeli buah di supermarket terdekat. Ia berniat membawakan buah itu nanti malam saat mampir ke rumah Ye Cheng untuk mandi.
Namun, sebelum ia sempat mengutarakan maksudnya, ponsel dalam sakunya sudah berdering.
Ternyata sebuah nomor asing menelponnya.
Su Xin belum pernah melihat nomor itu, tapi deretan angka delapan di ujungnya membuatnya yakin ini telepon dari perusahaan besar yang resmi, jadi ia pun mengangkatnya.
“Halo, apa ini Nona Su? Saya adalah konsultan pembebasan lahan dari Perusahaan Qingtian. Apakah Anda punya waktu sekarang? Jika ada, saya ingin mengatur pertemuan dengan Anda untuk membicarakan mengenai kompensasi pembebasan lahan di desa perkotaan kita baru-baru ini.”
Suara lembut seorang wanita dari seberang telepon berbicara sopan pada Su Xin.
Mendengar itu, Su Xin seolah membeku di tempat.
“Anda dari Perusahaan Qingtian? Tapi setahu saya, bukankah pembebasan lahan di wilayah kami baru akan dilakukan setelah Tahun Baru Imlek? Kok sekarang malah sudah...”
“Memang benar, rencana awal perusahaan adalah membebaskan lahan setelah tahun baru, namun kini ada kebijakan baru dari atasan. Mereka menilai pembebasan lahan sekarang lebih menguntungkan bagi perusahaan. Nona Su, apakah hari ini Anda ada waktu? Jika ada, mari atur waktu bertemu agar kita bisa membicarakan soal pembebasan lahan ini dengan baik.”
Sebelum Su Xin selesai bicara, wanita di seberang menjelaskan dengan ramah.
Mendengar penjelasan itu, Su Xin merasa lega.
Sejujurnya, rumah yang ia miliki seperti bom waktu, selama belum dibebaskan, keluarga pamannya bisa saja terus-menerus mengusiknya.
Jadi, bila pembebasan lahan bisa dilakukan lebih awal dan kompensasi bisa segera diterima, itu akan mengurangi kekhawatirannya.
Namun, urusan sebesar ini tak bisa langsung disepakati begitu saja, ia perlu melihat-lihat dulu dan mempertimbangkan bagaimana sikap para tetangga di sekitarnya.
“Aku tidak bisa pagi ini. Bagaimana kalau siang? Jam berapa kalian mulai kerja? Aku bisa mampir sebentar.”
Untuk lebih aman, Su Xin pun mengulur waktu pertemuan.
Melihat hal itu, Shen Zui buru-buru menasihati, “Su Xin, lebih baik segera tandatangani saja. Kalau kabar pembebasan ini bocor dan pamanu tahu, mereka pasti akan mempersulitmu.”
Mendengar saran Shen Zui, Su Xin merasa masuk akal juga.
Sebenarnya, untuk urusan pembebasan lahan seperti ini sudah ada ketentuannya, semua berdasarkan luas bangunan, dan sekarang sudah tidak zamannya lagi orang mempersulit pembebasan lahan. Kalaupun ada perbedaan, itu paling hanya selisih sepuluh atau dua puluh juta.
Namun, jika demi sepuluh atau dua puluh juta itu ia harus kembali berseteru dengan keluarga pamannya, energi yang dikeluarkan saja sudah sangat melelahkan.
Jadi, saran Shen Zui memang ada benarnya.
Segera menandatangani dan menerima kompensasi, saat keluarga pamannya tahu pun semuanya sudah terlambat.
“Baiklah, kalian tentukan saja tempatnya. Aku akan membawa dokumen dan menemui kalian.”
Setelah berpikir matang, Su Xin mengangguk setuju.
“Baik, kalau begitu kita bertemu di toko minuman teh Tian Tian dekat desa perkotaan, ya?”
Agar Su Xin lebih mudah menandatangani, pihak perusahaan sengaja memilih lokasi yang dekat.
Melihat pihak perusahaan cukup perhatian, Su Xin pun merasa simpatinya bertambah.
“Setuju. Satu jam lagi, aku akan ke toko teh Tian Tian.”
Setelah berkata demikian, ia menutup telepon dan segera pulang bersama Shen Zui.
Setengah jam kemudian, Su Xin sudah kembali ke rumah, mengambil sertifikat rumah, kartu keluarga, serta KTP miliknya dan neneknya, lalu mendorong kursi roda Shen Zui menuju toko minuman teh.
Yang menemui Su Xin adalah dua pegawai bagian pembebasan lahan dari Perusahaan Qingtian. Mereka tidak mengenali Shen Zui, jadi tidak terlalu memperhatikan pria di kursi roda itu.
Keduanya mendapat telepon dari Ye Cheng, yang meminta mereka untuk memastikan kontrak pembebasan lahan Su Xin ditandatangani hari itu juga, maka pertemuan pun diatur dengan cepat.
Setelah saling bertukar sapa, keempatnya segera mulai negosiasi resmi.
Dua pegawai Perusahaan Qingtian itu mengeluarkan gambar denah luas tanah dan bangunan rumah Su Xin, memintanya untuk memeriksa.
Su Xin sudah pernah mengukur sendiri rumahnya, jadi ia tahu benar ukuran dan spesifikasinya. Melihat ada sedikit tambahan di dokumen, ia pun langsung menyetujui.
Setelah urusan luas selesai, berikutnya adalah soal kompensasi.
Karena Ye Cheng sudah berpesan, untuk rumah Su Xin cukup diberikan kompensasi sesuai harga normal, tidak perlu dilebihkan, sebab kalau terlalu besar nanti Su Xin bisa curiga. Maka mereka memperlihatkan jumlah kompensasi yang sudah dihitung pada Su Xin.
Su Xin menghitung dengan ponsel sampai tiga kali, lalu meminta Shen Zui menghitung ulang sekali lagi. Setelah yakin tidak ada masalah, ia pun menandatangani kontrak.
Bagi Su Xin, yang terpenting bukan jumlah kompensasinya, melainkan bisa segera menerima uang tersebut. Hanya jika uang sudah benar-benar di tangan, ia baru merasa menjadi pemenang sesungguhnya.
Semuanya berjalan lancar, kedua pegawai perusahaan pun pergi dengan membawa kontrak, dan berjanji paling lambat besok pagi uang kompensasi akan otomatis masuk ke rekening Su Xin.
Untuk rumah Su Xin, Perusahaan Qingtian membayar total tiga juta delapan ratus lima puluh empat ribu yuan. Jumlah ini bagi Su Xin sangatlah besar. Saat keluar dari toko teh, ia memandangi deretan angka di kontrak pembebasan lahan, nyaris tak percaya dengan nominalnya.
“Shen Zui, kamu masih bilang tak ada keajaiban yang terjadi pada kita? Lihat, bukankah ini keajaiban?”
Sambil berjalan, Su Xin menghitung bersama Shen Zui, “Baru saja menikah denganmu, aku jadi model dan dapat sepuluh juta, perusahaan juga memberi bonus sepuluh juta, lalu bukuku laku dan dapat dua ratus juta dari penjualan hak cipta, sekarang rumah ini pun laku dan aku dapat tiga juta delapan ratus lebih. Total semuanya enam juta! Enam juta, lho! Seumur hidup aku tak pernah menyangka akan punya uang sebanyak ini. Kamu benar-benar pembawa keberuntungan untukku!”
Shen Zui hanya tersenyum tipis mendengarnya, lalu merendah, “Itu semua hasil jerih payahmu sendiri, bukan karena aku.”
Baik honor sebagai model, royalti buku, maupun kompensasi pembebasan lahan, semuanya memang hak Su Xin sendiri. Kecuali bonus sepuluh juta dari Xie Jingyan, Shen Zui sebenarnya tak berbuat banyak untuk Su Xin.
“Bukan begitu. Sebelum bertemu kamu, tak pernah ada satupun hal baik terjadi padaku. Pokoknya aku tak peduli, kamu pembawa keberuntunganku. Selama kamu di sisiku, rezekiku pasti lancar.”
Karena tahu Shen Zui sedang merendah, Su Xin pun menegaskan dengan mantap.
Shen Zui tak ingin berdebat soal itu, lalu mengganti topik, “Rumahmu akan dibebaskan bulan depan, sudah tahu mau tinggal di mana?”
“Sudah, kamu kan pernah bilang ada rumah temanmu yang mau dijual cepat? Kita bisa lihat sekarang.”
Mendengar pertanyaan itu, Su Xin langsung mengusulkan.
Mendengar itu, wajah Shen Zui berubah serius.
Rumah yang ia maksud sebelumnya sudah dialihkan ke nama Xie Jingyan. Waktu itu Su Xin menolak, jadi ia terpaksa melakukan itu.
Sekarang tiba-tiba Su Xin ingin membeli rumah itu lagi, dari mana ia harus mencarikan? Masa harus meminta Xie Jingyan mengalihkan kembali kepemilikan rumah itu?