Bab Dua Puluh Lima: Mata Terbuka karena Uang
Pada hari itu, Hu Kecil menerima kartu tanda pengenal petugas Biro Gaib dan secara resmi mulai bekerja. Demi mendukung tugas cuci otak Zhang Sanfeng, ia terpaksa berpura-pura seolah-olah benar ada simulasi di kampus. Dengan ceria ia mengikuti kerumunan yang sedang tur berkeliling kantor polisi, mencari topik pembicaraan dengan orang lain. Ia bahkan merasa kalau dirinya tidak menjadi aktor, sungguh dunia seni peran kehilangan sebuah bakat besar.
Namun bagaimanapun, sekarang ia sudah menjadi penyidik Biro Gaib yang aktif. Hu Kecil meraba jam tangan komunikasi dan kartu identitas di sakunya, merasa dirinya benar-benar sangat keren saat ini. Sejak kecil ia sudah bercita-cita menegakkan keadilan, tak disangka sebelum dewasa ia sudah mewujudkan impiannya. Meski yang ditangkap adalah hantu, bukan penjahat, toh menangkap hantu jelas lebih sulit. Apalagi ia kini ditemani Sistem Guru Langit, benar-benar waktu, tempat, dan manusia sudah berpihak padanya—kesialan pun berubah jadi keberuntungan. Setelah tujuh belas tahun jadi anak miskin, kini ibarat ikan asin mendadak berbalik untung.
Zhang Sanfeng juga bilang, selama membawa kartu tanda pengenal Biro Gaib, ke mana pun ia pergi, segalanya akan lancar. Fasilitas seperti ini, di mana lagi bisa didapatkan? Hanya saja satu kalimat terakhir Zhang Sanfeng, “Hari-hari indah kita tak banyak lagi,” membuat Hu Kecil agak bingung. Secara keseluruhan, kali ini hasilnya sangat memuaskan.
...
Malam itu, lampu-lampu di vila keluarga Qian menyala lembut. Qian Yunwei dan Chen Lili duduk di sofa menonton serial drama. Sementara Hu Kecil sedang di kamarnya, meneliti sistemnya. Sepertinya sampai kini ia belum benar-benar memahami Sistem Guru Langit.
Hu Kecil: Sistem, aku selalu ingin bertanya sesuatu padamu.
Sistem: Silakan.
Hu Kecil: Siapa yang menciptakanmu?
Sistem: Tidak tahu. Dalam ingatanku hanya ada ingatan para pewaris setiap generasi, tidak ada ingatan tentang penciptaku.
Hu Kecil merasa heran, bagaimana bisa tiba-tiba muncul sistem sehebat ini begitu saja? Konsep yin dan yang saling menyeimbangkan, ada hantu pasti ada pendeta, ada kejahatan pasti ada kebaikan, segala sesuatu pasti ada penawarnya.
Tiba-tiba, satu ide muncul di benaknya. Kalau ada Sistem Guru Langit, mungkinkah juga ada Sistem Hantu Jahat? Sistem Guru Langit naik tingkat dengan menangkap hantu, Sistem Hantu Jahat naik tingkat dengan memburu pendeta... Memikirkan itu saja sudah membuat punggungnya dingin. Sudahlah, malam-malam begini lebih baik jangan dipikirkan hal-hal aneh.
Eh, benar juga, setelah menaklukkan Hantu Bayi, sepertinya ia mendapatkan sebuah kitab ramalan tingkat dasar. Ramalan berarti meramal nasib, jadi ini kitab yang bisa digunakan untuk meramal?
Hu Kecil mengambil kitab itu, dan saat membukanya, kitab tersebut berubah menjadi cahaya emas yang langsung menembus otaknya. Dalam benaknya segera muncul layar seperti televisi LCD.
Hu Kecil: Sistem, bagaimana cara memakainya?
Sistem: Pewaris hanya perlu menggenggam tangan orang lain, maka sepertiga dari perjalanan hidup orang itu akan muncul di layar.
Hu Kecil: Kenapa cuma sepertiga?
Sistem: Karena ini hanya kitab ramalan tingkat dasar, jadi hanya bisa mengetahui sepertiga perjalanan hidup orang lain. Kalau memiliki kitab ramalan tingkat menengah, pewaris bisa tahu dua pertiga, dan seterusnya. Kalau memiliki kitab tingkat tinggi, maka semuanya bisa diketahui.
Wah, ini barang bagus! Dengan kitab ini, tak perlu risau soal makan, sesekali ke jalanan meramal nasib juga bisa dapat uang tambahan. Meski hanya tingkat dasar, setidaknya bisa menyelidiki latar belakang orang lain.
Tapi...
Hu Kecil: Bagaimana cara mendapatkan kitab ramalan tingkat menengah dan tinggi?
Sistem: Itu murni tergantung keberuntungan. Menaklukkan Hantu Bayi lalu mendapat kitab ramalan tingkat dasar saja sudah sangat beruntung.
Tampaknya, barang bagus memang selalu datang karena kebetulan. Sambil berpikir, ia menggenggam tangannya sendiri dengan penuh suka cita.
Sistem: Pewaris, apa yang kau lakukan?
Hu Kecil: Ya jelas, ingin meramal diri sendiri, hahaha! Lihat apakah perbuatanku di masa lalu akan muncul.
Sistem pun kehabisan kata-kata. Mana ada peramal yang bisa meramal dirinya sendiri?
Sistem: Jangan coba-coba, secara aturan, peramal tak bisa membaca nasib dirinya sendiri.
Ada aturan seperti itu? Saat Hu Kecil hendak kesal, terdengar ketukan di pintu.
Saat dibuka, tampak Chen Lili berdiri di depan pintu dengan piyama motif bunga. Kulitnya putih seperti susu, membuat mata Hu Kecil berbinar terang.
Chen Lili melihat Hu Kecil menatapnya begitu terang-terangan, langsung tersipu dan buru-buru merapikan piyamanya.
Hu Kecil tersadar, menghirup nafas dalam-dalam, “Chen Lili, malam-malam begini, ada apa?”
“Ada, dong. Kalau nggak, masa aku nyamperin kamu malam-malam?” Suaranya lembut, sampai membuat beberapa bagian tubuh Hu Kecil tak tenang.
Kok rasanya kalimat ini terdengar ambigu sekali...
Tapi, ini bukan gaya bicara Chen Lili!
“Langsung saja, di vila ini cuma aku laki-laki. Selama aku bisa, aku pasti bantu.” Hu Kecil berkata sambil melirik bagian tubuh Chen Lili yang menonjol.
Chen Lili menahan tawa, lalu berkata lagi dengan suara lembut, “Bukan cuma aku, Yunwei juga ada perlu.”
“Apa itu?”
“Laper—” Chen Lili menahan tawa, sampai wajahnya hampir ungu.
Dalam sekejap kepala Hu Kecil penuh imajinasi, masa sih mereka berdua…? Begitu to the point...
Dalam hati ia bersorak, aduh, menghadapi godaan seperti ini, apa yang harus kulakukan?
Pikirannya melayang-layang, membayangkan adegan-adegan dalam film dari negeri seberang.
“Mau atau nggak?” Waduh! Hu Kecil nyaris tak percaya.
“Apa maksudmu?” Sementara itu, darah dari hidungnya pelan menetes.
“Masak!” Chen Lili tak tahan lagi, tertawa sambil menutup mulut.
Hu Kecil langsung membeku.
Chen Lili kembali ke nada serius, “Hahaha, cuma menirukan adegan drama saja, Hu Kecil, kamu nggak salah paham, kan? Maksudku, aku dan Yunwei lapar, jadi minta tolong dimasakkan makanan.”
Dasar, gadis satu ini benar-benar licik, jelas-jelas sengaja menggodanya, tapi malah berpura-pura polos balik bertanya.
Orang kota memang jago main-main. Kalau sering begini, jangan-jangan aku malah kekurangan gizi gara-gara di-prank.
Tapi, minta aku masak maksudnya? Benar-benar suruh aku masak? Kirain aku ini pembantu?
Hu Kecil menghapus darah di hidung, menggeleng keras, “Nggak bisa!”
Chen Lili langsung menunjukkan wajah ragu, “Yakin nggak bisa?”
Gadis kecil ini, kalau aku nggak bisa menipumu, namaku bukan Hu Kecil.
“Serius, sejak kecil aku nggak pernah masak sendiri.”
“Ini lima ratus.” Chen Lili mengeluarkan beberapa lembar uang, “Udah deh, kamu nggak bisa masak? Semua orang tahu selama ini kamu hidup sendiri. Ini lima ratus, aku dan Yunwei tadi malam makan sedikit, sekarang lapar, upah masak lima ratus, gimana?”
Maksudnya apa? Pakai baju seperti ini cuma buat nyuruh aku masak? Lima ratus? Huh!
Dikira aku cinta uang banget apa? Punya uang hebat? Aku paling nggak suka orang kaya sombong.
Hu Kecil menggeleng dengan sinis, “Uang bukan segalanya, tolong jangan menghina aku.”
Ia bersiap menutup pintu.
“Lima ratus satu!” Chen Lili menambah tawaran, dalam hati heran, anak ini beneran idealis?
“Deal!” Hu Kecil langsung merebut uang itu, dengan wajah penuh percaya diri berkata, “Meskipun aku nggak bisa masak, tapi karena kamu begitu tulus memintaku, baiklah, aku akan coba menantang diriku sendiri!”
Chen Lili: ...