Bab 2 Menjebak dan Memfitnah
Ucapan Kakek Pembakar Langit membuat Chen Mo teringat bahwa masih ada banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan kepadanya. Namun, ketika ia baru saja hendak bertanya, Kakek Pembakar Langit sama sekali tak menjawab dan tiba-tiba menghilang begitu saja.
Tak ada pilihan lain, Chen Mo hanya bisa menahan semua rasa penasarannya di dalam hati. Setelah dengan rendah hati mengucapkan terima kasih pada Lu Qingyue, mereka pun turun gunung bersama.
Keesokan paginya, ketika Chen Mo baru tiba di gerbang sekolah, dari kejauhan ia sudah melihat sosok Lu Qingyue yang menawan. Hari ini, Lu Qingyue mengenakan celana jeans biru muda yang pas di tubuhnya, mempertegas keindahan sepasang kakinya yang jenjang dan menggoda. Atasan yang ia pakai adalah kaos putih berleher bulat ukuran besar, sementara rambut indahnya diikat ekor kuda sebahu, membuatnya tampak begitu segar dan penuh semangat muda.
Wajahnya yang jelita dan tubuh sempurna nan menggoda menjadi pemandangan menawan di depan gerbang sekolah.
“Chen Mo, terima kasih banyak atas bantuanmu semalam. Sebagai tanda terima kasih, siang nanti aku ingin mentraktirmu makan,” ucap Lu Qingyue sambil berjalan mendekat, sama sekali tak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya, lalu berjalan beriringan dengan Chen Mo menuju sekolah.
Takut Chen Mo menolak, akhirnya ia menambahkan dengan sedikit malu, “Aku ini perempuan, kamu tidak boleh menolak, ya. Kalau tidak, aku akan sangat malu.”
Di SMA Yunhai, entah sudah berapa banyak laki-laki yang ingin mengajak Lu Qingyue makan, tapi selalu saja ditolak. Kini ketika Lu Qingyue sendiri yang mengajak Chen Mo, tentu Chen Mo sangat senang dan tak mungkin menolaknya.
Saat istirahat siang, Chen Mo mengikuti Lu Qingyue ke sebuah warung kecil di depan sekolah. Warung itu cukup ramai, kebanyakan pengunjungnya juga siswa SMA Yunhai.
Kedatangan mereka berdua segera menarik perhatian banyak orang di warung itu. Maklum, baru kali ini Lu Qingyue makan bersama seorang laki-laki, semua orang penasaran, siapa sebenarnya pemuda yang bisa membuat Lu Qingyue tertarik.
Seorang pemuda tampan dan tinggi, Deng Changming, yang juga teman sekelas dan ketua kelas mereka, langsung mendatangi Lu Qingyue.
“Lu Qingyue, kebetulan sekali. Tak sangka kamu juga makan di sini. Bagaimana kalau kita makan bersama?”
“Tidak usah, lain kali saja. Hari ini aku memang sengaja mengajak Chen Mo makan berdua,” jawab Lu Qingyue menolak, lalu duduk bersama Chen Mo di sebuah meja.
Melihat itu, wajah Deng Changming memerah karena malu dan tatapannya pada Chen Mo langsung berubah menjadi suram.
Selesai makan dan keluar dari warung, Chen Mo akhirnya memberanikan diri menanyakan sesuatu yang sejak tadi malam sudah mengganjal di hatinya.
Ia ingin tahu, untuk apa semalam Lu Qingyue pergi ke bukit kecil di samping sekolah, apakah untuk bertemu pacar.
Mendengar pertanyaan itu, wajah Lu Qingyue justru memerah. Dengan kesal ia berkata, “Chen Mo, kamu bicara apa sih? Lagi pula, dua bulan lagi ujian masuk perguruan tinggi. Aku sekarang hanya ingin belajar dengan baik, mana sempat punya pacar.”
Mendengar ia belum punya pacar, Chen Mo entah mengapa merasa lega.
Kembali ke sekolah, pelajaran terakhir sore itu adalah olahraga. Semua teman sekelas ikut, kecuali Chen Mo yang memilih tinggal di kelas untuk belajar mengejar ketertinggalannya.
Menjelang jam pulang, Chen Mo merasa ingin buang air kecil, lalu ia keluar menuju toilet.
Namun, saat Chen Mo meninggalkan kelas, Deng Changming diam-diam masuk dari pintu belakang, lalu mengambil uang lima ratus yuan dari sakunya dan menyelipkannya ke dalam buku pelajaran Bahasa Inggris milik Chen Mo.
Setelah selesai, Deng Changming keluar dengan senyum penuh tipu daya.
Sejak pertama kali melihat Lu Qingyue di kelas satu, Deng Changming sudah jatuh hati dan bertekad memilikinya. Ia berasal dari keluarga terpandang, sama seperti Lu Qingyue. Nilainya selalu masuk lima besar angkatan, ia juga pengurus kelas dan dikenal sebagai pemuda tampan di seluruh sekolah.
Karena itu, ia mengira mendapatkan Lu Qingyue hanyalah masalah waktu. Namun siapa sangka, Lu Qingyue justru menolak cintanya secara terang-terangan. Meski sudah mencoba beberapa kali, hasilnya tetap sama.
Yang paling membuatnya marah, sikap Lu Qingyue terhadap Chen Mo sangat berbeda. Dulu, saat nilai Chen Mo bagus, Lu Qingyue sering bertanya soal pelajaran padanya. Dalam pandangan Deng Changming, itu tanda Lu Qingyue diam-diam menyukai Chen Mo, hanya saja malu untuk mengakuinya.
Sekarang, meski nilai Chen Mo sudah anjlok menjadi yang terburuk di angkatan, Lu Qingyue masih saja mengajaknya makan, bahkan membuatnya malu di depan umum. Hal ini membuat Deng Changming semakin terbakar cemburu.
Karena itu, ia memutuskan untuk menjelek-jelekkan Chen Mo agar Lu Qingyue kecewa, sehingga ia punya kesempatan.
Setelah keluar dari toilet, waktu pulang pun tiba. Begitu Chen Mo kembali, Deng Changming langsung berteriak, “Aduh, celaka! Uang kas kelas kita lima ratus yuan hilang!”
Teriakan Deng Changming seketika menarik perhatian semua teman sekelas.
“Ketua kelas, bagaimana bisa hilang? Mungkin tadi saat olahraga kamu bawa dan jatuh di lapangan?”
Deng Changming menggeleng, “Tidak mungkin. Justru karena takut hilang saat olahraga, makanya tadi aku taruh di mejaku. Tapi sekarang setelah kembali dari olahraga, uang kas yang kutaruh di meja malah hilang.”
“Jangan-jangan tadi waktu kita semua pergi olahraga, ada yang diam-diam kembali ke kelas dan mencuri uangnya?”
“Mungkin saja,” Deng Changming melirik Chen Mo dengan senyum licik. “Oh iya, tadi ada yang tidak ikut olahraga?”
“Ada. Chen Mo tadi tidak ikut.”
Mendengar itu, semua teman sekelas langsung menatap Chen Mo dengan curiga.
“Chen Mo, jawab! Apa benar kamu yang mencuri uang kas kelas?”
“Sudah jelas, kalau bukan dia siapa lagi?”
“Benar, hanya dia yang ada di kelas waktu itu.”
“Kalian ngomong apa sih?” Saat itu, Lu Qingyue kembali ke kelas. Mungkin karena habis berolahraga, dadanya yang indah tampak naik turun. Melihat semua orang menuduh Chen Mo, ia pun membela, “Aku percaya sama Chen Mo, dia pasti tidak mencuri. Kalau menuduh, mana buktinya?”
“Kami memang tidak punya bukti. Tapi semua teman di kelas ini keluarga berada, hanya Chen Mo yang kurang mampu. Tadi juga cuma dia yang ada di kelas. Kalau bukan dia, siapa lagi?” Deng Changming semakin cemburu, “Lu Qingyue, kamu percaya sama Chen Mo, ya sudah, biar kita periksa saja meja dan badannya, nanti juga ketahuan.”
“Tunggu!” Chen Mo yang dari tadi diam, maju ke depan Deng Changming dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Ketua kelas, aku memang dari keluarga sederhana, dan benar waktu olahraga tadi aku di kelas. Tapi yang pasti, aku tidak mencuri uang itu.”
“Benar atau tidak, nanti juga ketahuan setelah diperiksa,” Deng Changming tersenyum sinis. Ia sendiri yang menyelipkan uang itu, jadi yakin kali ini Chen Mo pasti celaka.
“Kalau begitu, aku tidak keberatan. Tapi sebelum memeriksa, ketua kelas, sudah yakin benar uangnya hilang? Jangan-jangan kamu yang salah taruh.”
Deng Changming hanya menahan tawa, mana mungkin ia keliru, lalu menyuruh dua teman dekatnya untuk memeriksa Chen Mo.
Namun agar tidak dicurigai, ia memerintahkan mereka mulai dari badan Chen Mo, baru kemudian ke meja dan buku-bukunya.
Chen Mo pun membiarkan mereka memeriksa tanpa perlawanan.
Anehnya, setelah mereka memeriksa seluruh badan dan setiap buku di meja Chen Mo, hasilnya nihil. “Ketua kelas, tidak ada,” kata mereka.
Padahal Deng Changming sendiri yang menaruh uang itu. Ia tak percaya dan langsung menyuruh mereka memeriksa lagi.
Namun setelah diperiksa ulang dengan teliti, hasilnya tetap sama.
Kini, Deng Changming mulai panik. Ia sendiri maju ke meja Chen Mo, berpura-pura memeriksa beberapa buku, lalu mengambil buku Bahasa Inggris Chen Mo untuk mengeluarkan uang lima ratus yuan itu.
Namun saat membuka buku tersebut, Deng Changming terperangah. Uang kas yang ia selipkan di buku Bahasa Inggris Chen Mo, ternyata sudah lenyap.