Bab Dua: Menembus Empat Batas, Guru Agung Menerima Murid
Qiu Wangji dengan tidak sabar segera kembali ke kediamannya dan membuka paket pemula yang baru didapatnya.
Begitu dibuka, ia langsung melongo.
Hanya ini?
Sebuah permen kecil?
Mana janji paket besar itu?
Rasanya seperti saat Tahun Baru, ayahmu memberimu angpao tebal, tapi begitu dibuka isinya semua lembaran seratus rupiah.
“Hadiah: satu butir Pil Penciptaan Hongmeng.”
Tunggu! Pil Penciptaan Hongmeng?
Di dunia purba, apa pun yang mengandung kata Hongmeng pasti merupakan benda luar biasa, jelas mampu mengalahkan segala macam harta dan benda spiritual.
Ternyata isi paket besarnya memang luar biasa!
Qiu Wangji yang kegirangan langsung menelan permen itu bulat-bulat.
Namanya pil, tentu saja untuk dimakan.
Satu butir pil emas masuk ke perut, melompat keluar dari tiga dunia dan lima elemen.
Satu pil emas saja sudah bisa membuat seseorang naik ke langit di siang bolong, apalagi ini Pil Penciptaan Hongmeng.
Qiu Wangji pun menunggu untuk langsung sukses dan menapaki langit.
Namun, ia menunggu dan menunggu, tak juga merasa ada peningkatan kekuatan.
Saat mengamati kondisi dalam tubuh, ia kembali melongo.
Pil Penciptaan Hongmeng itu sama sekali tak bisa dicerna, hanya melayang-layang berputar di dalam istana ungu di kepalanya, makin lama makin cepat.
Bukankah ini pil?
Yang tidak ia ketahui, di atas Laut Timur kini sedang terjadi badai energi spiritual yang dahsyat, dan pusat badai itu tepat di Pulau Kura-kura Emas, dengan mata badai berada di kediaman Qiu Wangji.
Badai energi spiritual yang datang tiba-tiba ini adalah kesempatan sekaligus risiko.
Bagi para pertapa yang tengah menutup diri, mereka yang pondasinya kuat masih mampu mengendalikan, paling hanya darah dan energi mereka bergejolak.
Yang pondasinya lemah, bisa-bisa menjadi gila, atau bahkan tubuh meledak dan mati.
Murid Sekte Jie memang banyak, namun kualitasnya beragam, jadi di Pulau Kura-kura Emas ada yang bersorak, ada pula yang mengutuk.
Di Istana Biyou, Guru Agung Tongtian mengerutkan kening, “Anak ini lagi-lagi berulah?”
“Apa-apaan ini, ilmu apa lagi yang menentang langit?”
“Tak bisakah dia sedikit merendah?”
“Bikin keributan sebesar ini!”
Guru Tongtian sangat ingin menepukkan tangan dan melenyapkan badai energi itu, tapi akhirnya ia menahan diri, hanya melindungi murid-murid lain di pulau dengan kekuatan tiada tara.
Saat badai datang, Qiu Wangji sama sekali tak menyadari. Begitu energi spiritual yang mengamuk masuk ke tubuhnya, seluruh tubuhnya langsung mati rasa.
Seandainya energi itu tidak diserap Pil Penciptaan Hongmeng, ia pasti akan meledak dan mati.
Pil itu menyerap energi, lalu mengalirkannya kembali ke tubuh Qiu Wangji.
Barulah saat ini kekuatan Qiu Wangji melonjak pesat, dan tak terkendali.
Boom!
Dengan cepat ia menembus tingkat Dewa Bumi, dan tiba-tiba awan petir menggelinding di langit Pulau Kura-kura Emas, kilat ungu menyambar-nyambar.
Setiap kali seorang pertapa menembus satu tingkat, sambaran petir akan turun.
Boom!
Petir menyambar turun.
Qiu Wangji yang sama sekali tak siap, benar-benar tak mengira akan ada ujian petir.
Kediamannya pun langsung hancur lebur, bahkan tubuhnya sendiri gosong di luar, matang di dalam.
Astaga!
Namun kekuatannya masih terus bertambah.
Dewa Bumi, Dewa Langit, Dewa Sejati, Dewa Misterius!
Empat tingkat terlewati sekaligus, baru berhenti saat ia mencapai puncak Dewa Misterius.
Pil Penciptaan Hongmeng berhenti berputar, badai energi pun perlahan menghilang, namun belum selesai!
Kini awan petir kembali berkumpul di langit.
Qiu Wangji baru saja menyelesaikan gelombang pertama ujian petir, masih ada tiga gelombang lagi menanti!
Sial!
Paket ini bukankah terlalu besar?
Pulau Kura-kura Emas baru saja disapu badai energi, kini diterpa pula badai petir yang mengerikan.
Bagi pertapa tingkat tinggi, bahkan ujian Dewa Emas pun belum tentu menakutkan.
Tapi empat gelombang ujian petir sekaligus, Dewa Emas pun tak tahan.
“Dewa Agung, Guru, hari ini ada apa sebenarnya?”
“Ada yang bisa menjelaskan, apa yang terjadi di Pulau Kura-kura Emas?”
...
Sekian banyak murid Sekte Jie bersembunyi di kediaman masing-masing dengan ketakutan.
Qiu Wangji sendiri juga merinding dibuatnya, ujian petir semengerikan ini, mana mungkin ia sanggup menahan.
Guru Tongtian pun dalam hati merasa cemas.
Selesai sudah!
Anak ini tamat!
Tak bisa pelan-pelan saja berlatih, harus begini caranya?
Hal lain masih bisa ia bantu.
Tapi untuk ujian petir, ia tak bisa membantu!
Kalau dipaksakan, badai petir hanya akan makin ganas.
Ah!
Guru Tongtian menghela napas dan memejamkan mata.
Tak sanggup melihat.
Terlalu mengenaskan!
“Teknik Tarik Pedang!”
“Penggal Dewa!”
...
Baru saja Guru Tongtian menutup mata, ia mendengar teriakan keras.
Ia buru-buru membuka mata menatap Qiu Wangji.
Astaga!
Guru Tongtian tak tahan mengumpat, ujian petir bisa dihadapi dengan cara begini?
Tampak cahaya pedang tak berujung menebas ke arah sambaran petir.
Petir yang tipis, sekali tebas langsung putus.
Petir yang tebal, sepuluh, seratus, sepuluh ribu tebasan... pasti terputus juga!
Andai ia bukan seorang suci dan punya pandangan tajam, orang biasa tak akan mampu melihat bagaimana Qiu Wangji mengayunkan pedangnya.
Ini adalah pertarungan antara badai petir dan ranah pedang!
Teknik Tarik Pedang Qiu Wangji sudah mencapai tingkat menengah, kecepatannya luar biasa, nyaris melampaui kecepatan cahaya, seolah dalam sekejap ia bisa mengayunkan miliaran pedang, hingga di atas kepalanya terbentuk ranah pedang.
Inikah yang disebut Teknik Tarik Pedang?
Guru Tongtian diam-diam terkejut, teknik ini sebenarnya sederhana, kuncinya hanya cepat, tepat, dan ganas!
Meski berlatih seumur hidup, orang biasa pun sulit mencapai tingkat ini.
Tidak, Dewa Emas pun tak bisa!
Bagus sekali anak ini!
Guru Tongtian menatap Qiu Wangji dengan wajah takjub.
Ujian petir memang belum berakhir, tapi pada akhirnya pasti akan selesai.
Ujian petir ada akhirnya, tapi ranah pedang tiada batas, kemenangan pasti milik Qiu Wangji.
Qiu Wangji benar-benar mengamalkan prinsip dasar ilmu silat: kecepatan adalah segalanya.
Menghadapi ujian petir mengerikan ini, ia menembusnya dengan kecepatan, menyerang dengan serangan.
Saat sambaran petir terakhir ditebas putus, tingkat kekuatan Qiu Wangji pun kokoh, meski tubuhnya lelah luar biasa.
Benar-benar paket besar.
Hanya saja, pedangnya hancur!
Qiu Wangji hanya bisa tersenyum pahit, pedang Tang di tangannya sudah penuh lubang dan retak, sebentar lagi akan hancur total.
Saat itu, Guru Tongtian muncul di hadapan Qiu Wangji.
“Kau lagi?”
Qiu Wangji mengerutkan kening, orang ini sepertinya pernah ia temui, namanya...
Qiu Wangji langsung merinding, ia akhirnya teringat apa yang pernah dikatakan Tongtian.
Ini... ini sungguh...
Refleks, Qiu Wangji ingin kabur, tapi tak berani.
Di dunia purba, siapa pun bisa kau lawan, kecuali seorang suci.
Dan kebetulan, Tongtian adalah seorang suci, bahkan suci yang sangat hebat.
Ia sudah menyinggung Tongtian!
Qiu Wangji benar-benar dibuat takut setengah mati, bersikap tak hormat pada Guru Agung Tongtian lebih menakutkan daripada melewati sepuluh ribu ujian petir.
Gagal ujian petir paling-paling mati, menyinggung suci, hidup pun tak lebih baik dari mati.
Tongtian menatap Qiu Wangji dengan senyum setengah mengejek.
Berani-beraninya kau!
Tongtian tersenyum puas, lalu berkata, “Namaku Tongtian.”
“Hormat pada Guru Agung!”
Qiu Wangji buru-buru berlutut, lebih baik hidup daripada mati konyol.
Selama bisa lolos dari ini, segera pergi saja.
Orang ini memang jujur, tapi tak bisa mentolerir sedikit pun kesalahan.
“Bagus,” kata Tongtian sambil tersenyum, “Maukah kau menjadi muridku?”
Menjadi murid?
Qiu Wangji sempat tertegun, lalu segera berlutut, “Murdi Qiu Wangji, hormat pada Guru!”
Kalau tak segera ikut arus sekarang, nanti tak akan ada kesempatan sama sekali.
Sudah jadi muridmu, masa kau masih tega membunuhku?
“Bagus.”
Tongtian tampak puas, lalu segera meredakan ekspresinya. Tak menyangka begitu mudah mendapat murid sehebat ini.
Semua kata-kata yang sudah ia siapkan, tak perlu dipakai lagi. Semua hadiah besar yang sudah ia siapkan, tak perlu diberikan.
Benar-benar keberuntungan!
Tongtian berkata lagi, “Sekarang kau sudah jadi muridku, ingin hadiah apa?”
Hadiah?
Qiu Wangji kembali tertegun, terlalu mendadak, ia bahkan belum sempat berpikir soal hadiah.
Melihat pedangnya yang sudah hancur, ia lalu menyerahkan pada Tongtian dan berkata, “Murid ini giat berlatih teknik pedang, harta biasa tak terlalu berguna. Pedang ini sudah rusak, jika Guru berkenan, tolong bantu murid menempa kembali, tak perlu muluk-muluk, asal cukup kuat saja.”
“Bagus.”
Tongtian sekali lagi tersenyum puas, sempat khawatir Qiu Wangji akan meminta syarat yang berlebihan, ternyata sangat sederhana.
“Terima kasih, Guru!”
Qiu Wangji sekali lagi memberi hormat.
“Tiga hari lagi, datanglah ke Istana Biyou untuk mengambilnya.”
Setelah berkata demikian, Tongtian berbalik menuju Istana Biyou.
“Pada hari ini, murid Qiu Wangji, berkepribadian dan berilmu tinggi, resmi kuterima sebagai murid terakhir, dengan ini kusampaikan kepada seluruh Sekte Jie.”
Astaga!
Qiu Wangji mendengar suara Tongtian, dalam hati mengumpat, “Kenapa harus diumumkan terang-terangan? Bukankah ini membuatku jadi bulan-bulanan?”
Sebelumnya ia memang dikenal sebagai orang yang lemah, walaupun kini sudah mencapai tingkat Dewa Misterius, di mata orang lain tetap saja dianggap lemah.
Orang seperti ini, tiba-tiba menjadi murid resmi Tongtian, bahkan murid terakhir, berapa banyak orang yang akan iri?
Kelak, akan banyak sekali orang yang ingin menginjak-injaknya!
Membayangkan kehidupan ke depan saja sudah membuatnya merinding.
Padahal ia hanya ingin menjadi pendekar pedang yang hidup damai dan tenang.