Bab 47 Orang Mati
"Shen Jianchu, berapa banyak kalimat yang benar di dalam mulutmu ini?"
Li Wangting mengamuk.
Kemarahannya bergejolak di dalam dadanya tanpa tempat untuk melampiaskan.
"Li Wangting, aku tidak membohongimu." Shen Jianchu hampir dibuat gila oleh kekeraskepalaannya.
Bagi pria itu, ia tidak pernah menyembunyikan atau menipu apa pun, tetapi pria itu tidak pernah mau memberikannya sedikit pun kepercayaan...
Tatapan Li Wangting menjadi suram. "Kau pikir dengan mengandalkan sumsum tulangmu yang aku butuhkan, aku tidak punya cara untuk menghadapimu?"
"Bukankah hubunganmu dengan ibumu adalah yang paling dekat?"
"Bagaimana kalau aku menggali makamnya?"
Aura dingin Li Wangting terembus di hadapan Shen Jianchu, tatapannya yang gelap gulita tidak memancarkan secercah cahaya pun.
"Baguslah, agar kalian bisa berkumpul kembali sebagai ibu dan anak."
"Li Wangting, jangan terlalu gila!" Shen Jianchu meninggikan suaranya.
Kesabaran dan penahanannya yang berulang-ulang hanya dibalas dengan tindakan pria itu yang semakin menjadi-jadi dari waktu ke waktu.
"Kau juga layak menggunakan nada bicara seperti itu untuk berbicara denganku!" Li Wangting mencemooh.
Ia teringat sebelumnya, demi Jiang Ren, Shen Jianchu bahkan berniat membunuhnya menggunakan pecahan kaca.
Luka yang disebabkan oleh wanita itu masih membekas di lengannya.
Saat itu, cairan infus di dalam botol yang sedang dimasukkan ke tubuh Shen Jianchu telah habis. Tekanan darah di pembuluh darahnya cukup tinggi, sehingga udara di dalam selang infus tidak dapat masuk ke pembuluh darahnya, dan darahnya mulai mengalir balik.
Dalam puncak kemarahannya, Li Wangting melirik sekilas ke punggung tangan Shen Jianchu, lalu mencabut selang infusnya.
Selang infus itu terlepas dari kulit dan dagingnya, darahnya tidak langsung berhenti dan memercik ke mana-mana.
Wajah Li Wangting yang dingin dan kejam bahkan terkena cipratan darahnya, membuat ekspresinya tampak semakin haus darah dan beringas.
Ia menempelkan ujung jarum suntik ke tenggorokan Shen Jianchu. "Selain Jiang Ren, Lu Huaichen... Shen Jianchu, berapa banyak pria lain yang telah kau goda secara diam-diam?"
Tenggorokannya dicengkeram oleh bahaya, namun ejekan di dasar mata Shen Jianchu semakin pekat.
"Li Wangting, sebelum kau memfitnahku, aku mohon gunakan otakmu."
"Aku berada di vila keluarga Li setiap hari, hidup di bawah pengawasanmu, bahkan aku tidak memiliki ponsel. Bagaimana caranya aku menghubungi orang lain?"
Shen Jianchu merasa sudah pasrah pada nasib.
Karena perjuangan seperti apa pun yang ia lakukan adalah sia-sia, lebih baik ia memancing kemarahannya sekalian agar pria itu membunuhnya.
Dunia ini bagaikan neraka tanpa harapan, Shen Jianchu sudah lelah hidup.
Ia memejamkan kedua matanya dengan tekat bulat.
Kemarahan di dada Li Wangting semakin bergejolak hingga membuat perasaannya sangat tidak keruan.
Dengan perasaan kesal ia mengibaskan jarum suntiknya, menendang tempat sampah di lantai hingga terbalik, lalu membanting pintu dan pergi.
Suara bantingan pintu yang memekakkan telinga membuat Shen Jianchu membuka matanya.
Kamar rumah sakit sudah kosong melompong.
Namun, Shen Jianchu tidak berani menurunkan kewaspadaannya.
Li Wangting adalah seorang Raja Neraka yang hidup, pria itu bisa saja kembali sewaktu-waktu dan menggunakan segala cara untuk menghinanya serta menyiksanya.
Darahnya masih terus memercik keluar. Belum ada satu menit, bibir Shen Jianchu sudah sepucat kertas.
Karena belum bisa mati, maka ia harus bertahan hidup. Shen Jianchu menekan lubang bekas jarum di tangannya.
Pintu tiba-tiba terbuka, Shen Jianchu sangat terkejut, matanya yang seperti anak rusa menatap tajam ke arah pintu dengan penuh ketegangan.
"Sial!" Zhan Nanwang dipanggil ke sana dan melihat darah Shen Jianchu berceceran di mana-mana, pemandangan itu sebanding dengan tempat kejadian pembunuhan, membuat jantungnya ikut berdegup kencang.
Kakak perempuan bernama Shen Jianchu ini benar-benar pandai memberinya "kejutan".
Zhan Nanwang langsung berlari, menarik laci nakas, mengambil perban dari dalamnya untuk membantu Shen Jianchu menghentikan pendarahan.
Alisnya semakin mengerut dalam, ia benar-benar tidak bisa mengerti mengapa Li Wangting semakin terikat erat dengan Shen Jianchu.
"Apakah kau masih mencintai Li Wangting sekarang?"
Zhan Nanwang tidak dapat menahan diri untuk bertanya, "Mencintainya sampai sedemikian rupa sehingga sama sekali tidak tega untuk pergi?"
Shen Jianchu tersenyum tipis. "Apakah aku terlihat seperti orang yang bisa pergi?"
Zhan Nanwang: "..."
Zhan Nanwang dan Shen Jianchu sebenarnya tidak begitu akrab. Setelah selesai mengobati lukanya, Zhan Nanwang pun pergi.
Sekitar dua jam kemudian, seorang perawat mendorong kursi roda untuk mencarinya.
Di atas kursi roda diletakkan pakaian yang sebelumnya dikenakan oleh Shen Jianchu, yang sudah penuh dengan noda darah dan hancur berkeping-keping.
"Coba lihat apakah pakaian ini masih mau dipakai atau tidak."
Perawat itu lalu mengeluarkan pakaian yang digantung di belakang kursi roda. "Ini adalah pakaian baru yang dipesankan oleh Tuan Li untukmu. Semuanya baru, coba lihat apakah ukurannya pas. Jika tidak pas, bisa ditukar."
Shen Jianchu mengerutkan keningnya, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil pakaian lamanya.
Celananya telah dipotong-potong menjadi jalur kain, tentu saja sudah tidak bisa dipakai lagi.
Namun, kemejanya sudah dicuci, seharusnya masih bisa dikenakan.
Shen Jianchu berniat mengambil kembali kemejanya, tetapi tanpa sengaja menyentuh sebuah benda keras di dalam saku celananya.
Ia menariknya keluar untuk melihat.
Itu adalah kartu nama kerja Jiang Ren yang diberikan oleh Bibi Wang kepadanya tempo hari.
Sorot mata Shen Jianchu berkilat sejenak.
Perawat membantu Shen Jianchu berganti pakaian. Karena salah satu kakinya ditendang dan kaki lainnya terbakar api, ia untuk sementara tidak dapat berjalan secara normal, sehingga ia duduk di atas kursi roda dan didorong menuju area parkir.
Di sana, Li Wangting sudah menunggunya.
Pria itu duduk di kursi belakang dengan wajah dingin tanpa ekspresi.
Di luar mobil, berdiri dua orang pengawal yang tampak seperti dewa penjaga pintu.
Namun, saat Shen Jianchu hendak masuk ke dalam mobil, tidak ada seorang pun yang membantunya.
Baik orang di dalam maupun di luar mobil tampak seperti tunggul kayu. Suster perawat yang melihatnya merasa kesulitan dan bergumam kecil, "Kalian bantu pegang dong?"
Tidak ada yang merespons.
Kesabaran Li Wangting selalu terbatas, dan Shen Jianchu tidak ingin menimbulkan masalah bagi suster perawat itu. Sambil berpegangan pada sandaran kursi roda, ia menggertakkan giginya, menahan rasa sakit di kakinya, lalu berdiri.
Sensasi itu terasa seperti menginjak pecahan pisau.
Perawat buru-buru memapahnya dan membukakan pintu mobil untuknya.
Melihat kursi kosong di sebelah Li Wangting di barisan belakang, Shen Jianchu mengatupkan bibirnya.
Apakah tempat ini boleh ia duduki?
Jika ia duduk di sana, apakah pria itu akan kambuh kegilaannya lagi?
Shen Jianchu menunda-nunda masuk ke dalam mobil, sementara tumpuan pada kakinya semakin melemah.
"Mau lambat-lambat sampai kapan!" Li Wangting tiba-tiba membentak dengan garang.
Lutut Shen Jianchu melemas, menunjukkan tanda-tanda akan terjatuh.
Dengan sigap dan cepat Li Wangting meraih tangannya, lalu menggunakan tenaganya untuk menariknya masuk ke dalam mobil.
Kedua pengawal yang tadinya seperti patung itu baru mulai bergerak, menutup pintu mobil di sisi Shen Jianchu, lalu memindahkan kursi roda wanita itu ke bagasi belakang.
Di dalam kabin mobil yang tertutup rapat, Shen Jianchu dan Li Wangting sama-sama terdiam seribu bahasa, suasana terasa sangat menyesakkan.
Dengan perasaan kesal Li Wangting melonggarkan dasinya, membuka kancing atas kemejanya, memperlihatkan sedikit tulang selangkanya yang dingin dan arogan.
Ia menurunkan kaca jendela mobil.
Angin kencang berhembus masuk ke dalam mobil, membuat rambut Shen Jianchu menjadi berantakan.
Mata Shen Jianchu tertusuk oleh helaian rambutnya sendiri, sehingga ia berulang kali menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
Garis bibir Li Wangting yang tadinya tegang sedikit mengendur.
Baguslah.
Wanita itu tidak lagi tampak seperti sesosok mayat.
Ketika mobil yang ditumpangi oleh Li Wangting dan Shen Jianchu memasuki halaman kediaman keluarga Li, Nyonya Qi Yanyan dan Bibi Wang di dalam rumah turut mendengar suara mesin mobil tersebut.
Hampir bersamaan dengan saat Li Wangting dan Shen Jianchu yang duduk di kursi roda memasuki pintu, suara Bibi Wang kebetulan terdengar—
"Aduh, Nyonya besar saya, kali ini Anda benar-benar tertimpa musibah yang tidak beralasan."
"Menurut saya, Shen Jianchu itu sengaja membiarkan dirinya ditangkap orang agar bisa meninggalkan kediaman keluarga Li, dan bisa kabur dengan pria tidak jelas yang bernama Jiang Ren itu. Kasihan Anda, masih melindunginya sampai-sampai kedua kaki Anda menjadi cacat..."