Bab 21: Mengikuti Kakak Jue
Chen An sedikit memiringkan kepala, berniat melihat ekspresi pria itu, namun tak disangka jarak mereka begitu dekat hingga dahinya menyentuh dagunya.
Saat mobil sampai di persimpangan depan, bodi mobil sedikit oleng, Chen An menahan dada pria itu untuk menjaga keseimbangan.
Setelah mobil kembali stabil, Fu Sui Jue segera menjauhkan diri darinya dan duduk dengan jarak yang pantas.
Chen An pun menghela napas lega.
“Tuan Fu, kita mau ke mana?” A Dong menatap wajah Fu Sui Jue yang sulit ditebak lewat cermin spion.
Pria itu membuka bibir tipisnya dan menyebutkan alamat rumah Chen An.
Harus diakui, apa yang dikatakan Luo Qi ada benarnya. Chen An memandangi jalanan yang dipenuhi cahaya kota berkilauan dari balik jendela mobil, kendaraan berdesakan tanpa celah, suara klakson saling bersahutan, namun kemacetan tak terhindarkan, semua orang terpaksa bergerak sangat pelan.
Melihat antrean kendaraan yang tak kunjung bergerak, A Dong tidak memaksakan masuk, lalu menoleh bertanya, “Tuan Fu, macet parah. Apa kita mau ganti jalan?”
“Ganti saja, lewat selatan.”
Chen An langsung berkata, “Hah? Jalan selatan itu jauh, kalau memutar bisa sampai satu jam baru sampai rumah.”
Fu Sui Jue menatapnya sekilas, “Kalau begitu, ke rumahku saja?”
Chen An langsung duduk manis, “Baiklah, muter aja, maaf merepotkan.”
A Dong pun memutar arah. Dari sudut matanya, ia menangkap seulas senyum tipis di sudut bibir Fu Sui Jue. Jantungnya berdebar, tak kuasa menahan diri untuk kembali mencuri pandang pada perempuan cantik itu, diam-diam menebak apa yang ada di benak Fu Sui Jue.
Ternyata perjalanan kali ini lebih lama dari perkiraan Chen An. Satu jam kemudian, mereka baru sampai beberapa blok dari rumahnya.
Mobil melaju di jalanan yang sepi, hanya ada beberapa lampu jalan yang rusak dan tak terlihat seorang pun.
“Tuan Fu, sepertinya ada seseorang melambaikan tangan ke arah kita di depan,” ujar A Dong sambil memperhatikan bayangan yang semakin mendekat.
Fu Sui Jue melirik ke depan, lalu berkata dingin, “Abaikan saja.”
A Dong akhirnya bisa melihat siapa orang itu, “Itu Nona Mo...”
Namun Fu Sui Jue tak memberikan respons. Ia pun terpaksa menginjak gas, berpura-pura tidak melihat.
Tiba-tiba, wanita di pinggir jalan itu berlari menghadang mobil mereka, membuat A Dong terkejut dan segera menginjak rem mendadak.
Fu Sui Jue dengan sigap menahan kursi depan untuk menjaga keseimbangan, satu tangan lagi menahan dahi Chen An agar tidak terbentur ketika tubuhnya terlempar ke depan.
Kepala Chen An terasa pusing, ia butuh waktu untuk menenangkan diri sebelum akhirnya duduk tegak kembali. Saat menoleh, pria itu sudah kembali duduk seperti biasa, pandangannya pun tidak singgah padanya sekejap pun, seolah yang baru saja melindunginya bukanlah dirinya sendiri.
Namun, di dahinya masih terasa hangat bekas telapak tangan seseorang.
“Suijue Gege.” Suara manis seorang gadis terdengar dari luar jendela mobil.
A Dong menurunkan kaca jendela, menatap tak berdaya pada wanita yang berdandan sangat seksi itu. “Nona Mo, rupanya Anda.”
Mo Xiaoying tersenyum, “Aku ke sini cari teman, tapi malah tersesat. Tadi Ibu Fu menelepon, minta aku pulang.”
Ia menatap ke kursi belakang, ke arah Fu Sui Jue, “Untung ketemu kalian di sini, Suijue Gege, antar aku pulang, ya.”
Gaya bicaranya seakan sudah sangat akrab dengan Fu Sui Jue.
Baru saja hendak masuk ke mobil, ia menyadari ada seorang perempuan lain di bangku belakang.
Raut wajahnya langsung berubah tidak senang, “Suijue Gege, siapa dia? Jangan-jangan pacarmu?”
Chen An menjawab pelan, “Bukan, aku cuma nebeng.”
Mo Xiaoying mengangguk, suaranya penuh makna, “Oh, berarti pasti teman dekat, ya? Teman Suijue Gege sudah seperti temanku juga. Kami ini tumbuh bersama sejak kecil, sudah seperti keluarga. Hai, aku Mo Xiaoying.”
Ia mengulurkan tangan, tapi saat Chen An hendak menyambut, ia malah menariknya kembali, “Eh, rasanya aku pernah lihat kamu, ya. Kita pernah ketemu di mana?”
Chen An menatapnya dengan tenang. Ia ingat gadis ini, hari ketika Fu Sui Jue dijebak obat, mereka bertabrakan dan secara tak sengaja menukar kartu kamar.
“Ya? Aku tidak ingat,” jawab Chen An.
Mo Xiaoying berpikir keras tapi tak juga ingat, akhirnya memilih melupakan dan kembali merengek pada Fu Sui Jue, “Suijue Gege, ayo kita pulang dulu.”