Bab Lima Puluh Dua: Mengganti Nama
Halaman (1/3)
“Namun, Tang, orang yang terlibat dalam kasus ini masih memiliki kedudukan sosial tertentu di Linhai. Saat ini Tang Quanming dikenal sebagai ahli bedah jantung terbaik di Rumah Sakit Rakyat Kabupaten Linhai. Bisa dibilang, meskipun secara jabatan dia bukan siapa-siapa, banyak pasien yang pernah ditanganinya memiliki hubungan dengan orang-orang terpandang di Linhai. Jadi, kalau belum ada bukti yang benar-benar kuat, sebisa mungkin jangan sampai berkonflik dengannya. Kalau tidak, kita semua akan kerepotan.”
“Saya mengerti, Guru. Anda tenang saja, saya tahu apa yang harus saya lakukan.”
Sebenarnya, Tang Tian memang seperti mendapat dorongan tak kasatmata untuk menyelidiki kasus ini. Terutama karena kejadian pagi tadi telah mengguncangnya begitu dalam. Seberapa tenang pun dirinya saat menangani kasus, Tang Tian tetaplah seorang pemuda yang belum lama meninggalkan bangku sekolah. Mengabdi kepada rakyat dan memberantas kejahatan di dunia adalah cita-citanya ketika menjadi polisi.
Namun, cita-cita pada akhirnya tetaplah cita-cita. Masih ada jarak antara cita-cita dan kenyataan.
Seperti yang baru saja dikatakan Lei Dapao, ketika masih bersekolah di akademi kepolisian dan berbincang dengan teman-temannya tentang kehidupan setelah mulai bekerja, tidak tunduk kepada kekuasaan merupakan prinsip yang ditempatkan semua orang di urutan pertama.
Ketika Tang Tian datang menemui Dokter Forensik Lang untuk mengambil berkas perkara Wang Haixia beserta laporan autopsinya, tatapan lelaki tua itu tampak agak aneh.
“Ada apa, Dokter Lang? Tatapan Anda membuat bulu kuduk saya merinding.”
“Bukan begitu. Untuk apa kau meminta berkas perkara ini? Gurumu menyuruhmu menyelidiki kasus ini?”
“Bukan. Jangan salah paham. Hari ini saya bertemu Xie Min yang datang mengajukan pengaduan. Kebetulan belakangan ini juga tidak ada pekerjaan penting. Setelah mendengar penjelasan Guru tentang masalah ini, saya jadi tertarik dan ingin memeriksanya. Lagi pula, membiarkan perkara ini terus menggantung juga tidak baik bagi siapa pun.”
“Pendapatmu masuk akal. Namun, Nak, kalau ingin menyelidiki kasus ini, kau harus sedikit berhati-hati.”
“Saya mengerti. Oh ya, Dokter Lang, kebetulan sekali—maukah Anda menceritakan kasus ini kepada saya? Dari sudut pandang seorang ahli forensik, maksud saya. Dari laporan autopsi, tampaknya pemeriksaan terakhir saat itu juga dilakukan oleh Anda.”
“Baiklah, akan kuceritakan. Sebenarnya, ini bahkan tidak bisa disebut kasus. Dari sudut pandang forensik, akan kujelaskan kepadamu. Tang, apakah kau tahu tentang infark miokard?”
“Tidak, tetapi saya tahu tingkat kematian penyakit itu sangat tinggi.”
“Benar. Nama medisnya adalah infark miokard. Penyakit ini sebenarnya sangat umum, bukan penyakit langka. Penyumbatan mendadak pada arteri koroner menyebabkan aliran darah terhenti, lalu mengakibatkan jaringan otot jantung mati, bahkan membuat jantung berhenti bekerja. Biasanya, penyakit ini banyak menyerang pasien paruh baya dan lanjut usia. Selain itu, berbagai kebiasaan hidup yang buruk dalam jangka panjang juga dapat menyebabkannya, seperti makan berlebihan, emosi yang tidak stabil, merokok, minum alkohol, dan bekerja terlalu keras.
“Namun, hasil autopsi Wang Haixia secara langsung menyingkirkan kemungkinan keracunan. Berdasarkan pemeriksaan, kondisi tubuhnya juga sangat baik. Gurumu pun telah menyelidiki bahwa Wang Haixia biasanya sangat memperhatikan kesehatan. Inilah satu-satunya hal yang mencurigakan dalam kasus ini. Menurut kewajaran, orang seperti dia semestinya tidak mungkin meninggal akibat penyakit semacam itu. Apalagi dia seorang dokter. Walaupun angka kematian akibat infark miokard memang tinggi, bukan berarti tidak ada langkah pertolongan yang bisa dilakukan.”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Maksud Anda, karena Wang Haixia sendiri seorang dokter, apabila dia mengetahui bahwa dirinya memiliki masalah semacam itu, sebenarnya dia dapat melakukan tindakan perlindungan sederhana sebelum penyakitnya kambuh?”
“Benar, kau bisa memahaminya seperti itu. Pikirkan saja, Wang Haixia adalah seorang dokter. Jika dia menyadari bahwa dirinya menderita penyakit ini, hal pertama yang akan dilakukannya tentu mencari pertolongan medis. Namun, kami tidak menemukan catatan apa pun bahwa Wang Haixia pernah berobat. Sebenarnya, gurumu sejak awal tidak pernah setuju menutup kasus ini sebagai kematian wajar. Dia selalu berpendapat bahwa selama kecurigaan dalam kasus ini belum dibuktikan, perkara tersebut tidak bisa ditutup sebagai kematian wajar.”
Dari Dokter Forensik Lang, Tang Tian juga mengetahui bahwa Lei Dapao sejak awal memang terus meragukan kasus ini.
Namun, keraguan tetaplah keraguan. Tanpa bukti yang dapat membuktikannya, semuanya hanya akan tetap menjadi keraguan.
“Li Jun, ayo. Temani aku ke Rumah Sakit Rakyat.”
“Untuk apa?”
“Nanti kuceritakan di jalan. Ayo.”
Tang Tian mengajak Li Jun pergi bersamanya. Menurutnya, bagaimanapun juga, perlu lebih dahulu menemui Tang Quanming. Dari sudut mana pun, keuntungan bertemu Tang Quanming lebih besar daripada kerugiannya. Jika orang itu memang menyembunyikan sesuatu, pertemuan ini bisa menjadi peringatan bagi pihak-pihak lain. Jika tidak, tentu akan lebih baik.
Di dalam mobil, setelah Tang Tian menjelaskan situasinya secara singkat, Li Jun langsung mengernyitkan dahi.
“Serius? Tang Tian, Ketua Tim Tang, kau mau menyelidiki kasus ini? Aku pernah mendengar tentang kasus ini. Ketua Tim Liu pernah dibuat kerepotan gara-gara perkara ini. Tidak ada yang memberitahumu? Kenapa kau malah sengaja mencari masalah?”
“Apa maksudmu?”
“Kau tidak tahu? Aduh, Ketua Tim Liu juga pernah menyelidikinya. Setelah memeriksa selama setengah bulan, dia menyimpulkan bahwa itu kematian wajar. Nenek itu malah menuduhnya melindungi penjahat. Waktu itu, dia membuat Ketua Tim Liu dipermalukan di depan pintu masuk sampai hampir tidak bisa menyelamatkan muka. Benar-benar memalukan. Sebaiknya kita kembali saja dan jangan menyelidikinya. Sungguh.”
“Ah, jangan banyak bicara. Entah itu kematian wajar atau pembunuhan, kita tetap harus memberikan penjelasan kepada keluarganya. Membiarkan perkara ini berlarut-larut tanpa kejelasan, memangnya bisa disebut penyelesaian?”
“Baik, baik, Ketua. Aku ikut katamu.”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Keduanya segera tiba di Rumah Sakit Rakyat. Sebagai rumah sakit terbesar di Linhai, pintu masuk Rumah Sakit Rakyat yang terletak di Jalan Bazhong selalu dipenuhi lalu lintas kendaraan dan orang.
Setelah bersusah payah memarkir mobil, Tang Tian dan Li Jun pun masuk ke gedung tempat Departemen Bedah Jantung berada.
Ketika Tang Tian mengikuti papan petunjuk hingga tiba di lantai tempat Tang Quanming bertugas, dia melihat para dokter dan pasien berlalu-lalang dengan sibuk di koridor. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus mencari Tang Quanming ke mana. Mereka baru saja mendatangi ruang kerja Tang Quanming, tetapi sayangnya tidak ada siapa pun di sana.
“Kak, kenapa Kakak boleh bermarga Wang, sedangkan aku harus bermarga Tang? Apa nanti Kakak bukan kakakku lagi?”
Saat Tang Tian hendak bertanya kepada petugas di meja perawat, percakapan dua anak yang duduk di kursi dekat lorong menarik perhatiannya.
“Tidak apa-apa. Ayah dan Ibu Jiao Jiao sudah bilang, apa pun margamu, kau tetap adikku.”
“Tapi aku tidak suka. Aku tetap lebih suka dipanggil Wang Dabao. Aku juga tidak suka memanggil Ibu Jiao Jiao. Aku rindu Ibu. Kakak juga rindu, tidak? Aku juga rindu Nenek dari pihak Ibu.”
“Adik kecil, siapa namamu?” Tang Tian langsung berbalik, berjongkok di hadapan kedua anak itu, lalu bertanya sambil tersenyum.
“Kami tidak mengenalmu. Ayah bilang kami tidak boleh sembarangan berbicara dengan orang asing.” Anak perempuan itu jelas lebih dewasa. Begitu melihat Tang Tian berjongkok di hadapan mereka, dia segera merangkul bahu anak laki-laki tersebut.
“Aku mengenal ayah kalian. Ayah kalian bernama Tang Quanming, bukan? Dia dokter di rumah sakit ini. Aku bahkan tahu nama kalian. Kau Wang Yue, dan kau Wang Dabao. Tebakanku benar, bukan?”
Halaman (3/3)