Bab 26 Menjadi Satu-satunya
Halaman (1/3)
Setiap gerak-gerik dan setiap kata yang terucap darinya begitu memikat hati. Seolah-olah itu adalah sihir yang memancar dari dirinya sendiri. Atau mungkin... sihir yang hanya bisa memikat pria itu seorang.
Kali ini, Zhou Guican tidak menghindar, melainkan menatapnya lekat-lekat. Ia tidak melangkah lebih jauh, namun juga tidak berniat mundur. Di balik tatapannya, tersimpan gejolak yang tertahan. Dengan suara rendah dan sedikit serak, ia berujar, "Naiklah ke mobil, kita bicara di sana."
Merasakan perubahan sikap pria itu, Song Yinqiu tertawa kecil. Dengan tatapan yang berbinar dan penuh rayuan, ia menjawab dengan suara yang lebih lembut, "Baiklah, ke rumahmu pun tidak masalah."
Setelah berkata demikian, ia mengibaskan rambut panjangnya, membuka pintu mobil, dan masuk lebih dulu. Sebelum benar-benar duduk, ia sempat melayangkan kedipan mata yang menggoda ke arah Zhou Guican.
Cih... wanita ini!
Napas Zhou Guican sedikit tidak teratur. Setelah menenangkan diri, ia segera menyusul masuk ke dalam mobil. Baru saja ia duduk di kursi pengemudi, Song Yinqiu sedikit memiringkan tubuh dan hendak mengusap wajah pria itu, namun tangannya yang nakal segera dicekal oleh Zhou Guican.
Bersama wanita ini, Zhou Guican sudah memiliki refleks tertentu. Tahu bahwa ia tidak bisa diam, pria itu hanya bisa mengubah nada suaranya menjadi lebih serius, "Mari kita bicarakan hal yang penting dulu."
Halaman (2/3)
Begitu kata-kata itu terucap, senyum Song Yinqiu seketika lenyap. Ia memutar bola mata, menarik kembali tangannya, lalu melirik pria yang membosankan di hadapannya itu dengan kesal. "Tahu-tahunya hanya urusan penting terus. Ke rumahmu dulu saja."
Usai berkata begitu, ia tidak lagi memedulikannya. Ia melipat tangan di dada dan memalingkan wajah ke arah jendela mobil.
Suasana hati yang berubah-ubah itu sungguh membuat orang tak berdaya. Zhou Guican memandangi temperamennya yang datang dan pergi seperti badai itu dengan segaris senyum tipis di bibirnya.
Sepanjang perjalanan, mereka berdua terdiam. Pemandangan malam hari begitu mempesona; lampu-lampu gemerlap, jalanan yang ramai, serta deru kendaraan dan hiruk pikuk orang yang berlalu-lalang.
Tempat tinggal Zhou Guican berada di tepi sungai, dengan lokasi dan pemandangan yang sangat indah. Saat tiba, Zhou Guican baru saja membuka pintu, Song Yinqiu sudah lebih dulu menerobos masuk. Begitu alami, seolah ia sedang memasuki rumahnya sendiri.
Sambil berjalan, ia menendang lepas sepatu hak tingginya dengan santai. Tumitnya sedikit lecet dan memerah setelah dipakai seharian. Ia duduk di sofa, lalu menyilangkan kakinya di atas meja tamu, tampak begitu santai dan malas.
Zhou Guican mengikuti di belakang, memungut sepatu hak tinggi yang tergeletak sembarangan, lalu menggelengkan kepala dengan pasrah dan menatanya rapi di pintu masuk.
Teringat kembali bahwa pakaian yang dikenakan wanita itu adalah hasil rengekannya pagi tadi, yang bersikeras tidak mau keluar rumah jika tidak mengenakan warna merah. Sembari berpikir, Zhou Guican menatap wanita yang masih merajuk itu dan mencoba membuka percakapan, "Aku pikir kau tidak akan memberikan uang itu."
Halaman (3/3)
Wanita yang sedang memejamkan mata untuk beristirahat di sofa itu tidak bergeming sedikit pun. Tanpa membuka kelopak matanya, ia menjawab datar, "Kau tahu apa artinya membalas budi dan dendam? Aku melunasi budi Gu Fang yang telah membesarkanku, sementara dendamnya masih belum kubalas satu pun."
Mendengar itu, Zhou Guican merasa tertarik. Ia melangkah mendekat dan duduk di sampingnya. "Bagaimana cara membalasnya?"
Mendengar pertanyaan itu, Song Yinqiu membuka matanya. Ia memiringkan tubuhnya, menempel lebih dekat ke arah pria itu, dan menatapnya tajam. "Ternyata kau masih sangat tertarik padaku, ya? Bersamaku kau jauh lebih hidup dibandingkan saat kau bersamanya dulu."
Ucapan itu tidak salah, dan Zhou Guican pun menyadarinya, meskipun ia enggan mengakuinya.
Menghindari topik tersebut, Zhou Guican menatapnya dan bertanya, "Jadi... bagaimana pertimbanganmu soal kerja sama itu?"
"Soal kerja sama, ya," Song Yinqiu tersenyum tipis, menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa, dan menatap langit-langit ruangan yang putih. "Jika kau mau membantuku satu hal, aku bisa bekerja sama."
Zhou Guican mengangkat alisnya. "Bantuan apa?"
Ia terdiam selama beberapa menit, membiarkan orang di sampingnya dilanda sedikit rasa cemas, barulah ia membuka mulut dan berkata:
"Aku ingin menjadi satu-satunya Song Yinqiu."