Bab 35 Seandainya Tahu, Aku Tak Akan Menggodanya sejak Awal
Gu Ye pun didorong oleh Jiang Yue masuk ke dapur. Meski udara di sana panas dan dipenuhi asap minyak yang cukup menyengat, ia tidak keberatan karena ia memang menyukai rasa pedas.
"Gu Ye, sekalian ambilkan daging kecapnya dan bawa makanannya ke luar, ya!" Jiang Yue duduk di bangku kecil di meja batu di halaman, keringat bercucuran karena cuaca yang panas.
Di meja batu itu sudah tersaji sayuran *youmai* yang dimasak Jiang Yue sebelumnya. Sudah menjadi kebiasaannya untuk selalu menyertakan daging dan sayuran hijau di setiap jamuan makan.
Jiang Yue sedang memikirkan satu masalah: sekarang saja, sebelum puncak musim panas tiba, ia sudah merasa kepanasan saat memasak. Ia takut jika nanti tiba masa puncak musim panas, ia tidak akan punya keberanian untuk menginjakkan kaki di dapur.
Saat Gu Ye keluar membawa piring, ia mendapati Jiang Yue sedang mengipasi dirinya dengan kipas bambu. Kipas itu adalah jenis kipas yang biasa digunakan untuk menyalakan api tungku; sudah retak di beberapa bagian. Dulu, Jiang Yue bahkan tidak akan sudi menyentuhnya.
"Eh, Gu Ye, jangan ambilkan nasi untukku, aku tidak sanggup memakannya!" Saat melihat Gu Ye hendak menyendokkan nasi, Jiang Yue melambaikan kipasnya dengan lemas. Ia sama sekali tidak memiliki nafsu makan.
Gu Ye memasang wajah serius. "Siang tadi kau hanya makan sedikit, sekarang bilang tidak sanggup makan? Bagaimana tubuhmu bisa sehat kalau terus-terusan tidak makan?"
Jiang Yue mengedipkan mata lebarnya, lalu melempar kipasnya dan mendekat ke arah Gu Ye sambil tersenyum manis. "Gu Ye, kau mengkhawatirkanku?"
Lengan baju Gu Ye digulung, memperlihatkan lengan bawahnya yang berotot. Guratan otot-ototnya tampak jelas di balik kulit, memancarkan kesan kekuatan yang siap meledak kapan saja. Kulitnya yang berwarna madu memiliki kilau yang sehat dan seksi. Tanpa bisa menahan diri, Jiang Yue mengulurkan tangan dan mencubitnya.
Seluruh tubuh Gu Ye tersentak, otot-otot di lengannya menegang seketika.
Jiang Yue ingin menyentuhnya lagi, namun tiba-tiba, semangkuk penuh nasi diletakkan tepat di depannya.
Wajah tampan Gu Ye tampak kaku. Dengan dingin, ia berucap, "Makan!"
Jiang Yue terpaku. "..." Sebanyak ini? Porsinya hampir menyamai jatah makan sehari penuh. Bagaimana mungkin ia bisa menghabiskannya dalam sekali makan?
"Gu Ye..." Jiang Yue mendongak, menatap Gu Ye dengan tatapan memelas. Seandainya ia tahu Gu Ye akan bersikap sekaku ini, ia tidak akan menggodanya saat sedang makan.
Gu Ye tidak menggubrisnya. Jiang Yue berpura-pura mengambil sedikit lauk, dan saat Gu Ye sedang menunduk, ia dengan cepat memindahkan setengah porsi nasinya ke mangkuk pria itu. Ketika Gu Ye menatapnya dengan tajam, ia pun tertawa kecil. "Gu Ye, tolong habiskan bagianku ya. Kalau aku tidak sanggup menghabiskannya, sayang sekali jika terbuang. Kalau sisa makananku kuberikan padamu, kau pasti akan jijik."
Setelah berkata demikian, karena takut Gu Ye akan menambah nasi lagi, ia segera membawa mangkuknya dan duduk di seberang pria itu. Ia meraih sumpit dan mulai menyuap nasi dengan tergesa-gesa, sesekali melirik Gu Ye dengan perasaan waswas.
Gu Ye terdiam. Bukankah tadi saat mencubit lengannya dia begitu berani?
"Oh ya, Gu Ye, halaman rumah kita begitu luas, kenapa kita tidak menanam pohon saja? Jadi saat musim panas tiba, ada tempat berteduh dan halaman tidak terlihat begitu kosong."
Saat matahari terbenam, langit dihiasi semburat jingga senja dan angin sepoi-sepoi mulai berembus, mengusir hawa panas yang tadi dirasakan Jiang Yue saat memasak. Meskipun baru beberapa hari makan semeja dengan Gu Ye dan tahu kebiasaannya yang tidak suka berbicara saat makan, Jiang Yue tetap ingin mencari topik untuk mengobrol dengannya.
Tangan besar Gu Ye yang memegang sumpit terhenti. Ia mendongak menatap Jiang Yue dengan tatapan aneh. "Jiang Yue, bukankah kau sendiri yang melarang menanam pohon di halaman?"
Jiang Yue terperangah. "Eh? Begitukah? Aku lupa..." Mengapa ia sama sekali tidak memiliki ingatan tentang hal itu?
Gu Ye menyipitkan matanya dan tidak melanjutkan topik tersebut.
Jiang Yue melihat Gu Ye mengambil tumis cabai dengan gajih. Ia pun menatapnya lekat-lekat tanpa berkedip. Ia ingin melihat apakah Gu Ye akan bereaksi seperti yang digambarkan dalam buku aslinya—di mana pria itu akan merasa terharu hingga matanya berkaca-kaca saat teringat ibunya setelah menyantap tumis cabai buatan sang pemeran utama wanita.
Satu suapan, dua suapan, tiga suapan.
Jiang Yue memperhatikan saat Gu Ye menghabiskan separuh piring tumis cabai itu. Selain keringat yang muncul di dahinya, ekspresi pria itu tidak berubah sedikit pun. Tidak ada mata yang berkaca-kaca, tidak ada tatapan penuh syukur atau kekaguman. Gu Ye tetap tenang seperti biasanya.
Jadi, di mana letak kesalahannya? Mungkinkah karena ia bukanlah pemeran utama wanita, sehingga Gu Ye tidak menunjukkan reaksi seperti itu? Atau mungkin masakannya yang salah? Pemeran utama wanita membuat tumis cabai daging, sedangkan dirinya membuat tumis cabai gajih.
Ia memutuskan, besok ia harus mencoba membuat tumis cabai daging!
"Kau tidak makan?" Gu Ye menyadari Jiang Yue terus menatapnya, dan ia cukup peka untuk merasakan bahwa tatapan Jiang Yue terasa aneh, seolah sedang mengamatinya. Namun, ia hanya makan, apa yang perlu diamati?
"Aku tidak makan, aku takut pedas!" Jiang Yue melambaikan tangan, menunduk, dan kembali menyuap nasinya. Ia hanya sanggup menoleransi rasa pedas dari paprika atau cabai buah; jika ia memakan cabai super pedas seperti yang dimakan Gu Ye, ia pasti akan "meledak" di tempat.
"Kau ingin menanam pohon di halaman?" Gu Ye tiba-tiba bertanya.
Jiang Yue menelan daging di mulutnya lalu mengangguk. "Ya, tanamlah pohon osmanthus. Harus yang besar dan tinggi, supaya saat musim panas kita bisa berteduh di bawahnya dan tidak takut kepanasan saat makan. Saat musim gugur tiba, aromanya akan memenuhi halaman, dan kita bisa memetik bunganya untuk dijadikan selai atau dikeringkan menjadi teh bunga osmanthus..."
"Baik!"
Jiang Yue teringat masa kecilnya di rumah nenek yang memiliki pohon osmanthus yang sangat tinggi dan besar. Setiap musim gugur, nenek akan memanen banyak bunga osmanthus. Di rumah nenek juga ada pohon jujube yang buahnya sangat manis dan enak.
Namun, Jiang Yue tidak berencana menanam pohon jujube karena biasanya ada ulat bulu di sana yang bisa membuat kulit gatal dan perih. Saat kecil, ia yang nakal sering kali terkena sengatan ulat tersebut.
Mengingat masa kecilnya, Jiang Yue merasa seolah-olah itu terjadi di kehidupan yang sangat jauh. Bukan seolah-olah, memang benar-benar dunia yang berbeda.
"Hm? Gu Ye, apa yang kau katakan tadi?" Jiang Yue samar-samar mendengar Gu Ye berbicara, namun ia terlalu fokus dengan pikirannya sendiri hingga tidak mendengar dengan jelas.
"Aku bilang boleh, hari Minggu nanti aku akan coba mencarinya," jawab Gu Ye dengan tenang.
Mendengar itu, Jiang Yue sangat senang. "Gu Ye, bolehkah aku ikut? Aku juga ingin menanam bunga di sudut tembok. Bagaimana kalau kita menanam bunga mawar? Bunganya akan mekar setiap bulan dan membuat rumah kita harum."
Gu Ye tampak ragu sejenak sebelum menjawab, "Baik!"
"Satu lagi, Gu Ye, bisakah kau mencarikanku batu bata, semen, dan papan semen?" Melihat Gu Ye begitu mudah diajak bicara hari ini, Jiang Yue mengajukan permintaan lagi.
"Untuk apa kau menginginkan benda-benda itu?" Gu Ye bisa memahami keinginan menanam pohon atau bunga, tetapi ia tidak mengerti mengapa Jiang Yue butuh batu bata dan semen.
"Ada gunanya! Nanti kau akan tahu sendiri!" Jiang Yue mengedipkan mata, merahasiakannya.
Tatapan mata Gu Ye tertuju pada wajah Jiang Yue. Beberapa hari ini, ia selalu menguncir rambutnya dengan gaya ekor kuda yang tinggi, membuatnya bergoyang-goyang saat ia berjalan atau berbicara. Perban di dahinya sudah dilepas, meski masih ada sedikit memar kebiruan di sana, itu justru membuat kulit wajahnya yang putih tampak seperti batu giok.
Dulu, wajahnya selalu tampak masam dengan bibir yang terkatup rapat, namun sekarang sudut bibirnya selalu terangkat, dan matanya yang indah selalu memancarkan senyum. Terlepas dari perubahan sifatnya, Jiang Yue saat ini jauh lebih hidup dibandingkan sebelumnya.
Setelah makan malam selesai, tanpa diminta, Gu Ye dengan sigap membereskan mangkuk dan sumpit, lalu membawanya ke dekat sumur untuk dicuci.
"Gu Ye, simpan sisa nasi di dalam sumur agar tetap dingin, besok pagi kita tumis untuk sarapan, bagaimana?" Saat Gu Ye mencuci piring, Jiang Yue berjongkok di sampingnya sambil menopang dagu, memperhatikannya.
Sungguh tampan! Hanya dengan melihatnya saja sudah sangat menyejukkan mata.
"Hm!" Gu Ye sadar Jiang Yue sedang menatapnya; beberapa hari ini, dia selalu menatapnya dengan pandangan seperti itu.