Bab 48 Bermain Sedikit Itu Hal yang Wajar
Ketukan pintu menginterupsi kemesraan kedua orang di dalam ruangan kantor tersebut.
Zhou Guican masih merasa belum puas, namun ia terpaksa melepaskan orang yang berada di dalam dekapannya, dengan sisa-sisa hasrat yang masih menyelimuti tatapan matanya.
Song Yinqiu perlahan membuka kedua matanya, di dalam maniknya terpancar kelembutan yang teramat sangat. Ia mengangkat tangannya, menyeka bibir pria itu dengan jemarinya, lalu menyunggingkan seulas senyum tipis: "Merah."
Warna pulasan gincu di bibirnya hari ini agak tebal.
"Ada urusan sore ini?" tanya Zhou Guican sambil melangkah menuju meja kerjanya, seraya mengambil sehelai tisu untuk membersihkan sisa gincu yang menempel di bibirnya.
"Hm, aku bersiap-siap untuk pergi sekarang." Song Yinqiu menenteng tasnya, mengenakan sepatu hak tinggi, dan berjalan keluar dengan langkah kaki yang ringan.
Begitu pintu terbuka, ia melihat Zhao Cheng yang berdiri di samping dan tidak berani melanjutkan ketukan pintunya.
Zhao Cheng dapat dengan jelas merasakan bahwa suasana di sekeliling Song Yinqiu saat ini berbeda dari saat terakhir kali wanita itu datang. Namun, sebagai seorang sekretaris yang kompeten, ia sangat tahu apa yang boleh ditanyakan dan apa yang tidak, serta kapan waktunya ia harus pura-pura buta.
Ia mundur dengan patuh ke samping, menunjukkan sikap yang sangat hormat.
Hingga sosok anggun Song Yinqiu menghilang dari pandangan, barulah Zhao Cheng mendorong pintu dan masuk: "Tuan Zhou, rapat akan dimulai sepuluh menit lagi."
"Hm," jawab Zhou Guican dengan nada datar. Ketika ia bangkit dan berjalan melewati Zhao Cheng, langkahnya tiba-tiba terhenti: "Bagaimana dengan urusan yang kusuruh selidiki?"
"Maaf, Tuan Zhou, belum ada kabar terbaru," jawab Zhao Cheng sambil menundukkan kepalanya.
Zhou Guican mengangguk pelan, suaranya terdengar tanpa emosi: "Lanjutkan penyelidikannya."
Baru saja tiba di lantai bawah Grup Yunsheng, Song Yinqiu dari kejauhan melihat seorang wanita berjas hitam berjalan lurus ke arahnya. Rambutnya dicepol rapi, mengenakan kacamata berbingkai hitam, memancarkan aura profesional yang penuh wibawa.
Wanita itu berhenti tepat di hadapan Song Yinqiu: "Nona Song, Pimpinan Zhou ingin mengundang Anda secangkir teh."
Kata-kata itu terdengar seperti sebuah undangan, namun nadanya tidak menyisakan ruang untuk penolakan.
Song Yinqiu sedikit mengangkat sebelah alisnya, akhirnya datang juga?
Ia mengikuti wanita itu naik ke sebuah mobil Maybach hitam yang terparkir di depan. Suasana di dalam mobil terasa begitu serius, namun hal itu sama sekali tidak mempengaruhi Song Yinqiu. Ia duduk di kursi belakang, mengeluarkan kotak cermin dan gincu dari dalam tasnya, lalu dengan santai merias ulang wajahnya.
Wanita di kursi depan meliriknya sekilas melalui kaca spion.
Keluarga Zhou memiliki sebuah kompleks peristirahatan di ujung paling timur kota, yang bisa dibilang merupakan kawasan pinggiran. Namun, pemandangannya sangat asri dan tenang seperti lukisan, dikelilingi oleh pegunungan dan perairan, sungguh menyerupai sebuah surga dunia yang terisolasi dari keramaian.
Terutama gaya arsitektur kompleks peristirahatan tersebut yang mengusung nuansa klasik tradisional, memancarkan kemegahan sebuah keluarga terpandang turun-temurun.
Belasan tahun yang lalu, keluarga Zhou belum memiliki kekayaan sebanyak itu untuk membeli tanah di kawasan ini.
Saat turun dari mobil, Song Yinqiu menyapu pandangannya ke sekeliling, dalam hati ia mengakui bahwa tempat ini memang memiliki feng shui yang sangat baik.
"Nona Song, silakan lewat sini." Suara wanita itu memutus lamunannya, dengan sopan memandunya untuk berjalan masuk.
Ia terus menuntun Song Yinqiu hingga ke area danau di halaman belakang.
Danau tersebut tidak terlalu besar, namun airnya bersumber langsung dari mata air pegunungan sehingga begitu jernih hingga dasar airnya terlihat.
Tampak seseorang sedang memancing di tepi danau. Di sebelah kanannya terdapat meja teh, dan di sebelah kanannya lagi diletakkan sebuah kursi kayu kosong.
Sebuah pemandangan yang begitu nyaman dan santai.
Setelah mengantar Song Yinqiu sampai di tempat itu, wanita tersebut berbalik dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Song Yinqiu melipat kedua tangannya di depan dada, melangkah dengan sepatu hak tingginya, lalu duduk di atas kursi kosong yang telah disediakan.
Ia sama sekali tidak menunjukkan kecanggungan, ataupun merasa kesal karena tidak disambut dengan layak, melainkan bersikap sangat santai.
"Apakah Nona Song bisa memancing?" Suara pria paruh baya itu terdengar sedikit tua, namun bertenaga dan begitu dalam.
Ia perlahan memalingkan wajahnya ke samping, mengamati Song Yinqiu dari ujung kepala hingga ujung kaki, tatapannya menyiratkan sebuah makna: ternyata hanya seperti ini.
Song Yinqiu bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arahnya, matanya terpaku pada permukaan air danau sambil tersenyum dingin: "Sama seperti Anda, Jiang Taigong memancing, siapa yang sudi akan merelakan diri tertangkap."
Tidak ada seekor ikan pun di dalam danau ini, entah apa yang sebenarnya sedang ia pancing di sini.
Pencitraan sekali, tipe orang seperti inilah yang paling ia benci.
Sejak Grup Yunsheng diserahkan kepada Zhou Guican, ayahnya yaitu Zhou Zhihai memilih untuk menikmati masa tua lebih awal di kompleks peristirahatan ini.
Mungkin karena mengira Song Yinqiu masih muda dan minim pengalaman hidup, ia berpikir bahwa menggunakan topik-topik mendalam yang penuh teka-teki bisa mengangkat status dan citra dirinya.
Siapa sangka Song Yinqiu sama sekali tidak termakan trik murahan itu, bahkan menanggapinya dengan nada yang cukup meremehkan.
Hal itu membuat Zhou Zhihai yang sedang memegang joran pancing seketika tertegun. Untuk sesaat, joran di tangannya itu ditarik pun salah, dibiarkan begitu saja pun serba salah.
Ia hanya bisa melirik ke arah wanita itu, mencoba menampilkan wibawa dan ketidakpuasannya atas sikap tidak sopan tersebut.
Namun, sebelum ia sempat membuka mulut, Song Yinqiu sudah menuangkan teh untuk dirinya sendiri. Setelah menyesapnya sedikit, ia langsung mengerutkan kening dan meletakkannya kembali dengan ekspresi jijik: "Tehnya pun tidak enak."
"Kamu... kamu..." Zhou Zhihai seketika dibuat murka hingga napasnya memburu, ia menyebut kata "kamu" berulang kali namun kehabisan kata-kata untuk melanjutkan kalimatnya.
Song Yinqiu menyilangkan kedua kakinya, melirik pria itu dengan tatapan datar: "Tehnya sudah diminum, apa masih ada urusan lain?"
"Perempuan sepertimu! Aku tidak akan pernah mengizinkanmu menginjakkan kaki di pintu keluarga Zhou-ku!" Zhou Zhihai membanting joran pancingnya sambil membentak. Aura di sekelilingnya mendadak menjadi jauh lebih tajam, dengan wajah muram ia menatap tajam wanita di hadapannya.
Song Yinqiu mendengus dingin dengan tenang, suaranya terdengar datar: "Siapa juga yang bilang mau masuk ke rumah kalian? Memangnya keluarga kalian layak? Katak hendak memakan daging angsa, mimpi indah sekali."
"Apa yang kamu katakan? Kalau begitu, untuk apa kamu masih merayu anakku?" Zhou Zhihai mengernyitkan alisnya, menatap Song Yinqiu dengan sorot mata penuh amarah.
Ia bahkan sama sekali tidak menyadari bahwa posisinya sebagai pemilik rumah sejak tadi telah berbalik menjadi pihak yang terpojok.
Song Yinqiu kembali mendengus dingin: "Tuan, apakah Anda masih hidup di zaman masyarakat feodal? Kami berdua sama-sama lajang, bersenang-senang adalah hal yang sangat normal, lagipula anak andalah yang diuntungkan."
Ia sama sekali tidak menyangka Song Yinqiu akan melontarkan kata-kata seperti itu!
Zhou Zhihai sama sekali tidak menduganya, situasi ini jauh berbeda dari apa yang ia bayangkan di dalam kepalanya.
Ia memanggil Song Yinqiu datang kemari juga karena telah mendengar beberapa desas-desus belakangan ini.
Selama bertahun-tahun, tidak pernah ada wanita di sisi Zhou Guican, hingga sempat muncul beberapa rumor aneh. Ia bahkan pernah membahasnya langsung dengan Zhou Guican dan tahu betul bahwa putranya itu adalah seorang pria normal sepenuhnya.
Ketika pertama kali mendengar tentang Song Yinqiu dan mencari tahu sekilas, wanita itu ternyata hanya seorang karyawan biasa di Grup Xingchen. Saat itu ia mengira putranya hanya sekadar iseng belaka, sehingga ia tidak terlalu ambil pusing.
Namun, kenyataannya kedua orang itu sudah tinggal bersama begitu lama dan masih belum berpisah juga.
Zhou Zhihai mau tidak mau harus turun tangan. Perempuan dengan latar belakang seperti ini, bagaimana mungkin bisa bersanding dengan putranya.
Hasilnya, hari ini ia memanggil wanita itu ke sini, justru untuk dipermalukan habis-habisan!
Wajah tua miliknya ini, hendak ditaruh di mana!
Baru saja ia bersiap membuka mulut untuk memberikan pelajaran, Song Yinqiu kembali mendahuluinya, melontarkan kalimat telak yang seketika membuat Zhou Zhihai terbungkam seribu bahasa.
"Oh, Anda mungkin belum tahu ya, anak Anda itu punya penyakit. Penyakit mental, tidak bisa disentuh wanita, kecuali aku."