Bab Tiga: Tempat Kejadian yang Aneh
"Siap, Kapten. Total ada dua korban jiwa, seorang ibu dan anak perempuannya. Ibunya bernama Zhang Guifen, berusia 31 tahun, bekerja di Pabrik Transformator Linhai Kedua sebagai pekerja pengepakan. Anaknya bernama Liu Tiantian, berusia 7 tahun, bersekolah di SD Chengxi. Kepala keluarga ini bernama Liu Dabao, 33 tahun, seorang sopir truk yang sedang tidak di rumah. Kedua korban, baik yang dewasa maupun anak-anak, sama-sama meninggal karena luka sayatan di leher. Selain itu, dokter forensik Lang tadi memeriksa dan mengatakan, keduanya tewas hanya dengan satu kali tebasan."
Mendengar penjelasan itu, sudut mata Lei Dapao pun sedikit berkedut.
"Bagaimana mereka ditemukan? Siapa yang melaporkan?"
"Tetangga sebelah, seorang ibu tua. Katanya, biasanya kalau bukan hari libur, Liu Tiantian sudah berangkat ke sekolah sebelum jam setengah delapan, dan ibunya Zhang Guifen berangkat kerja jam delapan. Biasanya, sekitar pukul tujuh, Zhang Guifen mengantarkan anaknya ke sekolah dengan sepeda lalu berangkat kerja. Tapi hari ini, sampai lewat jam sembilan tidak terlihat mereka, dipanggil juga tidak ada respons. Lalu beliau coba dorong pintu, ternyata tidak terkunci, dan begitu terbuka langsung melihat kejadian ini."
"Bagaimana kondisi TKP? Ada temuan apa saja?"
"Pintu dan jendela tidak ada kerusakan, rumah juga tidak tampak bekas diacak-acak. Kami menemukan beberapa jejak kaki dan sidik jari di sekitar Zhang Guifen, sudah saya minta untuk diambil sampel dan dibuat cetakannya. Sepertinya ini bukan motif perampokan."
"Jangan buru-buru menyimpulkan. Begini, Li Jun, kamu bawa satu orang untuk menelusuri warga desa, cari tahu informasi tentang keluarga ini sedetail mungkin. Er Hu, kamu dan tim periksa lagi secara teliti di sekitar TKP, lihat apakah ada jejak mencurigakan lain. Anak muda, kau sebaiknya siapkan mental, ikut aku ke TKP."
Walaupun Lei Dapao sudah mengingatkan, Tang Tian merasa sudah cukup siap. Namun, begitu melangkah masuk ke TKP, bau amis darah yang menyengat dan wajah korban yang tewas dengan mata terbuka, terutama jasad anak perempuan di atas ranjang, benar-benar memberikan dampak yang luar biasa. Pengalaman ini tak bisa dibandingkan dengan sekadar menonton video atau melihat manekin saat masih di sekolah. Untungnya, meski perutnya mulai mual, Tang Tian berhasil menahan diri untuk tidak muntah. Namun, urat di keningnya tampak menonjol, menandakan ia sangat menahan diri.
Binatang, bajingan! Hanya kata-kata itu yang terlintas di benak Tang Tian untuk menggambarkan pelaku.
Terutama ekspresi terakhir yang tertinggal di wajah Liu Tiantian, ketakutan, kebingungan, campur aduk yang membekas di wajah polos itu, menusuk saraf Tang Tian.
Saat itu, Tang Tian tidak menyadari jika Lei Dapao meliriknya dalam-dalam.
"Wah, Dapao, ada anggota baru di tim ya? Anak ini hebat juga, untuk pertama kali melihat TKP seperti ini masih bisa bertahan, masa depannya cerah!" Sebuah suara tiba-tiba menarik Tang Tian kembali ke kenyataan.
"Ya, lumayanlah! Anak muda, ini dokter forensik kita, Lang Qingguo."
"Salam, Dokter Lang. Nama saya Tang Tian."
"Salam juga, panggil saja aku Pak Lang, kamu bagus juga."
"Sudah, langsung saja, Pak Lang. Beri saya informasi yang berguna. Setiap menit pelaku berkeliaran, masyarakat semakin terancam."
"Ini TKP yang aneh. Pertama, kedua korban tewas hanya dengan satu kali tebasan, sangat bersih dan rapi. Saya periksa lukanya, tidak ada bekas tusukan kedua. Dari arah luka, pelaku menggunakan tangan kanan. Dengan memperkirakan tinggi badan korban, pelaku diperkirakan memiliki tinggi badan antara 170 hingga 180 cm. Kira-kira itu saja. Oh ya, waktu kematian sekitar pukul sebelas sampai dua belas malam tadi."
"Larut malam juga?" Tang Tian mengernyitkan dahi.
"Benar."
"Senjata pembunuhnya?"
"Pisau khusus yang sangat tajam, bukan pisau buah biasa. Saluran napas korban sampai terpotong, karena itu mereka tidak sempat berteriak minta tolong. Menurut saya, senjatanya mirip pisau bedah. Luka sangat rapi tanpa robekan, dan di bagian tubuh lain tidak ada luka perlawanan, jadi saya yakin mereka dibunuh dengan satu kali tebasan saja. Tapi untuk pastinya, harus menunggu hasil otopsi detail."
"Dokter Lang, Anda tadi bilang TKP-nya aneh, maksudnya apa?" tanya Tang Tian tiba-tiba.
"Keanehannya, jejak kaki dan sidik jari hanya ditemukan di sekitar korban dewasa. Di sekitar korban anak di ranjang tidak ditemukan jejak sama sekali—tidak ada sidik jari, jejak kaki, atau rambut. Selain itu, pakaian Liu Tiantian adalah piyama. Dari arah percikan darah, dia dibunuh saat sedang tidur."
Mendengar ini, baik Tang Tian maupun Lei Dapao mengerutkan dahi. Benar juga, seperti kata Pak Lang, aneh sekali. Di sekitar Liu Tiantian tidak ada jejak, seolah sudah dibersihkan, tapi kenapa hanya di sekitar Liu Tiantian, sementara di sekitar Zhang Guifen tidak ada upaya membersihkan?
"Baik, begitu saja. Kalian angkut saja jenazahnya, segera lakukan otopsi, terima kasih atas kerjasamanya," kata Lei Dapao.
Segera, Pak Lang memerintahkan petugas mengangkat jenazah. Namun, saat jasad Liu Tiantian dibawa keluar, Tang Tian kembali mengernyit. Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang terlewat dari pengamatannya.
Apa yang aku lewatkan? Tang Tian merasa ada selapis kabut tipis di depan matanya. Tinggal ditiup sedikit pasti akan hilang, tetapi ia tidak bisa menemukan jawabannya.
"Lagi mikir apa?" Lei Dapao menepuk belakang kepala Tang Tian, membuyarkan lamunannya.
"Bukan begitu, Guru. Boleh nggak kita buat kesepakatan?"
"Coba katakan."
"Bisa nggak kalau jangan pukul kepala saya? Saya ini anak tunggal, kalau rusak nanti siapa yang tanggung jawab?"
"Kamu sekolah apa cuma belajar ngelawan guru saja? Tapi jujur, kamu hebat juga. Pertama kali turun ke TKP begini saja bisa bertahan, lebih bagus dari saya dulu. Dulu, di medan perang, peluru 7,62 mm menembus kepala musuh, itu bukan pistol biasa. Kepala musuh meledak, saya hampir pipis di celana waktu pertama kali lihat. Bayangkan saja, luar biasa!"
Ya ampun! Seketika Tang Tian merasa dua bakpao yang dimakannya pagi tadi memberontak di perut. Ia menutup mulut dan berlari keluar.
Begitu sampai di tembok luar, Tang Tian langsung muntah-muntah hebat. Sambil muntah, ia mengutuki Lei Dapao dalam hati—guru macam apa ini!
Lei Dapao berjalan santai ke sampingnya, bersandar di tembok, menyalakan sebatang rokok, dan menatap Tang Tian yang nyaris memuntahkan isi perutnya.
"Sudah selesai? Kalau belum, teruskan saja. Kalau sudah, kita mulai kerja lagi."
"Guru, ini keterlaluan!"
"Kamu kira aku sengaja? Muntah itu tidak memalukan. Tanya saja Er Hu dan Li Jun, siapa yang tidak muntah saat pertama kali melihat kejadian seperti ini? Muntah bukan berarti kau penakut. Justru itu tanda kamu punya simpati pada korban, dan menghargai kehidupan."