Bab 26 Yu Nian si Kecil yang Menyimpang
Halaman 1/3
Yu Nian menyeret pipa baja itu ke hadapan mereka. Anak buah Wenren Lin mundur beberapa langkah untuk memberinya ruang.
Yu Nian berkata dalam bahasa Inggris,
“Ceritakan semua yang kalian ketahui.”
Wanita itu memasang wajah meremehkan dan sama sekali tidak berniat menjawab. Dua orang lainnya juga membisu.
Yu Nian tersenyum dengan cara yang agak mengerikan.
“Tidak mau bekerja sama? Bagus sekali.”
Ia menyuruh orang menyeret pria itu keluar, lalu mengayunkan pipa baja ke lengannya. Bersamaan dengan jeritan kesakitan, orang-orang di sekitarnya mendengar dengan jelas bunyi tulang yang retak.
Wanita yang semula memasang wajah penuh penghinaan itu seketika berubah air muka. Sopir di sampingnya bahkan begitu ketakutan sampai kedua kakinya lemas dan ia langsung terduduk di tanah.
Wanita itu berteriak,
“Kami tentara Negara E! Kau tidak berhak menyiksa kami! Aku ingin berbicara dengan pemerintah kalian!”
Mengabaikan ocehannya yang tak kunjung berhenti, Yu Nian kembali mengayunkan pipa baja. Kali ini hantamannya mendarat di lutut. Suara tulang retak terdengar lebih nyaring, dan pria itu menjerit sebelum roboh.
“Aku akan bicara! Aku akan bicara!”
Teriakan itu terdengar sampai ke mobil tanpa bantuan alat komunikasi. Du Lizhen yang meringkuk ketakutan menggigil hebat, memejamkan mata rapat-rapat sambil memeluk dirinya sendiri.
“Nona Du, perhatikan baik-baik. Kalau tidak, kau tidak perlu lagi memakai matamu.”
Suara dingin itu terdengar dari arah mobil. Wenren Lin tahu alasan Yu Nian membawa Du Lizhen kemari. Lagi pula, ia sendiri sering menggunakan cara semacam ini, jadi tentu saja ia akan membantunya.
Du Lizhen semakin gemetar ketakutan. Ia tak berani lagi memejamkan mata. Anak buah Wenren Lin menyeretnya ke sisi jendela mobil agar ia menyaksikan pemandangan kejam di luar.
Pria itu masih memohon ampun.
“Jangan pukul lagi! Jangan pukul lagi! Apa pun yang ingin kau ketahui, akan kukatakan.”
Yu Nian berdecak.
“Sayang sekali, sekarang aku sudah tidak ingin mendengarnya.”
Ia memberi isyarat agar mulut pria itu disumpal, lalu terus memukulinya sampai keempat anggota tubuhnya patah.
Pria yang dipukuli hingga pingsan itu terbaring tengkurap di tanah, tubuhnya berlumuran darah. Yu Nian menghampirinya dan memeriksa denyut nadinya.
“Nyawamu ternyata cukup kuat.”
Akhirnya, wajah wanita itu menunjukkan rasa ngeri. Kali ini mereka benar-benar berhadapan dengan lawan tangguh.
Pihak di hadapan mereka bukan pemerintah Negara R. Transaksi mereka kali ini telah mengalami masalah.
Melihat Yu Nian menyeret pipa baja yang berlumuran darah ke arahnya, wajah wanita itu berubah drastis.
“Kau tidak bisa berbuat begini! Kami adalah tamu keluarga Wenren!”
Wanita itu mengungkit keluarga Wenren, berusaha mengintimidasi Yu Nian. Tak peduli dari pihak mana lawan mereka berasal, bahkan pemerintah Negara R pun harus memberi sedikit muka kepada keluarga Wenren di tempat ini.
Di dalam mobil, Wenren Lin mendengar ucapan wanita itu melalui alat komunikasi. Tampaknya ada beberapa orang dalam keluarganya yang mulai gelisah dan berani ikut campur dalam urusan semacam ini.
Melihat Yu Nian yang sama sekali berbeda di luar sana, kilatan aneh melintas di matanya. Ia tersenyum tanpa suara.
Huo Yan benar-benar beruntung.
Yu Nian langsung menyuruh orang menyumpal mulut wanita itu, lalu mematahkan keempat anggota tubuhnya dengan cara yang sama.
Halaman 1/3
Halaman 2/3
Sopir yang sejak tadi ketakutan hingga lemas seperti gumpalan lumpur itu tiba-tiba bangkit dan merangkak, lalu berlutut di hadapan Yu Nian.
“Aku akan menceritakan semuanya! Aku akan menceritakan semuanya!”
Yu Nian membungkuk menatapnya. Pria itu ketakutan hingga mundur meringkuk. Pertahanan mentalnya telah sepenuhnya runtuh.
Seperti kacang yang ditumpahkan dari tabung bambu, ia menceritakan semuanya tanpa menyembunyikan apa pun. Dua orang yang telah dilumpuhkan itu adalah anggota militer negara mereka dan bertugas melakukan transaksi dengan Du Lizhen.
Sementara itu, ia dikirim oleh pihak pemerintah untuk mengawasi mereka. Pemerintah dan militer memang selalu berselisih. Tugasnya adalah mengawasi mereka agar tidak menyembunyikan informasi untuk kepentingan pribadi.
Adapun isi informasi milik Du Lizhen, mereka tidak diizinkan untuk mengetahuinya.
Tidak jauh dari sana terdapat sebuah tempat persembunyian yang disediakan oleh orang-orang dari keluarga Wenren. Semula, mereka hendak membawa Du Lizhen ke sana untuk menghubungi atasan mereka.
Setelah memperoleh hampir semua informasi yang dibutuhkan, Yu Nian memberi perintah agar ketiga orang itu kembali dibawa ke mobil.
Sesampainya di mobil, ia menerima tisu basah yang disodorkan Wenren Lin, lalu mengusap jari-jarinya dengan tenang dan perlahan.
“Bajuku jadi kotor.”
Meskipun terdengar seperti keluhan, jelas bahwa suasana hati Yu Nian tampaknya cukup baik.
Senyum Wenren Lin semakin lebar.
Ternyata dia juga sedikit gila.
“Akan kusuruh seseorang mengantarkan pakaian untukmu.”
“Nona Yu, bagaimana kau ingin menangani mereka?”
“Tentu saja memusnahkan semua jejak. Kau lebih ahli dalam hal ini daripada aku, bukan?”
Yu Nian mengatakannya dengan acuh tak acuh.
Ia melirik sekilas Du Lizhen yang sudah duduk di lantai dan menggigil seperti daun kering. Berani melakukan hal semacam ini, sekarang baru tahu takut. Tampaknya cara membunuh ayam untuk menakuti monyet cukup efektif.
Wenren Lin sama sekali tidak terkejut mendengarnya. Sejak Yu Nian turun dari mobil, ia sudah tahu bahwa ketiga orang itu tidak akan selamat.
Du Lizhen merasa seluruh tubuhnya merinding melihat Yu Nian yang sekarang. Ia bahkan lebih ketakutan daripada saat menyaksikan Yu Nian menyiksa orang-orang tadi.
Rasa dingin yang menusuk terus menyebar dari lubuk hatinya. Mereka membicarakan pemusnahan jejak di hadapannya. Jangan-jangan ia juga akan dibungkam.
Ketika melihat tatapan Yu Nian mengarah kepadanya, ia langsung pingsan karena ketakutan.
Yu Nian tak bisa berkata-kata.
Dengan nyali sekecil itu, dia masih berani meniru orang lain menjadi mata-mata.
Mereka membawa ketiga orang itu kembali ke lokasi kecelakaan, lalu melemparkannya ke dalam mobil yang sebelumnya.
Yu Nian mengambil pistol Wenren Lin dan menembak tangki bahan bakar dua kali. Mobil itu seketika terbakar hebat. Mereka baru pergi setelah menyaksikan mobil tersebut hangus menjadi abu.
“Nona Yu benar-benar membuatku sedih. Kau tidak memercayaiku?”
Sebelumnya, ia telah memerintahkan anak buahnya untuk mematahkan leher ketiga orang itu dan memasukkan mereka ke dalam mobil. Namun Yu Nian tetap harus menyaksikan sendiri mereka terbakar hingga menjadi abu sebelum merasa tenang.
“Wanita tadi berkata bahwa tempat itu disediakan oleh keluarga Wenren.”
Maksud tersiratnya jelas: anak buahnya sendiri tidak bersih, jadi bagaimana ia bisa dipercaya?
Wajah Wenren Lin seketika menegang.
“Akan kutangani masalah ini.”
Halaman 2/3
Halaman 3/3
“Apakah Huo Yan tahu bahwa Nona Yu bisa membunuh tanpa mengedipkan mata seperti ini?”
“Yang membunuh adalah kau.”
Yu Nian menopang kepalanya sambil dengan santai melemparkan kesalahan kepadanya. Ia sebenarnya tidak takut Huo Yan mengetahuinya. Hanya saja, entah apakah pria itu akan menyesal nanti.
Yu Nian memikirkannya dengan penuh minat.
“Tenang saja. Ini bukan apa-apa. Nyali Huo Yan jauh lebih besar daripada yang kau bayangkan.”
Wenren Lin menatap Yu Nian dengan tatapan penuh makna.
Baru saja mereka membicarakan seseorang, orang itu langsung menelepon. Panggilan video dari Huo Yan masuk.
Mereka telah melewati malam yang panjang, meskipun langit di tempat itu masih belum terang.
Namun, waktu di dalam negeri sudah pagi. Setiap pagi dan malam, Huo Yan selalu menelepon Yu Nian.
Wenren Lin menatap Yu Nian dengan geli.
Mau diangkat atau tidak?
Wajah Yu Nian tetap tenang. Ia menerima panggilan video itu.
“Nian Nian.”
Huo Yan baru mengucapkan dua kata sebelum terdiam. Ia melihat Yu Nian tidak berada di rumah, melainkan di dalam mobil dengan pencahayaan yang remang-remang.
“Ya, aku berada di Negara R.”
Yu Nian sama sekali tidak berniat menyembunyikannya. Ia memutar kamera dan mengarahkannya kepada Wenren Lin.
“Aku bersamanya. Tenang saja.”
Shao Mubai, yang sedang bersama Huo Yan, ikut mendekat dan berseru heboh,
“Ikan Kecil, kau pergi ke rumah Kakak Lin?”
Tiga orang lain di kedua ujung panggilan video itu serentak terdiam. Huo Yan langsung mendorong Shao Mubai menjauh dan memperingatkannya dengan tatapan agar diam.
Saat kamera tadi berputar, Huo Yan melihat seorang wanita pingsan di sudut. Seharusnya, wanita itulah urusan yang dimaksud Yu Nian.
“Wenren Lin, lindungi Nian Nian baik-baik. Jangan sampai dia terluka.”
“Tidak berperasaan sekali. Bagaimana kalau aku yang terluka?”
“Itu berarti kau tidak berguna.”
Huo Yan menjawab tanpa belas kasihan.
Yu Nian terkekeh pelan. Ia cukup menikmati perhatian Huo Yan.
“Urusannya sudah selesai. Aku bersiap untuk pulang.”
Huo Yan tidak banyak berkata. Ia hanya meminta Yu Nian meneleponnya setelah tiba di rumah, lalu mengakhiri panggilan.
Halaman 3/3