Bab 79: Kota Batu Biru (Bagian Dua)
Sosok yang familiar di luar pintu itu, siapa lagi kalau bukan Yan Shi? Ini semakin membuktikan bahwa ucapan Li Tie memang benar. Seseorang berkaki lumpuh, merangkak dengan kecepatan kura-kura, tak mungkin bisa sampai ke Kota Batu Hijau dalam waktu sesingkat itu.
“Lao Tie, kita tanya dia saja? Barangkali dia tahu tentang Kota Batu Hijau itu,” kata Wu Qing.
Li Tie menggeleng pelan, “Kehadirannya di sini belum tentu berarti dia orang Batu Hijau.”
Wu Qing memanggil pemilik warung untuk membayar, lalu berdiri dan berjalan keluar, “Sudahlah, kita tak kenal siapa-siapa di sini, Yan Shi satu-satunya yang pernah kita temui. Kelihatannya memang dia sering beraktivitas di sekitar sini. Meskipun dia bukan orang Batu Hijau, setidaknya pengetahuannya pasti lebih banyak daripada kita.”
Li Tie mengangguk setuju, merasa ucapan Wu Qing masuk akal, lalu ikut keluar dari rumah makan.
Begitu Wu Qing dan Li Tie keluar, mereka langsung melihat Yan Shi menyapa orang lain dengan akrab. Namun, Wu Qing merasa ada sesuatu yang janggal, meski ia tak bisa menjelaskannya.
Bisa menyapa orang lain seperti itu, membuktikan Yan Shi bukan orang Batu Hijau, tapi jelas sangat mengenal daerah ini.
Wu Qing dan Li Tie saling bertatapan, lalu mendekat.
“Hai, bukankah ini Lao Fu? Kebetulan sekali!” sapa Wu Qing sambil berdiri di sisi Yan Shi.
Li Tie menegur, “Jangan bercanda, namanya Yan, bukan Fu.”
Yan Shi mendongak, melihat dua orang mengelilinginya. Ia merasa sedikit familiar, tapi tak ingat di mana pernah bertemu.
Wu Qing pura-pura tersadar, “Oh, kupikir marganya Voldemort, namanya Yan Shi.”
“Ding, kamu mendapat 50 poin rasa canggung.”
Sialan, siapa juga yang bermarga ‘Voldemort’, semua orang tahu itu cuma julukan, kan?
Tunggu, sekarang aku ingat siapa mereka berdua ini.
Baru tadi pagi bertemu.
“Kalian berdua, kebetulan sekali,” kata Yan Shi sambil tetap tengkurap di tanah.
Saat itu, kebetulan ada seseorang bertongkat lewat di dekat mereka.
Seketika, benak Wu Qing terasa tersentak, ia sadar di mana letak kejanggalan tadi.
Di zaman teknologi seperti sekarang, seorang lumpuh yang bepergian sendirian, kenapa harus merangkak?
Meski ‘pekerjaan’ Yan Shi agak istimewa, tapi setelah ‘jam kerja’ usai, di tempat umum seperti ini, kenapa harus bersusah payah merangkak?
Kenapa tidak membeli kursi roda saja?
Apalagi di Kota Batu Hijau, yang penuh dengan kenalan.
Lebih aneh lagi, orang-orang yang melihat Yan Shi merangkak, tampak tak merasa ada yang salah.
Apa mereka sudah terbiasa?
Mengapa tak pakai kursi roda? Benarkah ia tak mampu membelinya?
Wu Qing tidak percaya kalau Yan Shi, yang sehari tak terhitung berapa kali mendapat ‘promo 998’, tak mampu membeli kursi roda.
Sudahlah, memakai kursi roda atau tidak itu hak dia.
Barangkali ia merasa membawa kursi roda akan merepotkan saat terbang.
Daripada penasaran, lebih baik tidak dipikirkan.
“Benar-benar kebetulan, kita bertemu lagi,” kata Wu Qing.
Li Tie berjongkok, “Kelihatannya kau memang orang Batu Hijau?”
“Ya, tapi juga bukan,” jawab Yan Shi dengan nada ambigu.
Wu Qing dan Li Tie menatapnya dengan bingung.
Yan Shi terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Tempat ini juga disebut Batu Hijau, tapi ini kota baru yang baru saja dikembangkan, gabungan dari sebagian penduduk Batu Hijau lama dan pindahan dari kota-kota lain. Sedangkan aku, masih tinggal di Batu Hijau lama. Di sanalah, Batu Hijau yang sesungguhnya.”
“Batu Hijau lama?” tanya Wu Qing heran.
“Letaknya di balik gunung sana,” Yan Shi menunjuk ke arah pegunungan tak jauh dari situ, matanya memancarkan kesedihan dan kepasrahan.
“Di zaman ini, orang-orang mendambakan kehidupan yang gemerlap. Pedesaan miskin sudah tak mampu memuaskan mereka. Maka, begitu kota baru dibangun, sebagian orang tak sabar segera pindah.”
“Setiap orang berhak memilih hidupnya sendiri, memangnya apa yang perlu dipermasalahkan?” Wu Qing tak mengerti kenapa Yan Shi tampak kesal.
Apa karena uang ganti rugi belum disepakati?
Ucapan Wu Qing justru membuat Yan Shi semakin marah, “Kamu orang luar, tahu apa sih? Menjaga Batu Hijau itu...”
“Ehem, tidak apa-apa. Maaf, aku sedikit emosi tadi.”
Yan Shi buru-buru menahan diri, tampak ada sesuatu yang ia pikirkan.
Wu Qing tidak menyadarinya, tapi Li Tie yang mendengar ucapan Yan Shi tampak berubah raut wajahnya.
“Mari kita pergi ke Batu Hijau lama,” ujar Li Tie tiba-tiba.
Nada suara Wu Qing terdengar tegas, bukan meminta pendapat, tetapi seperti memberi perintah.
Wu Qing menatap wajah Li Tie, lalu mengerti.
Jangan-jangan Batu Hijau lama itu kampung halaman Li Tie?
Dari mana ia bisa seyakini itu?
Wu Qing merasa ada sesuatu yang tersembunyi, tapi ia tidak bertanya.
Kini, tampaknya ada benang merah yang mulai terjalin.
Awalnya, Wu Qing hanya mengira seorang pertapa abadi yang hidup ribuan tahun ingin pulang ke kampung halaman, mungkin karena rasa rindu yang mendalam.
Tetapi, sejak bertemu dengan Yan Shi sang pengendali spiritual yang tinggal di Batu Hijau lama, dan melihat sikap Li Tie yang yakin tanpa alasan bahwa Batu Hijau lama adalah kampung halamannya, Wu Qing yakin, ada sesuatu di balik semua ini.
“Kalian pasti dari kota, kan?” Yan Shi tetap merangkak pelan, menggelengkan kepala.
“Benar juga kata orang, sekarang ini penduduk desa berlomba-lomba ingin ke kota. Sedang orang kota, malah ingin ke desa. Lucu juga.”
Inilah penyakit zaman sekarang.
Orang desa iri dengan kehidupan mewah dan kemapanan di kota.
Sebaliknya, orang kota ingin kembali ke desa, mencari kesederhanaan dan hidup yang berjalan lambat.
Yan Shi tidak menawarkan diri jadi penunjuk jalan, ia hanya merangkak perlahan di depan.
Wu Qing merasa tak enak hati meninggalkan Yan Shi, jadi ikut berjalan ke Batu Hijau lama.
Sedangkan Li Tie, pikirannya melayang entah ke mana, seperti tidak hadir di tempat itu.
Keluar dari kota baru Batu Hijau, mereka masih harus menempuh jarak cukup jauh sebelum masuk ke pegunungan.
Sejak titik itu, tak ada lagi orang yang mereka jumpai.
Wu Qing berjalan santai di belakang, beberapa kali hampir saja berkata pada Yan Shi, ‘kau bisa terbang, tak perlu merangkak’, tapi takut menimbulkan salah paham ia urungkan niatnya.
“Kau bisa saja terbang, tak perlu merangkak,”
Hah?
Wu Qing menoleh, ternyata Li Tie yang mengucapkan isi hatinya.
Yan Shi awalnya terkejut, namun segera kembali tenang.
“Kau bicara pada aku?” tanyanya.
Li Tie mengangguk.
Yan Shi terkekeh, “Justru aku berharap bisa terbang, supaya tak perlu merangkak sesusah ini.”
“Tak perlu berpura-pura, aku tahu kau pengendali spiritual,” kata Li Tie tanpa basa-basi, langsung menyebut identitas Yan Shi.
Wajah Yan Shi berubah kaget, orang ini bahkan tahu istilah profesional itu, percuma berpura-pura bodoh lagi.
“Kau sebenarnya siapa?” Yan Shi segera menjauh dari Wu Qing dan Li Tie, waspada seperti siap bertarung.
Kecepatannya, meski merangkak, justru lebih cepat dari orang biasa berlari.
Wu Qing melirik Li Tie, ‘Jadi kita blak-blakan saja?’
Li Tie tidak menggubris Wu Qing, melangkah maju.
“Raja Langit menindas harimau!”
Wajah Yan Shi makin terkejut, lalu menjawab, “Ayam kecil dimasak jamur!”
Kemudian ia bertanya dengan nada penasaran, “Pagoda menaklukkan siluman sungai.”
Li Tie langsung menimpali, “Jamur dimasak cabai!”
Keterkejutan Yan Shi makin menjadi, “Kau... bagaimana bisa tahu sandi itu?”
Setahunya, di Batu Hijau lama tak pernah ada orang seperti Li Tie.
Kalau ada, pasti ia tahu.
Apalagi, Li Tie kelihatan lebih muda dari dirinya.
Wu Qing yang mendengar itu malah melongo.
Keterkejutan macam apa ini!
Sandi macam itu aku juga tahu!
Kau yakin sandi seperti itu pantas dipakai?