Bab 3: Kenapa kamu mengambil tempatnya Jiang Bansia?
Li Yang merasa cemas kalau-kalau ia tiba-tiba melupakan jawaban ujian masuk perguruan tinggi, jadi mumpung ada waktu, ia menyalin ingatan dari kepalanya ke selembar kertas. Namun, ia menciptakan beberapa aturan yang hanya bisa ia pahami sendiri. Misalnya, untuk soal pilihan ganda, ia menuliskannya dalam bentuk kata, di mana huruf pertama kata tersebut adalah jawabannya. Sekilas tampak seperti sedang menulis kosakata, sulit mengaitkannya dengan kunci jawaban. Urutan mata pelajaran pun hanya ia yang tahu. Ada beberapa jawaban tanpa langkah penyelesaian, sehingga ia harus mengingat kembali soalnya. Beberapa hasil penyelesaian bahkan hanya ia tulis prosesnya saja, dan seperti coret-coretan di kertas buram, hasil akhirnya tersembunyi di pojokan kertas.
Mungkin saja semua ini sia-sia, sebab hal-hal yang sudah ia hafal belasan tahun takkan mudah dilupakan. Setelah selesai menyalin semua jawaban, baru ia sadari bahwa masuk perguruan tinggi ternama seperti Qingbei tidak semudah itu. Jawaban yang ia miliki hanya cukup untuk sekitar enam ratus poin, sementara seratus lima puluh poin lainnya tidak ia punya jawabannya. Misalnya, untuk pemahaman bacaan bahasa Mandarin, esai, dan esai bahasa Inggris. Ia memang bisa mengambil sebagian poin, tapi tidak yakin apakah dari seratus lima puluh poin itu ia bisa dapat lebih dari delapan puluh. Tanpa nilai enam ratus delapan puluh, bagaimana bisa masuk Qingbei? Belum lagi banyak universitas unggulan mengadakan ujian masuk sendiri. Meski tak harus terlalu hebat, kalau benar-benar tak bisa apa-apa, itu jelas bermasalah.
Satu bulan terakhirnya penuh beban. Tak terasa dua jam berlalu, hingga Wu Tianqi menelepon.
“Saudara seperguruan, sudahkah kau menuntaskan jurusmu?”
Li Yang segera merapikan catatannya dan berkata, “Bisa dibilang sudah.”
“Bagus, waktu tadi aku main basket, Liu Dayou menangkapku dan menyita bolaku. Nanti tolong kau curi dari kantor guru, ya.”
“Kenapa harus aku?”
“Saudaraku, kau harus ingat, sebagai seorang kultivator, hal yang paling tabu adalah berutang budi, nanti saat hendak menembus tingkatan, bisa-bisa muncul iblis hati.”
“Bicara yang manusiawi saja.”
“Tolonglah! Ayahku lagi marah, sedangkan Liu Dayou itu dari aliran kebenaran.”
Li Yang terdiam. Ia ingat, ayah Wu Tianqi menghabiskan puluhan juta demi mengamankan jalur olahraga untuk putranya. Nilai ujiannya selalu dua ratusan, tapi akhirnya bisa juga masuk Universitas Zhongzhou, yang terkenal sebagai universitas 211 paling buruk. Dan Liu Dayou memang berani melapor ke kepala sekolah.
“Bagaimana aku bisa mencuri? Aku bukan orang baik-baik. Kalau masuk kantornya, pasti diawasi seperti maling.”
Wu Tianqi selalu jadi juru kunci dengan nilai dua ratusan, sedangkan Li Yang langganan peringkat kedua dari belakang dengan empat ratusan. Peringkat ketiga dari belakang pun minimal lima ratus lima puluh. Wu Tianqi tertawa, “Bukankah Liu Dayou baru saja membuat kelas tambahan itu? Kau bilang saja mau belajar, setelah belajar malam selesai, mampir ke sana dan cari kesempatan ambil bolaku.”
“Kelas tambahan?”
Ingatan Li Yang mulai kembali. Kelas tambahan itu hanya ada di kelas 16 dan 17, khusus kelas unggulan IPA. Biasanya belajar malam selesai jam setengah sepuluh, tapi Liu Dayou menghubungi beberapa guru mata pelajaran untuk tetap berada di kantor sampai setengah sebelas, lalu memanggil beberapa murid unggulan kelas untuk memaksimalkan waktu belajar.
Singkatnya, mereka membuat pelatihan privat. Kalau bisa naik tiga sampai lima poin, di medan perang ujian masuk perguruan tinggi di Zhongyuan, itu berarti menyingkirkan tiga sampai lima ribu peserta. Semakin banyak yang lulus ke universitas unggulan, semakin besar pula bonus yang didapat para guru.
Li Yang mengeluh, “Aku ini langganan peringkat dua dari belakang, tiba-tiba bilang mau belajar, apa Liu Dayou mau percaya?”
Wu Tianqi dengan yakin membalas, “Kau lebih meyakinkan daripada aku. Aku ini juru kunci, kalau bilang mau belajar, dia lebih tak percaya lagi.”
Li Yang pun berpikir, ada benarnya juga. Namun, ia segera merasa ada yang janggal. Sepertinya kemarin baru saja ujian simulasi, dan hari ini seharusnya hari libur.
“Hari ini bukannya libur? Kenapa Liu Dayou masih menyita bolamu?”
“Libur? Kau bicara apa? Itu hanya untuk kelas biasa. Kelas unggulan mana pernah libur?”
Li Yang baru sadar, ternyata ia sedang membolos.
“Brengsek, kau lagi-lagi ngajak aku membolos!”
Wu Tianqi membantah, “Saudara, bicara harus jujur. Kau sendiri yang bilang mau pemanasan dulu, nanti mau pamer slam dunk ke si penyihir itu. Sekarang kau sudah puas main basketnya, terus lempar tanggung jawab ke aku? Jangan-jangan kau ini mata-mata dari sekte musuh?”
Li Yang agak malu. Wu Tianqi memang tak suka belajar, tapi ia sendiri memang suka membolos. Sekarang, bahkan kalau Liu Dayou menelepon orang tuanya, mereka pun tak peduli lagi.
“Aku akan ke kelas sekarang, cari kesempatan. Oh, hampir lupa, sebenarnya aku murid teladan. Semua kenangan membolos itu, anggap saja kau mengigau.”
Wu Tianqi: “???”
Selesai bicara, Li Yang langsung menutup telepon, membuka pintu, dan berlari ke gedung sekolah. Asrama tidak jauh dari sekolah. Antara asrama putra dan putri hanya dipisahkan oleh kantin. Setelah menyeberangi jalan di depan kantin, ia sudah memasuki area sekolah.
Hanya butuh dua menit, Li Yang sudah sampai di lantai tiga. Di pintu masuk tangga ada kelas 11, kiri dan kanan, ia memilih ke kanan. Beberapa langkah kemudian, ia melihat kelas 10. Ia meneliti sekali lagi, memastikan tidak salah, dan ingatannya muncul kembali, lalu berbalik arah.
Sementara itu, di kelas 10, seorang siswi di dekat jendela mendorong Wang Manqi di sampingnya dan berkata, “Manqi, sepertinya pacarmu, Li Yang, datang mencarimu.”
Tanpa mengangkat kepala, Wang Manqi menjawab, “Li Yang siapa? Tak kenal!”
“Bukannya dia yang tiap hari ngasih kamu teh susu?”
“Dikasih teh susu bukan berarti pacaran. Fokus utama aku sekarang adalah meningkatkan nilai, supaya bisa lolos batas masuk universitas 211.”
Jawaban Wang Manqi membuat teman sebangkunya terperangah. Mereka dari kelas IPS biasa, jumlah yang bisa lolos ujian masuk universitas saja tak sampai sepuluh orang, Wang Manqi pun hanya berjuang di batas bawah universitas swasta. Semua tahu, universitas swasta pun bukan benar-benar universitas.
“Jarak ke universitas 211... agak jauh, ya?” bisik temannya, cukup keras agar Wang Manqi mendengar.
Dengan percaya diri Wang Manqi berkata, “Aku hanya lemah di matematika. Wali kelasku sudah mengusahakan agar aku ikut kelas tambahan di kelas unggulan IPA. Satu bulan ke depan, aku akan giat belajar dari murid-murid top di sana.”
Selesai berkata demikian, ia pun menunggu waktu belajar malam tiba. Ia dan Li Yang sebenarnya sudah akrab sejak SD. Tapi ia tak pernah berniat menerima Li Yang, kecuali kalau ia hanya mampu masuk universitas swasta. Biaya universitas swasta terlalu mahal, keluarganya takkan sanggup membayar. Orang itu tadi sok berprinsip, sekarang menyesal? Sudah terlambat.
Dalam hal ini, ia boleh saja menolak, tapi Li Yang harus tetap berusaha mengejarnya.
...
Li Yang tiba di depan kelas 17, otaknya berputar kencang mengingat posisi duduknya. Pasti di barisan paling belakang, seingatnya di pojok kanan, dan duduk sendirian. Namun, saat menengok, pojok kanan sudah ditempati seseorang. Sialnya lagi, itu seorang gadis yang sedang serius mengerjakan soal.
Dari samping, wajahnya tampak cantik. Tapi itu tak penting sekarang. Selain posisi itu, mana lagi tempat duduknya?
Sambil berjalan ke dalam kelas, ia cepat-cepat melirik semua bangku, tidak boleh berhenti melangkah. Kalau berhenti, suasana akan sangat canggung. Kelas 17, karena kelas unggulan, siswanya tidak banyak, hanya sekitar empat puluhan. Dibanding kelas lain yang berisi tujuh puluh sampai delapan puluh orang, deretan belakang kelas 17 terasa sangat lega, hanya ada satu bangku di barisan terakhir. Wu Tianqi yang nilainya dua ratusan saja tak sampai ditempatkan di sana.
Seingatnya, hanya di baris kedua ada bangku kosong, Wu Tianqi pun sudah duduk di tempatnya. Jadi... sial, ini benar-benar bikin pusing. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa ingatannya bisa seburuk ini? Jangan-jangan ia sebenarnya duduk di baris ketiga? Tapi di baris ketiga, bangku kosongnya di samping seorang gadis. Liu Dayou, si guru tua itu, tak pernah membiarkan murid laki-laki dan perempuan duduk berdampingan.
Kalau saja tidak melihat Wu Tianqi di tempat duduknya, ia pasti mengira salah masuk kelas.
Satu lagi bangku kosong, yakni di dekat podium. Apa mungkin, ia sebenarnya duduk di podium?
Akhirnya, langkah Li Yang pun terhenti. Banyak murid yang sedang mengerjakan soal spontan berhenti menulis, karena setiap orang punya firasat, kalau ada yang berdiri di kelas, pasti itu guru. Yang tidak mengangkat kepala berarti benar-benar fokus belajar.
Meski wajahnya tebal, di situasi seperti ini, Li Yang tetap harus tersenyum untuk mencairkan suasana. Tak disangka, di pintu kelas tiba-tiba muncul seorang pria paruh baya bertubuh kurus dengan kumis tipis.
Li Yang tak berani berlama-lama, ia segera duduk di bangku kosong di samping seorang siswi. Gadis itu terkejut, memandangnya seolah melihat hantu. Namun, setelah melirik ke arah pintu melihat Liu Dayou, ia akhirnya memilih diam.
“Li Yang, keluar sini kau!”
Li Yang bahkan belum sempat duduk dengan nyaman, sudah mendengar teriakan Liu Dayou. Yang pertama bereaksi bukan Li Yang, melainkan gadis di barisan paling belakang. Ia menengadah, memandang Li Yang yang baru saja berdiri, lalu melihat ke tempat duduknya sendiri... tampak bingung, seolah merasa bersalah telah merepotkan Li Yang...
Baru saja sampai di pintu, Li Yang langsung disambut pertanyaan tajam dari Liu Dayou, “Ngapain kau duduk di tempat duduk Jiang Banxia?”