Menelan
Setelah Chen Mo memastikan kebenaran tentang gangguan makhluk halus dari si Gendut Jin, ia memang sudah berencana untuk menyelidikinya malam ini. Lagipula, jika memang benar ada setan jahat yang mencelakai orang namun tak ada yang menanganinya, pasti akan ada lagi nyawa tak bersalah yang menjadi korban. Mendengar penjelasan si Gendut Jin, semakin bulat tekadnya untuk mengecek sendiri malam ini; bila memang ada setan jahat itu, ia pasti akan membereskannya.
Setelah berpikir sejenak, ia berkata pada si Gendut Jin, “Kak Jin, kalau memang sepupumu ingin memanfaatkan masalah ini untuk menjatuhkanmu, jika masalah ini terselesaikan, bukankah ia tidak punya alasan lagi?”
Si Gendut Jin tertegun, lalu mengernyit, “Secara teori bisa begitu, tapi menyelesaikan masalah ini tidak mudah. Pagi tadi aku sudah memanggil seorang master fengshui terkenal, tapi rupanya ia sangat akrab dengan sepupuku itu. Entah apa yang diomongkan sepupuku, akhirnya si master itu menolak membantu.”
“Kak Jin, tak perlu memanggil master fengshui. Jika memang benar ada setan jahat yang mencelakai orang, belum tentu para master fengshui itu mampu menanganinya. Percayakan saja padaku. Aku jamin sebelum fajar, masalah ini sudah selesai.”
Mendengar ucapan Chen Mo, si Gendut Jin awalnya terkejut, lalu sangat gembira. “Kalau begitu, aku berterima kasih lebih dulu. Tapi, apa ada yang perlu kulakukan?”
Chen Mo menggeleng, “Tak usah, Kak Jin cukup tunggu kabar dariku saja.”
“Baiklah, aku pulang dulu menghadapi sepupuku itu,” kata si Gendut Jin, lalu berpamitan.
Usai sekolah sore itu, Chen Mo tak langsung pulang karena malam ini akan menyelidiki lokasi proyek itu. Untuk pertama kalinya, ia memilih tetap di kelas mengikuti pelajaran malam.
Namun, karena isu hantu yang beredar, usai jam sekolah sore hampir semua siswa pulang, hanya siswa asrama yang tinggal belajar di kelas. Melihat Chen Mo yang biasanya cuek belajar namun selalu juara satu, kini malah ikut belajar malam saat sedang heboh isu hantu, teman-temannya pun merasa aneh.
Mengabaikan tatapan itu, Chen Mo berpura-pura tidak melihat. Usai pelajaran malam berakhir, barulah ia meninggalkan sekolah menuju lokasi proyek yang disebut angker itu.
Lokasi proyek itu adalah bekas gudang peninggalan masa perang. Konon, kala itu tentara negeri matahari pernah menggunakannya sebagai gudang amunisi. Untuk meledakkan gudang itu, banyak pengorbanan yang dilakukan para pejuang. Setelah perang usai, gudang yang hancur itu pun lama-lama menjadi tak terurus.
Beberapa tahun terakhir, seiring pesatnya pembangunan kota, pusat kota pun makin bergeser ke arah gudang tua itu. Gudang tersebut kembali menjadi incaran banyak pengembang. Pada akhirnya, si Gendut Jin bersikeras melawan suara sumbang dari keluarga besar Jin dan berhasil mendapatkan lahan itu dengan harga mahal. Siapa sangka, musibah seperti ini justru menimpa.
Ketika Chen Mo sampai di depan bekas gudang itu, sudah lebih dari satu jam berlalu. Kini, bekas gudang itu sudah rata dengan tanah, menjadi lokasi proyek yang tengah dibangun dan dikelilingi pagar.
Bermodal cahaya rembulan, Chen Mo mengamati sekeliling, lalu masuk ke dalam proyek dari pintu utama.
Saat itu, dari kegelapan beberapa meter di belakang Chen Mo, ada sebuah mobil Audi terparkir dengan empat orang di dalamnya, tiga di antaranya langsung tampak terkejut melihat Chen Mo masuk ke proyek itu.
Keempat orang itu adalah Jin Mingliang, A Li, dan dua pengawal yang memang dipanggil oleh Jin Mingliang. Sejak kemarin malam, Jin Mingliang sudah menyuruh A Li mengawasi Chen Mo di gerbang sekolah untuk memberinya pelajaran. Namun, Chen Mo justru tetap di sekolah hingga pelajaran malam usai, sehingga A Li pun menunggu di depan gerbang hingga Chen Mo keluar dan segera mengabari Jin Mingliang.
Setelah mendapat kabar, Jin Mingliang untuk berjaga-jaga membawa dua pengawal tambahan, lalu mengikuti Chen Mo hingga ke lokasi proyek tersebut.
Awalnya, mereka senang karena merasa Chen Mo sedang menggali kuburnya sendiri dengan masuk ke tempat terpencil begitu. Di lokasi sunyi seperti itu, meski mereka membunuh Chen Mo, tak akan ada yang tahu. Tapi begitu Chen Mo masuk ke proyek itu, wajah A Li dan dua pengawal lainnya langsung berubah pucat. A Li berkata dengan suara gemetar, “Tuan Muda, ini kan proyek yang semalam dikabarkan angker. Chen Mo masuk ke dalam, apa kita masih mau ikut masuk?”
Meski Jin Mingliang bergaya bak anak orang kaya yang manja, ia juga penganut paham ateis. Ia yakin tak ada hantu atau takhayul di dunia ini. Melihat ketakutan tiga orang itu, ia memaki, “Cih, aku saja yang tak punya kemampuan khusus tidak takut, kalian ini takut apa? Mana ada hantu di dunia ini! Kita masuk saja, malam ini aku harus membinasakan Chen Mo!”
Mendengar itu, tiga orang tadi agak malu. Benar juga, Jin Mingliang saja berani, kenapa mereka harus takut? Seorang pengawal yang cukup cerdik segera menyanjung Jin Mingliang, “Betul, Tuan Muda benar. Mana ada hantu di dunia ini. Chen Mo masuk situ artinya memang cari mati. Kita masuk, bereskan dia. Besok kalau mayatnya ditemukan, pasti semua orang pikir itu ulah hantu, tak akan ada yang curiga pada kita.”
Pengawal lain tak mau kalah, langsung menyanjung dengan tertawa, “Benar! Tuan Muda memang hebat. Kalau begitu, ayo kita masuk, jangan sampai bocah itu kabur!”
“Haha, betul! Malam ini kita tuntaskan Chen Mo, besok malam aku akan menikmati kakaknya, eh, maksudku pacarnya!” Jin Mingliang tertawa keras, lalu turun dari mobil.
Setelah masuk ke area proyek, bermodalkan cahaya rembulan, mereka langsung melihat Chen Mo. Kini, fondasi proyek sudah digali, dan mereka melihat Chen Mo turun ke bawah, sehingga mereka pun buru-buru mengikuti.
Di perjalanan, Chen Mo sebenarnya sudah sadar Jin Mingliang dan yang lain mengikutinya. Maka, ketika mereka masuk ke area proyek, Chen Mo tersenyum dingin di dalam hati. Ia tahu hubungan keluarga Jin dan Jin Mingliang memang tidak akur, jadi ia tak perlu menjaga perasaan si Gendut Jin.
Karena Jin Mingliang memang mencari mati sendiri, Chen Mo tentu tidak akan menghalangi. Mendengar langkah kaki mereka mendekat, Chen Mo berpura-pura tidak peduli.
Beberapa menit kemudian, Chen Mo sudah sampai di dasar fondasi. Ia mendongak, dan melihat sekeliling penuh dengan kabut gelap yang tebal, bertumpuk-tumpuk seperti neraka kecil.
Melihat itu, jantung Chen Mo pun agak berdebar, namun di saat bersamaan Jin Mingliang dan tiga orangnya mengepung dari belakang sambil menyeringai, “Chen Mo, malam ini kau pasti mati.”
Chen Mo menoleh dan menatap mereka dengan senyum mengejek, “Begitukah? Kurasa yang mati malam ini kalian. Kalian tahu tempat apa ini?”
“Apaan, ini cuma proyek bobrok, kan?” Jin Mingliang mencibir. “Kau mau bilang proyek ini angker dan hendak menakuti kami? Aku kasih tahu, aku berani masuk, berarti aku tidak takut hantu. Kalau pun ada, aku tangkap hantunya buat mainan di rumah!”
Jin Mingliang menatap tiga orang di belakang yang masih bengong, lalu membentak, “Ngapain bengong, cepat maju! Mau tunggu Chen Mo bunuh diri?”
A Li pun tersadar, lalu berkata pada dua pengawal, “Kalian tak usah ikut, aku sendiri cukup menghadapi bocah ini.”
Baru saja ia bersiap menyerang, tiba-tiba terdengar jeritan mengerikan dari arah pengawal bernama Yong, yang posisinya berada di belakang mereka.
Mendengar jeritan itu, bukan hanya A Li, bahkan Jin Mingliang dan satu pengawal lagi langsung menoleh untuk melihat apa yang terjadi. Tapi, Yong yang semula jelas berdiri di belakang mereka, kini menghilang. Tak lama, jeritannya kembali terdengar dari dekat mereka.
Refleks mereka menoleh ke arah suara, dan kali ini mereka melihat Yong. Dalam sekejap, entah makhluk apa yang membelah perutnya, isi perut dan darah segar tersebar di tanah. Ekspresi ketakutan di wajah Yong dan matanya yang melotot seolah melihat sesuatu yang sangat mengerikan.
Walaupun kemampuan Yong hanya sedikit di bawah A Li, ia tetap seorang pendekar kelas tinggi. Siapa sebenarnya yang mampu membunuhnya sekejam itu dalam waktu sesingkat itu?
Saat A Li, Jin Mingliang, dan satu pengawal lagi mulai ketakutan dan merinding, tiba-tiba angin dingin berhembus kencang di seluruh area proyek.
Langit yang tadi masih diterangi cahaya bulan mendadak berubah gelap, disertai lolongan hantu dan suara tangisan yang menggetarkan hati.
Melihat situasi itu, Jin Mingliang yang tadinya sombong langsung lupa dirinya seorang ateis. Ia menjerit pada A Li dan pengawal lain, “Lari! Cepat! Kita harus pergi dari sini!”
A Li dan pengawal lainnya tak peduli lagi pada Jin Mingliang, masing-masing lari menyelamatkan diri.
Namun, belum jauh berlari, tiba-tiba muncul dua pedang samurai melayang di udara dan menebas A Li dan pengawal itu hingga tubuh mereka terbelah dua.
Dari arah datangnya dua pedang itu, tampak dua kerangka kepala manusia mengenakan seragam tentara negeri matahari dengan mulut ternganga, menatap rakus pada mayat A Li dan pengawal tadi.
Setelah jiwa keduanya keluar dari tubuh, dua kerangka itu langsung menangkap dan menelan jiwa mereka bulat-bulat.
Sebenarnya, sebagai manusia biasa, Jin Mingliang tak seharusnya bisa melihat semua itu. Namun, karena energi negatif di sana sangat tebal, ia dapat menyaksikan semuanya.
Terlebih, saat dua kerangka itu menelan jiwa A Li dan pengawal tadi, bukan hanya Jin Mingliang, bahkan Chen Mo pun merinding.
Chen Mo pernah mendapat pengetahuan dari Guru Tua Pembakar Langit bahwa orang-orang kejam dan jahat setelah mati akan berubah menjadi setan jahat. Tidak seperti arwah biasa yang bingung, mereka memiliki kesadaran dan kerap memakan arwah lain untuk memperkuat diri.
Namun, saat menyaksikan kedua kerangka tentara negeri matahari itu menelan jiwa A Li dan pengawal lain, hati Chen Mo tetap saja terkejut.
“Ternyata masih ada dua lagi, Kojiro, ayo, kita bagi satu satu,” ujar salah satu kerangka tentara negeri matahari setelah menelan jiwa A Li dengan bahasa negeri tirai bambu yang patah-patah.
Jin Mingliang menjerit ketakutan, lalu berlari terseok-seok keluar. Tapi, kerangka itu tidak membiarkannya kabur, langsung mengejar. Satu lagi mengarah pada Chen Mo.
“Cepat, pribumi, mau lari ke mana?” seru kerangka yang mengejar Jin Mingliang. Tubuh menyeramkannya melayang dan tiba-tiba menghadang Jin Mingliang.
Melihat sesuatu menghadang di depannya, Jin Mingliang spontan menengadah, dan saat melihat dari jarak amat dekat mulut besar dan mata melotot mengerikan itu, ia langsung gemetar dan tanpa sadar mengompol sebelum akhirnya pingsan.
Kerangka itu memandang Jin Mingliang dengan jijik, seolah merasa muak karena ia mengompol, lalu membiarkannya dan malah berbalik ke arah Chen Mo.
Saat itu, Chen Mo tengah bertarung dengan Kojiro. Kojiro jauh lebih tinggi, mengayunkan pedang samurainya berkali-kali ke arah Chen Mo.
Chen Mo memang datang malam ini untuk memberantas makhluk-makhluk itu. Ia pun tahu bahwa api sejatinya adalah senjata ampuh melawan makhluk semacam itu.
Karena itu, kedua tinjunya dilapisi api sejati, bertarung melawan pedang samurai Kojiro.
Pedang itu sendiri bukan pedang sungguhan, melainkan hasil manifestasi energi jahat.
Setiap kali tinju Chen Mo menghantam pedang itu, pedang itu langsung lenyap menjadi asap, membuat Kojiro menjerit dalam bahasa negeri matahari. Setiap kali pedangnya hancur, Kojiro sendiri ikut terluka.
Namun, Chen Mo tak peduli pada jeritan itu. Para tentara negeri matahari itu ketika hidup pernah membakar, membunuh, dan menjarah di tanah ini. Kini, sudah mati pun masih berani mencelakai orang. Kalau Chen Mo tak membinasakan mereka hingga tuntas, ia merasa berkhianat pada para pahlawan yang telah mengorbankan nyawa melawan mereka.
Melihat satu kerangka lagi menuju dirinya, Chen Mo langsung serius, menghantamkan pukulan api ke dada Kojiro hingga arwahnya hancur lebur, lalu segera menghadapi kerangka satu lagi.
Jika Kojiro berpangkat mayor, yang satu ini berpangkat letnan kolonel dan kekuatannya pun jauh lebih besar.
Chen Mo menghantamkan pukulan api ke pedangnya, namun hanya mampu membuat sedikit celah; tidak langsung menghancurkan pedang itu seperti sebelumnya.
Hal ini membuat sang kerangka marah dan mengaum, “Kurang ajar! Pribumi, akan kubunuh kau, lalu kutelan jiwamu hingga abadi tak akan tenang!”
Chen Mo malas membalas, melihat pukulan apinya hanya mampu melukai sedikit, ia segera menarik keluar Rantai Penjerat Dewa dari pinggangnya.
Akhir-akhir ini, Chen Mo memang sengaja memodifikasi rantai itu menjadi bentuk sabuk agar mudah dibawa. Berbeda dengan pedang panjang pemberian Fang Zhiya yang tak bisa dibawa ke mana-mana, meski ia sudah punya Batu Ruang dan kulit Tikus Langit untuk meramu kantong ajaib, ia masih butuh tungku peleburan minimal kelas kuning untuk memprosesnya. Tungku biasa seperti yang ia pakai saat meramu pil besar dulu sama sekali tidak cukup. Karenanya, pedang panjang itu sementara hanya disimpan di rumah.
Melihat Chen Mo mengeluarkan rantai itu, sang kerangka meski tak tahu benda apa itu, tetap mencium bahaya. Ia mengaum, “Pribumi, apa benda sialan yang kau bawa itu?”
“Benda yang akan menghancurkan arwahmu,” jawab Chen Mo dingin, lalu tanpa basa-basi langsung mengendalikan rantai itu seperti ular menuju sang kerangka.
Kerangka itu marah dan memaki panjang lebar dalam bahasa negeri matahari, lalu membalas dengan mengayunkan pedang samurainya ke rantai itu.
Namun, rantai itu seolah terbuat dari baja super keras, pedangnya hanya menimbulkan percikan api.
Rantai itu pun segera melilit pedang dan tubuh sang kerangka erat-erat seperti membungkus ketan lemper.
Melihat itu, kedua tangan Chen Mo langsung membara api sejati, membakar tubuh kerangka itu agar arwahnya hancur lebur.
Namun, tiba-tiba entah dari mana, muncul sepasukan setan berseragam tentara negeri matahari.
Melihat sang kerangka terjebak dan terbakar api sejati, para setan itu berteriak-teriak dalam bahasa negeri mereka, lalu satu per satu meloncat masuk ke mulut besar sang kerangka.
Sang kerangka pun tanpa ragu menelan semuanya.
Sekejap saja, tubuhnya membesar dengan kecepatan luar biasa. Setelah menelan semua setan bawahannya, ia berubah menjadi raksasa menakutkan, hanya bagian tubuh yang terbelit rantai tetap seperti semula, sehingga tampak seperti ketan lemper raksasa.
“Ha! Pribumi, kau harus mati! Karena dirimu, anak buahku semua berkorban demi menyelamatkanku! Aku akan memakanku!”
“Cuma kau?!” seru Chen Mo lantang, meski dalam hati waspada. Karena setelah menelan makhluk-makhluk itu, kekuatan sang kerangka pun terus bertambah. Chen Mo bahkan merasa rantai penjerat hampir tak mampu menahan kerangka itu.
“Kurang ajar! Pribumi, kau meremehkanku? Biar kau tahu siapa aku sebenarnya!”
Baru saja selesai bicara, tiba-tiba kerangka itu bergetar hebat dan rantai penjerat pun terlepas begitu saja dari tubuhnya.
Bersamaan dengan itu, darah segar keluar dari mulut Chen Mo.
“Ha! Pribumi, sekarang kau tahu kekuatanku ‘kan? Aku tak hanya akan memangsa dirimu, tapi akan menelan semua orang di negeri ini!” seru sang kerangka sambil tertawa mengerikan, tubuhnya memancarkan kabut hitam pekat.
Tiba-tiba, ia membuka mulut lebarnya dan langsung menelan Chen Mo bulat-bulat.