Bab 35 Mencuri Tubuhnya
Aroma napas yang menyesakkan memenuhi indra, ciuman yang mendominasi membuat jarak di antara keduanya semakin menipis, tenggelam dalam gairah yang tak mampu lagi dibendung.
Untuk sesaat, Song Yinqiu bahkan hampir kehilangan keseimbangan. Ia mengulurkan tangan untuk mendekap pinggang pria itu, bersiap untuk mengambil alih kendali, namun napasnya tiba-tiba terasa lega.
Zhou Guican melepaskannya. Bibir tipisnya tampak kemerahan, jakunnya naik turun, dan hasrat di matanya belum juga surut, seolah masih belum puas. Bahkan dalam situasi seperti ini, ia tidak melakukan langkah selanjutnya.
"Apa kau ini pria atau bukan?"
Setiap kali di saat-saat krusial, ia selalu berhenti. Ada apa sebenarnya dengan pria ini?
Sorot mata Song Yinqiu yang masih berkabut belum sepenuhnya hilang, pipinya merona merah, dan suaranya terdengar serak. Namun, melihat keadaan saat ini, ia mengerutkan kening, menunjukkan ketidakpuasan yang nyata!
"..." Zhou Guican mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Menghadapi kata-kata Song Yinqiu yang begitu agresif, ia tidak memberikan reaksi berarti. Ia hanya melepaskan pelukannya dan berbalik memunggungi wanita itu dalam diam.
Hari ini ia terasa aneh, sejak dari rumah sakit tadi.
Setelah tenang selama beberapa detik, seolah baru memahami sesuatu, Song Yinqiu menepis rasa kesalnya dan menatapnya dengan raut cemas.
"Kau... sedang kambuh?" Ia melangkah maju, memperhatikan wajah Zhou Guican. Jika bukan karena sikapnya yang begitu alami saat bersamanya, Song Yinqiu hampir lupa bahwa pria itu memiliki kondisi psikologis yang membuatnya tidak bisa bersentuhan dengan wanita.
Zhou Guican meliriknya dengan dingin, lalu menjawab ketus, "Bukan!"
"Aku bukannya tidak tahu masalahmu, tidak perlu berpura-pura kuat di depanku." Song Yinqiu mengangkat tangan, menepuk bahu pria itu dengan lembut sebagai bentuk penghiburan. Bagaimanapun, trauma ini muncul karena masa lalunya saat melihat upaya pelecehan Su Zhongping terhadap dirinya. Jadi, meskipun Zhou Guican bisa menyentuhnya, namun tidak bisa melangkah lebih jauh, itu adalah hal yang bisa dimaklumi.
*Hah*, semua ini salahnya.
Mungkin karena tatapan iba di mata Song Yinqiu terlalu kentara, Zhou Guican menggertakkan giginya. Ia benar-benar ingin membungkam mulut wanita itu. Dengan nada yang ditekan, ia berkata, "Sudah kubilang, bukan itu masalahnya!"
"Bukan masalah itu? Lalu kau kenapa? Sedang gila?" Song Yinqiu mengerutkan kening, emosinya pun ikut tersulut. Ia mengabaikan pria itu, lalu melangkah pergi dan duduk di sofa ruang tamu.
Kapan lagi ia pernah sesabar ini pada seorang pria! Zhou Guican benar-benar telah membuatnya melanggar batasan demi batasan. Apa lagi yang ia inginkan!
Setelah berkata demikian, ia melirik Zhou Guican. Melihat pria itu masih mematung di tempatnya, terdiam dengan bibir terkatup rapat, Song Yinqiu memutar bola matanya kesal. Nadanya berubah sinis, "Kalau kau tidak ingin melihatku, aku akan pergi sekarang. Lagi pula, kecemburuanmu tadi pasti karena Shen Xian adalah cinta pertamanya, tanyakan saja langsung padanya."
Mendengar itu, Zhou Guican segera bereaksi. Wajah tampannya menunjukkan kegugupan. Ia melangkah lebar ke arah Song Yinqiu, seolah takut wanita di depannya akan benar-benar menghilang. Ia buru-buru menjelaskan, "Bukan itu maksudku. Aku hanya... hanya baru saja memastikan satu hal."
Sayangnya, Song Yinqiu tidak mendongak untuk melihatnya, jika tidak, ia pasti akan menyadari bahwa telinga Zhou Guican saat itu memerah. Pria itu sendiri tidak menyangka akan kehilangan kendali seperti ini.
Di restoran Barat tadi, dalam situasi seperti itu, tatapan permusuhan Shen Xian, serta sindiran dari Chen Yichun dan Qin Wangshu, Zhou Guican sebenarnya bisa tetap tenang tanpa gejolak. Saat itu, ia bahkan sempat meragukan dirinya sendiri, apakah ia benar-benar tidak memiliki perasaan pada Song Yinqiu? Kalau tidak, mengapa ia bisa begitu acuh? Ucapan "pulang malam nanti" pun hanyalah bentuk konfirmasi apakah wanita itu akan kembali agar ia bisa membukakan pintu, sama sekali tidak ada maksud lain.
Namun, saat menerima telepon dari Song Yinqiu dan melihat mereka berdua di depan rumah sakit, tiba-tiba muncul amarah yang tak terkendali di dalam dirinya.
Tetapi, Song Yinqiu tidak berpikir demikian.
"Memastikan bahwa hubungan kalian masih baik?" Song Yinqiu terus memanas-manasi keadaan. Kata-katanya terasa masam, bahkan tangannya mengepal erat. Kenapa? Apakah pria-pria ini semua menyukai wanita yang tidak berguna?
Ia membuang muka ke arah lain, amarahnya memuncak. Baru saja akan meluapkan emosinya, ia mendengar suara pria yang berat dan parau tepat di atas kepalanya: "Aku menyadari, bahwa aku menyukaimu."
Amarah itu tiba-tiba padam seolah disiram air dingin. Seluruh tubuhnya membeku selama beberapa detik. Tak lama kemudian, ia tertawa kecil, namun tetap terdiam.
Kenapa reaksinya seperti itu? Zhou Guican, yang pipinya sempat memerah, kini justru menyesali kata-katanya.
"Apa maksudmu dengan ini?" Ini adalah pernyataan cinta pertamanya, mengapa ia merasa semuanya berakhir gagal?
Song Yinqiu menatapnya dengan mata berbinar dan senyum yang melengkung. "Sudah kubilang, kau lebih menyukaiku. Kau sendiri yang bersikeras mempermasalahkannya."
Suasana hatinya membaik seketika. Ia bangkit berdiri, menghampiri Zhou Guican, mengalungkan lengannya di leher pria itu, lalu bertanya dengan manja, "Kalau begitu, apa kau mau..."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, kata-kata yang diucapkan Zhou Guican selanjutnya membuat senyumnya lenyap.
"Tapi aku tidak akan membantumu."
Song Yinqiu menarik senyumnya, menatap pria itu dengan tajam, "Apa maksudmu?"
"Tentang permintaanmu agar aku membantumu menguasai kepribadian utama, aku tidak bisa melakukannya."
"Bukankah kau menyukaiku?"
"Itu dua hal yang berbeda." Jawaban Zhou Guican tegas.
Ia adalah orang yang keras kepala, dan Song Yinqiu tahu itu, sehingga ia langsung mendorong pria itu menjauh. Zhou Guican mundur dua langkah untuk menjaga keseimbangan.
"Lalu apa maksudmu mengatakan semua itu padaku?" Amarah Song Yinqiu meledak lagi. Meja kopi menjadi korban untuk kesekian kalinya; ia menendangnya dengan keras hingga hampir roboh.
Melihat meja kopi yang malang itu, Zhou Guican menghela napas, "Tubuh itu miliknya."
Kalimat itu membuat Song Yinqiu benar-benar murka. Ia meraih cangkir di sampingnya dan membantingnya ke lantai. Pecahan keramik berserakan dengan suara yang memekakkan telinga.
"Miliknya, miliknya! Selain kata-kata itu, apa lagi yang bisa kalian katakan? Kenapa? Hanya karena tubuh ini miliknya, jadi saat ingin menghindar kalian menghindar, saat ingin muncul kalian muncul? Saat kalian ingin aku menghilang, maka aku harus menghilang? Apa aku bukan manusia yang hidup?"
Dalam geramannya, terdengar rasa putus asa dan kesedihan yang mendalam. Ini bukan pertama kalinya Zhou Guican melihatnya marah, tetapi ini pertama kalinya ia melihat mata wanita itu berkaca-kaca setelah berteriak.
Hatinya tersentak seketika, terutama kalimat terakhir yang mengacaukan pikirannya. Benar, apakah kepribadian kedua bukan manusia?
"Aku harus menanggung ingatan masa lalu yang kotor itu, aku harus membantunya menyelesaikan masalah-masalah sulitnya. Keberadaanku hanya untuk melapangkan jalannya? Aku tidak boleh hidup untuk diriku sendiri? Zhou Guican, pada akhirnya kau dan Shen Xian sama saja. Kalian berdua merasa bahwa akulah yang telah mencuri tubuhnya."
Dengan mata yang memerah, ia menatap pria itu lekat-lekat. Song Yinqiu melangkah maju dua kali, matanya basah, namun wajahnya penuh dengan keteguhan hati.
Ia mencibir, "Kukira kau akhirnya telah melihat isi hatimu sendiri sehingga kau mengatakan menyukaiku. Ternyata, kau tetap tidak memahami dirimu sendiri. Aku sangat kecewa padamu, Zhou Guican."
Pada kalimat terakhir, ia sengaja menekankan suaranya.
Melihat wanita itu hendak memejamkan mata, Zhou Guican melangkah maju dengan tergesa-gesa, suaranya bergetar tanpa sadar, "Yinqiu."
Namun sudah terlambat, tubuh wanita itu terkulai jatuh. Zhou Guican segera menangkapnya. Di sudut yang tak terlihat oleh pria itu, setetes air mata jatuh dari sudut mata wanita yang berada dalam dekapannya.