Jilid Pertama, Bab 12: Melewati Ujian
Halaman (1/3)
Suca menyelinap keluar dari penginapan itu, lalu mencari penginapan lain dan menyewa kamar selama dua hari.
Setelah membayar, ia masuk ke kamar.
Ia mengeluarkan alat suntik sekali pakai yang diberikan sistem kepadanya, mengambil obat, lalu menusukkannya ke pembuluh darah sendiri. Setelah menyuntikkan obat, ia mematahkan alat suntik bekas itu dan membuangnya, kemudian menghentikan pendarahan. Seluruh proses selesai dengan sangat mudah.
Sistem tampak agak terkejut.
“Kau tampaknya sangat terampil melakukan semua ini,” katanya.
Suca mengangguk. “Adikku belajar kedokteran.”
Apa hubungannya denganmu?
Sebelum sistem sempat menanyakannya, Suca melanjutkan, “Setelah lulus, dia menjadi perawat. Suatu kali, ketika aku dirawat di rumah sakit, dia mencoba menyuntikku. Dia menusukkan jarum puluhan kali ke lenganku, tetapi tetap tidak menemukan posisi yang tepat. Sampai-sampai aku sudah memahami caranya, sementara dia masih belum juga bisa. Pada akhirnya, aku sendiri yang menusukkan jarum itu.”
Sejak saat itu, ia menguasai keterampilan tersebut.
“...Adikmu sepertinya tidak terlalu pintar,” sistem menilai dengan hati-hati.
“Benar,” jawab Suca dengan tenang. “Kadang-kadang kebodohannya benar-benar bisa membuatku menangis.”
Setelah mengatakan itu, ia tidak melanjutkan topik tersebut, melainkan bertanya, “Begini sudah cukup?”
【Sudah. Sekitar sepuluh menit setelah disuntikkan, khasiat obat akan mulai aktif. Dalam waktu satu hingga dua jam, khasiatnya akan sepenuhnya bekerja. Setelah itu, kau akan memasuki masa lemah selama kira-kira tiga hari. Selama masa tersebut, kau mungkin mengalami pusing, muntah, dan gejala lainnya. Itu merupakan reaksi penolakan yang normal. Setelah tiga hari, kekuatanmu akan mulai kembali dan meningkat secara bertahap. Kau membutuhkan waktu setengah bulan hingga tiga bulan untuk menyesuaikan diri dengan tubuh barumu. Selain itu, dalam waktu satu bulan kau tidak boleh menyuntikkan dosis kedua.】
Kira-kira sepuluh menit kemudian, Suca mulai merasakan nyeri samar di dadanya.
Pada awalnya rasa sakit itu sangat ringan, tetapi seiring waktu, nyerinya semakin parah. Ia berbaring di ranjang sambil menggertakkan gigi, bertahan melewati satu setengah jam penuh.
Setelah masa itu berlalu, seluruh tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat.
Ia mandi di penginapan, berganti pakaian, lalu keluar lagi.
Riasan di wajahnya telah luntur, jadi ia memperbaikinya sebelum kembali ke Penginapan Juara Ujian Istana.
“Teman-teman, aku pulang!”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Begitu memasuki penginapan, Suca melambaikan tangan dan menyapa semua orang. Setiap kali melewati seseorang, ia selalu mengajak mereka berbicara.
“Halo, Tujuh Belas, bersenang-senang?”
“Lumayan. Tapi, Nona, nama saya Wang Tiezhu, bukan Tujuh Belas,” jawab sang pengawal dengan hati-hati.
“Kalau kau, Si Keenam?” Suca menyapa orang lain.
“Menjawab Nona Besar, nama hamba Zhao Dadan.”
“Baiklah, Si Keenam.”
Setelah menyapa semua orang, Suca kembali ke kamarnya dengan santai. Begitu membuka pintu, ia mendapati Bu Jingyun dan Yuehu berada di dalam.
Ia tertegun, lalu dengan cepat menyembunyikan kue osmanthus yang ada di tangannya ke belakang tubuh.
“Hai, Yue Kecil. Saudara Bu, ada urusan apa kalian datang selarut ini?” Suca berusaha bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Yuehu sangat marah melihat tingkahnya. “Nona! Kau juga tahu ini sudah selarut apa! Sekarang sudah jam berapa? Kau pergi mencari orang untuk menuntut penjelasan sampai berjam-jam?!”
“Tidak...” Suca langsung merasa bersalah dan tertawa canggung. “Ketika aku sampai di sana, orang itu sudah kabur. Aku sudah mencarinya di beberapa ruas jalan, tetapi tidak menemukannya... Lalu aku sadar bahwa jajanan Kerajaan Chu benar-benar lezat, jadi aku berjalan-jalan sebentar... Aku membawakan hadiah untukmu!”
Sambil berkata begitu, ia mengeluarkan kue osmanthus yang sudah dimakannya beberapa potong, lalu menyerahkannya kepada Yuehu. “Lihat, aku sengaja membelikannya untukmu!”
Yuehu memandangi bekas gigitan yang berjajar di atas potongan kue osmanthus itu, lalu sudut bibirnya berkedut.
Suca asal menyelipkan kue tersebut ke tangan Yuehu. Setelah melihatnya pergi, ia menyapa Bu Jingyun dengan senyum lebar.
“Halo, Saudara Bu. Boleh tahu ada urusan apa?”
“ sebenarnya tidak ada urusan khusus,” Bu Jingyun merenung sejenak sebelum bertanya, “Ketika aku kembali, aku mendengar mereka berkata bahwa kau adalah murid tetua agung Sekte Awan Terbit?”
Hati Suca langsung mencelos. Saat yang ditakutkannya akhirnya tiba.
Namun, ia tidak menunjukkannya. Ia hanya menggaruk kepalanya dengan canggung dan tersenyum. “Ah, jangan dengarkan omong kosong mereka. Tidak ada hal seperti itu. Begini ceritanya: aku seorang gadis yang ingin berkultivasi menjadi abadi, tetapi orang tuaku mati-matian menentangnya. Mereka merasa aku pasti tidak memiliki akar spiritual. Di dunia ini ada begitu banyak orang yang tidak memilikinya, bagaimana mungkin aku justru seberuntung itu? Lagi pula, untuk apa seorang gadis pergi berkultivasi, apalagi ke tempat sejauh itu? Di perjalanan, siapa yang tahu bahaya apa yang mungkin menantinya? Bisa-bisa aku kehilangan nyawa.
“Tetapi aku memang ingin berkultivasi. Untuk melakukannya, aku harus mendapatkan dukungan keluargaku. Kalau tidak, aku tidak mungkin menempuh perjalanan tiga bulan itu seorang diri. Jadi, aku menggunakan sedikit siasat dan berbohong kepada mereka, mengatakan bahwa aku telah diterima sebagai murid oleh tetua agung Sekte Awan Terbit. Begitu mendengarnya, mereka langsung senang. Mereka merasa keluarga kami akhirnya bisa memiliki seorang abadi, lalu mengutus pengawal terbaik keluarga untuk mengantarku ke Sekte Awan Terbit.”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Sambil berkata demikian, ia berhenti sejenak. “Aku juga tidak sengaja memilih nama itu. Hanya saja, belakangan ini yang menerima murid hanyalah Sekte Awan Terbit. Di seluruh sekte itu, hanya tetua agungnya yang keberadaannya sulit dilacak dan sering menghilang selama berhari-hari. Kerajaan Liang memiliki seorang abadi; Tuan Guru Negara adalah seorang abadi, dan kediaman wali kota juga memiliki seorang abadi sebagai tamu kehormatan. Kalau aku sembarangan mengarang nama seseorang, ayahku tinggal bertanya kepada mereka dan kebohonganku akan terbongkar. Hanya tetua agung ini yang tidak diketahui siapa pun keberadaannya, sehingga tidak ada cara untuk memverifikasinya.”
Bu Jingyun merasa penasaran. “Lalu, apa yang kau lakukan setelah tiba di Sekte Awan Terbit?”
“Menjalani pemeriksaan seperti biasa,” jawab Suca sambil mengangkat bahu. “Aku juga tahu kemungkinan besar aku tidak memiliki akar spiritual, tetapi memangnya kenapa? Ada hal-hal yang tidak akan pernah bisa kita relakan sebelum mencobanya sendiri. Paling-paling setelah itu aku akan dipukuli... Aku ini anak kandung mereka. Masa mereka benar-benar tega memukuliku sampai mati?”
“Pernahkah kau memikirkan ini? Kebohongan itu sudah telanjur tersebar, bahkan orang tuamu telah mengumumkannya kepada seluruh penduduk kota. Jika ternyata kau tidak memiliki akar spiritual dan pulang dengan wajah tertunduk, bagaimana mereka akan menghadapi keadaan itu?” Bu Jingyun terus bertanya.
“Kalau begitu, biarkan saja mereka membenciku.” Suca berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Bagaimanapun juga, aku harus mencari jalan menuju keabadian. Sekalipun tidak memiliki akar spiritual, aku tidak akan berhenti melangkah. Sejak kecil, mencari keabadian dan memahami Tao sudah kujadikan tujuan tertinggi dalam hidup. Demi tujuan ini, aku akan menggunakan segala cara. Tak seorang pun dapat menghalangiku. Jika hanya karena takut pada gunjingan sesaat aku bahkan tidak berani mengambil langkah pertama, maka seumur hidup aku tidak akan pernah layak menapaki jalan menuju Tao.”
Bu Jingyun menatapnya. “Kalau begitu, mengapa kau ingin menjadi abadi?”
“Aku?” kata Suca. “Kalau sudah menjadi abadi, aku ingin bisa membuat salju berhenti turun setiap kali langit tidak seharusnya bersalju.”
“Kau membenci salju?” tanya Bu Jingyun.
“Aku tidak terlalu menyukainya,” jawab Suca jujur.
Bu Jingyun mengangguk dan berdiri. “Aku sudah tidak punya pertanyaan lagi.”
Setelah berkata demikian, ia berjalan menuju luar.
Suca menatap punggungnya.
Sesampainya di ambang pintu, ia menoleh dan memandang Suca.
“Oh, ya. Namaku bukan Bu Jingyun lagi. Mulai sekarang, panggil aku Huang Batian.”
Mendengar perkataannya, Suca menghela napas lega dalam hati. Sepertinya, ia telah berhasil melewati ujian kali ini.
Halaman (3/3)