Bab 30: Pacaran sampai kehilangan akal?
Halaman (1/3)
Huo Yan berada di vila Fu Jingyi ketika menerima stiker dari Yu Nian. Sudut bibirnya nyaris tak mampu menahan senyum.
Ia menatap dua orang di hadapannya.
“Kalian punya stiker juga?”
Fu Jingyi dan Wenren Lin menatapnya dengan ekspresi tak percaya. Ini benar-benar Huo Yan, atau Shao Mubai?
“Huo Yan, apa kau kehilangan akal gara-gara berpacaran?”
Fu Jingyi bahkan tak lagi berpura-pura bersikap lembut.
“Padahal mereka belum benar-benar berpacaran,” timpal Wenren Lin.
Huo Yan tidak pernah menanyakan kejadian sebelumnya kepadanya, dan Wenren Lin pun dengan penuh pengertian tidak pernah menyinggungnya.
Ada beberapa hal yang lebih baik mereka jelaskan sendiri. Sebagai orang luar, ia tidak ingin ikut campur.
Suasana hati Huo Yan sedang baik, jadi ia tidak mempermasalahkan ucapan mereka.
Ia langsung bangkit dan pergi.
“Aku pergi dulu. Nian-Nian masih menungguku.”
Kedua orang itu memandang satu sama lain setelah melihatnya keluar, lalu mengajukan pertanyaan yang sama-sama mengusik hati mereka.
“Dia datang untuk apa?”
Baru duduk sebentar, ia hanya menatap ponsel tanpa mengobrol dengan mereka, lalu pergi begitu saja?
Tentu saja Huo Yan punya pertimbangannya sendiri. Alasan ia datang untuk menyapa hanyalah kedok; member Yu Nian ruang untuk menerima perasaannya adalah tujuan sebenarnya.
Ia juga takut tindakannya terlalu berlebihan hingga membuat Yu Nian tidak nyaman, atau bahkan membuat gadis itu langsung menolaknya.
Ia cukup memahami Yu Nian. Gadis itu berhati dingin, dan pada dasarnya sedikit banyak mirip dengannya.
Bukan berarti dengan berbuat sebaik mungkin ia pasti bisa menyentuh hati Yu Nian. Bahkan, semua yang ia lakukan bisa saja justru berbalik menjadi bumerang.
Karena itu, ia menguji Yu Nian selangkah demi selangkah, mencoba mengetahui sejauh mana gadis itu mampu menerimanya.
Baru setelah menerima pesan dari Yu Nian, hatinya benar-benar merasa lega.
Huo Yan kembali ke kediamannya. Begitu masuk, ia langsung melihat Yu Nian berada di ruang tamu. Saat itu gadis itu sudah berganti pakaian.
Huo Yan sempat terpaku, lalu diliputi kegembiraan yang luar biasa. Yu Nian bukan hanya menerima perasaannya, tetapi juga mengenakan pakaian yang ia kirimkan.
Begitu melihatnya masuk, Yu Nian berdiri dan berputar sekali.
“Bagus, tidak?”
Gaun panjang berwarna hijau muda itu membuat kulitnya tampak semakin putih, sementara lekuk tubuhnya terlihat begitu proporsional.
Huo Yan berjalan mendekat dan menelan ludah.
“Bagus sekali. Ini pertama kalinya aku melihatmu mengenakan gaun. Sangat cocok untukmu.”
Mendengar itu, Yu Nian sedikit kehilangan fokus. Kali terakhir ia ingat mengenakan gaun adalah saat memakai gaun putri yang dahulu ternoda merah oleh darah.
“Sepertinya seleraku memang cukup bagus.”
Suara Huo Yan menarik Yu Nian kembali dari lamunannya.
Perhatian Yu Nian pun beralih.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Ini kau yang memilihnya?”
Ia semula mengira semua barang itu dikirim dari pusat perbelanjaan. Pakaian, sepatu, bahkan pakaian dalam dan piyama pun sudah tersedia.
Jadi Huo Yan yang memilihnya? Kalau begitu…
Seolah mengetahui apa yang sedang dipikirkannya, Huo Yan menepuk lembut kepalanya.
“Pakaian dalamnya dibelikan oleh Bibi He. Semua pakaiannya dibuat khusus dan modelnya sama seperti milikku.”
Yu Nian mengembuskan napas lega. Ia benar-benar sempat terkejut. Saat berada di Taman Yan, Bibi He-lah yang mengurus kamar dan pakaian gantinya, jadi tentu saja ia tahu ukuran pakaian dalamnya.
Yu Nian kembali meringkuk di sofa, menggoyang-goyangkan kaki dengan acuh tak acuh. Jelas terlihat bahwa saat ini ia sangat santai dan suasana hatinya sedang baik.
Huo Yan ikut duduk di sisi lain.
“Nian-Nian menyukai tempat ini?”
“Suka. Rasanya aku bahkan tidak ingin pergi.”
Yu Nian mengangguk tanpa ragu. Setiap sudut tempat ini sesuai dengan seleranya, dan itu menunjukkan betapa sungguh-sungguhnya Huo Yan menyiapkannya.
“Nona Yu, apa kau lupa bahwa pelatihan militer hampir berakhir?”
Huo Yan berkata sambil tersenyum. Masa liburan gadis kecil itu akan segera berakhir.
Yu Nian melemparkan bantal sofa kepadanya.
“Haruskah kau membicarakan hal yang menyebalkan itu tepat saat aku sedang bahagia?”
Huo Yan menangkap bantal tersebut.
“Aku salah. Yang Mulia Nian-Nian begitu murah hati, jangan marah kepadaku, ya?”
Yu Nian menegakkan tubuh dan menatap Huo Yan dengan sungguh-sungguh.
“Kalau kau menyetujui satu permintaanku, aku tidak akan mempermasalahkannya lagi.”
“Selain meminta izin tidak masuk, kau boleh mengajukan apa pun.”
Yu Nian langsung kembali menelungkup di sofa.
“Kalau begitu, lebih baik aku tetap marah.”
Huo Yan memandang Yu Nian dengan senyum yang semakin lebar. Mengapa gadis ini begitu menggemaskan?
Ia tidak ingin lagi menyinggung hal-hal yang membuat Yu Nian sedih, maka ia mengalihkan pembicaraan.
“Mubai mengajak kita makan siang di restoran. Nian-Nian mau pergi?”
Yu Nian mengangguk. Kalau ia tidak pergi, belum tentu Huo Yan juga akan datang. Tidak mungkin terus-menerus membuat pria itu menyesuaikan diri dengannya.
“Kita masuk dari pintu belakang dan langsung menuju ruang pribadi. Wenren dan Jingyi juga ada di sana.”
Yu Nian akhirnya tidak lagi bimbang. Makan bersama mereka masih bisa ia terima. Mereka sudah cukup dikenal, dan orang-orang itu tahu batas sehingga tidak akan membuatnya merasa tidak nyaman.
Mereka masih mengobrol beberapa kalimat ketika Fu Jingyi menelepon Huo Yan, meminta mereka keluar agar bisa pergi bersama ke restoran.
Keduanya bangkit dan keluar. Sesampainya di dekat pintu masuk, Huo Yan mengambil sebuah payung. Yu Nian melangkah keluar dan mendongak menatap langit. Matahari sedang bersinar terik.
“Akan hujan?”
“Untuk melindungimu dari matahari.” Huo Yan menghela napas. Matahari seterik itu bisa membuat kulitnya terbakar.
“Baiklah. Kau benar-benar sangat teliti.”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Yu Nian merasa kagum. Pria itu benar-benar tidak menganggap semua ini merepotkan.
Huo Yan tidak tahu sudah untuk keberapa kalinya ia menghela napas. Gadis tak tahu berterima kasih ini malah menertawakannya. Ia seorang pria dewasa, tetapi harus membawa payung untuk melindungi diri dari matahari.
Mereka berjalan menuju pintu keluar kompleks vila. Payung itu dimiringkan ke arah Yu Nian.
Barulah Yu Nian menyadari bahwa payung itu memang dibawa Huo Yan untuknya.
Bibir Yu Nian bergerak sedikit, tetapi pada akhirnya ia tidak mengatakan apa-apa.
Ia belum terbiasa. Sebelumnya, ia juga tidak pernah menggunakan benda semacam itu.
Begitu masuk ke mobil yang menunggu di pintu masuk, Wenren Lin dan Fu Jingyi sudah berada di dalam. Mobil itu melaju menuju restoran di vila pegunungan.
“Nona Yu, lama tidak berjumpa.”
“Tuan Fu.” Yu Nian menjawab dengan sopan.
Wenren Lin seperti biasa tetap pendiam. Ia hanya mengangguk kecil sebagai salam.
Setelah menyapa mereka, Yu Nian mengeluarkan ponselnya dan memusatkan perhatian pada sesuatu di layar.
Fu Jingyi memandang Huo Yan.
“Kakak beradik keluarga Zhou sudah datang.”
“Tidak ada hubungannya denganku,” jawab Huo Yan dingin.
Keluarga Zhou yang dimaksudnya adalah keluarga terpandang lama dari Hong Kong. Di kalangan politik maupun bisnis Hong Kong, keluarga itu memiliki pengaruh besar dan kedudukan yang sangat terhormat.
Seiring membaiknya hubungan antara kedua wilayah dalam beberapa tahun terakhir, keluarga Zhou menunjukkan kecenderungan untuk mengembangkan bisnis ke daratan. Tentu saja proyek yang mereka garap bukan proyek kecil, sehingga mereka pun berkenalan dengan Huo Yan dan yang lainnya.
Hubungan dalam keluarga Zhou cukup rumit. Tuan Besar Zhou adalah seorang pria yang gemar bermain asmara. Ia pernah menikah tiga kali dan memiliki banyak putra-putri.
Urusan bisnis di daratan ditangani oleh keluarga dari istri kedua Tuan Besar Zhou. Orang yang datang kali ini adalah putra dan putri dari keluarga tersebut.
Fu Jingyi sengaja mengingatkan Huo Yan karena beberapa tahun lalu, ketika Nona Zhou itu baru datang ke daratan, ia pernah bertemu Huo Yan di sebuah pesta. Sejak saat itu, ia terang-terangan menyatakan bahwa dirinya tidak akan menikah dengan siapa pun selain Huo Yan.
Nona Zhou itu seolah sama sekali tidak memahami penolakan. Setiap kali datang ke daratan, ia selalu mencari berbagai cara untuk bertemu Huo Yan secara “kebetulan”.
Sebenarnya, dengan kedudukan mereka, semua orang memahami bahwa selain Huo Yan, hal lain yang diincar Nona Zhou adalah keluarga Huo.
Namun kali ini Yu Nian juga ada di sana. Jika sampai terjadi kesalahpahaman, tentu akan merepotkan.
Dahulu, tak peduli seberapa keras Nona Zhou bertingkah, Huo Yan selalu mengabaikannya begitu saja. Bagaimanapun, wanita itu tidak mampu menimbulkan masalah baginya.
Tetapi kali ini, jika Yu Nian sampai terseret, sulit menjamin Huo Yan tidak akan langsung memutuskan hubungan dan bermusuhan dengan keluarga Zhou.
Wenren Lin berkata dengan tenang,
“Kau sebaiknya mencemaskan dirimu sendiri. Setelah hari ini, kemungkinan besar dia akan mengincarmu.”
Wanita itu sangat cerdas. Ia hanya ingin menikah dengan keluarga yang sederajat, atau bahkan lebih kuat daripada keluarga Zhou.
Ia tidak akan mencari masalah dengan Huo Yan. Begitu melihat bahwa Huo Yan sudah memiliki seseorang yang disukai, ia hanya akan mengganti target dengan calon lain yang kurang lebih setara.
Fu Jingyi terdiam.
Ada umpatan yang entah pantas diucapkan atau tidak.