Bab Sebelas: Mencari Masalah
Qian Yunwei, Chen Lili, dan Li Xiumei beserta seluruh siswa di kelas benar-benar terperangah oleh ucapan Hu Xiaoyi. Untuk sesaat, Li Xiumei yang berdiri di depan kelas bahkan tak tahu harus berkata apa.
Sepanjang pagi, pikiran para siswa di kelas itu melayang entah ke mana selama pelajaran berlangsung. Menjelang siang saat jam pulang, hampir setengah sekolah sudah mendengar kabar bahwa di Kelas Super telah datang seorang bernama Hu Xiaoyi, yang dulu sempat keluar sekolah saat kelas satu. Kini, ia kembali dan langsung menjadi ketua pertama dalam sejarah Kelas Super.
…
“Bro Long! Sudah dengar belum, anak yang dua tahun lalu sering kamu kerjai itu balik lagi. Sialnya, dia malah masuk Kelas Super! Sekarang dia menyebar kabar, katanya dia jadi ketua di Kelas Super! Ini benar-benar seperti menginjak harga dirimu, Bro Long!”
Di dalam toilet, seorang siswa dengan wajah licik menggigit rokok, berbicara pada siswa lain yang bertubuh tinggi besar.
“Apa? Serius?”
Orang yang dipanggil Bro Long itu adalah Chen Long, penguasa yang ditakuti semua orang di SMA Shengying. Sejak kelas satu, posisinya sudah setara dengan empat jagoan terbesar di sekolah itu, dan ia menempati posisi keempat.
Kondisi keluarganya sangat baik, ayahnya adalah pemilik perusahaan pengawal di kota itu, bahkan dikabarkan ia punya relasi di jalur hitam dan putih. Tak heran, hampir tak ada yang berani menantangnya di SMA Shengying.
Chen Long inilah yang dulu merebut cinta pertama Hu Xiaoyi, Jiang Ruoyu, dan kerap mengerjai Hu Xiaoyi hingga akhirnya Hu Xiaoyi terpaksa keluar dari Shengying.
Siswa yang merokok itu adalah Wu Yifan, tangan kanan Chen Long.
“Aku serius! Sudah ramai di forum sekolah! Nih, lihat sendiri!” sambil berkata begitu, ia mengeluarkan ponsel dan menunjukkannya ke hadapan Chen Long.
“Sial! Anak itu benar-benar berani! Dulu sudah aku peringatkan, jangan sampai aku ketemu dia lagi, kalau ketemu pasti kubuat babak belur. Tapi dia malah kembali setelah dua tahun! Sudah lupa rasa sakit rupanya!”
“Benar-benar tidak menganggapmu apa-apa!” Wu Yifan menambahi dengan nada memanas-manasi.
Chen Long mengelus rantai emas besar di lehernya, lalu menendang Wu Yifan.
“Ayo, sekarang pas jam makan siang, kita datangi dia!”
“Siap!” Wu Yifan menepuk-nepuk celananya yang terkena debu akibat tendangan itu dengan wajah penuh semangat.
…
Setelah perkenalan diri di pagi hari, Hu Xiaoyi langsung membangun sedikit wibawa di kelas. Setidaknya, semua orang jadi tahu betapa beraninya dia, sehingga ia pun mendapat beberapa teman.
“Bos, perkenalanmu tadi benar-benar keren banget! Luar biasa!” Wang Yu, siswa paling buncit di kelas, berjalan bersama Hu Xiaoyi menuju kantin.
“Gue keren, kan?”
“Keren banget! Keren parah!” Wang Yu mengacungkan jempol dengan ekspresi serius.
Dalam hati Hu Xiaoyi merasa sangat puas.
Benar-benar beda rasanya! Setelah dua tahun, aku akan membuat kalian semua terperangah!
“Kamu nggak tahu ya, tadi para cowok di kelas hampir semua iri sama kamu!”
“Iri? Maksudnya apa?” tanya Hu Xiaoyi bingung.
“Kamu nggak lihat tatapan para cewek di kelas? Sekarang sudah ada yang bilang kamu mirip Hao Nan! Apalagi Qian Yunwei yang duduk di sebelahmu, kamu nggak tahu waktu dia menatapmu, para cowok di kelas pasti pada benci sama kamu!”
Wang Yu menelan ludah, lalu melanjutkan, “Kamu tahu nggak, enam puluh persen cowok di sekolah ini naksir Qian Yunwei, sementara empat puluh persen sisanya bahkan nggak berani bermimpi!”
Hu Xiaoyi berhenti berjalan. “Maksudnya gimana?”
Wang Yu menggaruk kepala sambil tersenyum polos, “Ya... pokoknya nggak berani mimpi, terlalu jauh jaraknya. Qian Yunwei itu siapa, cantik banget, terus anak perempuan Qian Guoli! Kekuatan Grup Qian itu sudah seperti penguasa seluruh provinsi!”
“Kalau kamu, masuk ke yang enam puluh persen atau empat puluh persen?”
“Aku... aku nggak masuk dua-duanya, cuma kadang-kadang aja kepikiran, kalau lagi sepi baru kepikiran!”
Hu Xiaoyi melirik tangan kanan Wang Yu yang bergetar, lalu paham maksudnya.
Walau Wang Yu ranking paling bawah di Kelas Super, di kelas biasa dia bisa jadi yang terbaik. Kelihatannya polos, tapi diam-diam hatinya lumayan nakal juga. Bagus, mirip aku waktu dulu!
Tapi, katanya Qian Yunwei menatapku? Jangan-jangan salah orang, bukannya dia paling nggak suka sama aku, sehari-hari melirik pun enggak, masa sekarang...
Sudahlah, nggak usah dipikir, yang penting sekarang makan dulu.
Mereka pun melangkah masuk ke kantin.
Sistem: Perhatian tuan rumah! Terdeteksi energi jahat di sekitar!
Saat mengantre makanan, Hu Xiaoyi tiba-tiba mendengar peringatan dari sistem, ia langsung celingak-celinguk.
Masa di kantin ada energi jahat? Jangan-jangan ada hantu kelaparan? Hu Xiaoyi menertawakan pikirannya sendiri.
Sistem: Energi jahat sudah hilang!
Hu Xiaoyi: Sistem, kamu yakin? Kok tadi ada, sekarang nggak ada?
Sistem: Semakin dekat dengan hantu, energi jahat makin terasa, sekarang mungkin sudah menjauh. Tapi yang jelas, di sekolah ini pasti ada hantu.
Bagus juga, bisa sambil sekolah sambil nangkap hantu, pikir Hu Xiaoyi.
Hu Xiaoyi dan Wang Yu mengambil makanan, lalu duduk di sembarang tempat.
“Eh, eh, lihat deh siapa di sebelah sana?” Wang Yu dengan semangat menyenggol Hu Xiaoyi, yang langsung menoleh bingung.
Ternyata Qian Yunwei dan Chen Lili duduk serong di depan mereka.
Putri keluarga Qian ternyata juga makan di kantin. Hu Xiaoyi mengangguk-angguk, lalu mulai makan.
Qian Yunwei dan Chen Lili juga memperhatikan Hu Xiaoyi.
“Yunwei, hari ini Hu Xiaoyi benar-benar keren, sekarang semua cewek di kelas pada seneng, katanya dia sangat maskulin! Lihat tuh, cara makannya aja unik!”
Qian Yunwei melirik sekilas ke arah Hu Xiaoyi. “Halah, cuma omong doang, aku nggak lihat ada kelebihannya.”
Chen Lili agak kikuk. “Kenapa sih kamu selalu mempermasalahkan dia?”
Qian Yunwei memutar bola matanya. “Memangnya aku sengaja?”
“Duh, semua orang juga tahu, kamu masih kesal karena dia tanpa sengaja mengambil ciuman pertamamu, kan?”
“Apa sih yang kamu omongin?” Qian Yunwei menurunkan sumpitnya dengan wajah sedikit memerah.
“Udah, udah, nggak usah digoda lagi!”
Hu Xiaoyi makan dengan tenang, tiba-tiba terdengar suara keras menggema.
Suara itu, Hu Xiaoyi pasti tidak akan pernah lupa.
“Hei, Ruoyu, itu siapa? Bukannya itu mantan pacarmu?”
Chen Long melangkah dengan menggandeng Jiang Ruoyu, diikuti empat anak buahnya. Mereka berjalan gagah menuju Hu Xiaoyi.
Semua orang langsung menoleh, sebagian mulai bersorak dalam hati.
Hari ini bakal ada tontonan seru!
Hu Xiaoyi tak menghiraukan dan tetap makan. Baginya, makan lebih penting daripada berkelahi.
“Itu kan si preman Shengying, Chen Long? Ngapain dia ke sini?” tanya Chen Lili, melihat rombongan itu mendekati Hu Xiaoyi.
“Jangan-jangan mau cari masalah sama Hu Xiaoyi?” Chen Lili heran. “Baru hari pertama aja udah dapat masalah?”
“Kelihatan banget itu urusan lama,” kata Qian Yunwei. “Katanya dia mau jadi pelindung kelas kita, aku mau lihat seberapa hebat dia.”
“Hei! Bro Long lagi ngomong sama kamu!” Wu Yifan menendang meja.
Wang Yu sampai panik, “Kakak-kakak, kalau mau ngomong baik-baik aja, nggak usah pakai kekerasan.”
Chen Long menghardik, “Minggir!”
Wang Yu langsung ketakutan.
“Wang Yu, kamu makan di sebelah aja, sebentar lagi urusan selesai, ini urusan pribadiku,” kata Hu Xiaoyi sambil tersenyum.
Wang Yu pun dengan takut-takut pindah ke meja sebelah.
Orang-orang yang menonton pun semakin banyak.