Bab 45 Membeli Pakaian untuk Suami Sendiri
Wang Guiying terkejut, bergidik, lalu menjerit. Dia terlalu akrab dengan tindakan Cheng Yunan itu karena sering melihatnya beberapa hari terakhir.
Lari!
Cepat lari!
Menggebrak pintu, menjerit, bertingkah seperti orang gila, berlari ke sana kemari di dalam ruangan seperti lalat tanpa kepala. Suara itu membuat gendang telinga Cheng Yunan terasa sakit.
Tak lama kemudian, sebuah pukulan mendarat di tenggorokan Wang Guiying, disusul dengan tendangan ke arah perutnya. Tanpa memberinya kesempatan bernapas, Cheng Yunan menjambak rambutnya dan melemparkannya ke ranjang Cheng Qing. Wang Guiying pun menimpa tubuh Cheng Qing dengan keras.
Cheng Qing hanya merasakan bayangan hitam menerjang, disusul dengan jeritan yang sangat memilukan.
"Cheng Yunan, kau memukuli keluarga sendiri, kau tidak akan mati dengan tenang!"
"Terlalu bising! Menyebalkan!"
Sebuah pukulan telak meluncur, tepat mengenai pita suara Cheng Qing. Dengan suara "bang", jeritan itu langsung terhenti seketika.
Cheng Qing membuka mulutnya hendak berteriak, tetapi setelah mencoba beberapa kali, tidak ada suara yang keluar. Ia menjadi panik dan mulai meronta serta menunjuk-nunjuk dengan tangan dan kakinya.
Wang Guiying masih berada di atas tubuhnya. Cheng Qing yang hanya memikirkan masalah tenggorokannya langsung menendang wanita itu hingga terjatuh ke kolong tempat tidur.
Wang Guiying seketika merasakan pantatnya sakit, kepalanya terbentur lantai dengan posisi terbalik, menghasilkan bunyi benturan yang cukup nyaring.
Berpikir bahwa semuanya sudah selesai? Terlalu naif. Cheng Yunan langsung menghajar ibu dan anak itu di lantai selama setengah jam. Suara hantaman tinju yang mengenai daging itu membuat siapa pun merinding ketakutan.
Setelah merasa puas memukul, Cheng Yunan meniup kepalan tangannya yang kecil.
Di luar, Cheng Feng yang baru pulang kerja dan Cheng Tongguo yang baru selesai urusan, ayah dan anak itu mendengar suara keributan di dalam rumah yang mirip suara orang sedang menghajar seseorang. Wajah mereka langsung berubah pucat pasi, ketakutan hingga lari terkencing-kencing keluar halaman.
Pintu halaman kurang lebar, bahkan ayah dan anak itu sempat tersangkut di ambang pintu, saling dorong dan berdesakan untuk kabur karena takut jika lari terlalu lambat, mereka akan ditangkap oleh si tiran Cheng Yunan dan ikut dipukuli bersama-sama.
Setelah berlari agak jauh dari rumah, barulah ayah dan anak itu berhenti dengan napas tersengal-sengal. Keduanya saling berpandangan sejenak sebelum mengalihkan pandangan secara seremikian rupa.
Sifat egois dan dingin di antara mereka sangat mirip. Tak seorang pun berniat menolong ibu dan anak di dalam rumah.
Di dalam rumah, Cheng Feng dan putranya baru saja menginjakkan kaki di halaman ketika Cheng Yunan sudah mendengarnya, tetapi ia sama sekali tidak berniat mengejar mereka keluar halaman untuk memukul mereka lagi.
Citra dirinya sebagai anak perempuan yang baik tidak boleh hancur.
Setelah selesai memukul, ia duduk di atas bangku dengan sebelah kaki disilangkan di atas kaki yang lain. Benar kata orang, memukul adalah pekerjaan yang menguras tenaga, terbukti perut Cheng Yunan kini keroncongan.
Ia mengangkat kakinya dan menendang Wang Guiying yang terkapar seperti anjing mati. "Jangan pura-pura mati! Aku ingin makan panekuk telur, ingat harus pakai enam butir telur. Kurang satu saja, akan kuhajar lagi. Pikirkan baik-baik."
Wang Guiying menggertakkan gigi, berjalan dengan tubuh gemetar menuju dapur. Karena ancaman itu, Wang Guiying tidak berani berbuat macam-macam, meskipun dalam hatinya ia terus-menerus mengutuk.
Sebentar lagi, biarkan wanita jalang itu bersenang-senang selama dua hari ini.
Cheng Yunan sama sekali tidak tahu apa isi pikiran Wang Guiying, dan bahkan jika ia tahu, ia menganggapnya tidak lebih dari angin lalu.
Hari ini setelah meregangkan otot dan menyantap panekuk telur yang berminyak, ia kembali ke kamarnya dan langsung tidur.
Sore nanti ia berniat pergi menemui tunangannya yang baru saja resmi menjadi miliknya. Mumpung orangnya ada di depan mata, ia harus memanfaatkan kesempatan untuk merajut kasih sayang.
Waktu itu ia hanya mendengar perkenalan singkat dari Lu Shiye mengenai situasinya, sementara tentang keluarganya, ia sama sekali belum mendapat petunjuk apa pun.
Karena mereka sudah mau mengajukan surat nikah, ia harus mengenal keluarga suaminya dengan baik agar kelak saat berkunjung tidak sampai salah mengenali orang.
Jika keluarga suaminya mengira dirinya tidak peduli, itu akan sangat memalukan.
Sejak zaman dahulu, hubungan antara menua dan mertua adalah ilmu yang rumit. Jika tidak rukun, sangat mudah memicu konflik.
Cheng Yunan tidur dengan sangat nyenyak, dan begitu bangun, ia langsung pergi ke pusat perbelanjaan.
Ia ingat Lu Shiye tidak membawa pakaian ganti, dan Bibi Wen Ya entah karena ceroboh atau merasa sungkan, tidak membawakan pakaian untuknya.
Chen Nian adalah pria sejati yang kaku, sama sekali tidak memikirkan hal semacam itu. Sudah dua hari dirawat di rumah sakit, bahkan pakaiannya belum pernah diganti.
Cheng Yunan berpikir, karena ia sudah memutuskan untuk menjalin hubungan serius, maka pria itu adalah miliknya. Membelikannya setelan pakaian bukanlah hal yang besar.
Lagipula, Lu Shiye bukanlah tipe orang yang suka memanfaatkan kebaikannya, hal itu sudah terlihat dari caranya memberikan uang saat membelikan sup ayam tempo hari.
Ia tidak tahu persis berapa ukuran pakaian yang dikenakan Lu Shiye, tetapi dari perkiraannya, tinggi pria itu hampir mencapai seratus sembilan puluh sentimeter, tentu tidak akan cocok jika dibelikan ukuran kecil.
Ia memilih pakaian dengan ukuran yang agak besar. Saat melewati konter pakaian dalam rajut, wajah Cheng Yunan sedikit merona hangat.
Namun, ia tetap membelikannya sehelai pakaian dalam, meminta pelayan untuk membungkusnya rapi, lalu membeli sekaleng buah sebelum langsung pergi menuju rumah sakit.
Setibanya di sana, Chen Nian sedang melaporkan pekerjaan kepada Lu Shiye.
Tanpa perlu menebak pun Cheng Yunan sudah tahu bahwa hal itu pasti berkaitan dengan ditemukannya emas batangan, jadi ia memutuskan untuk tidak masuk agar tidak mengganggu.
Setelah menunggu sekitar lima belas sampai enam menit, Chen Nian akhirnya keluar. Ia cukup terkejut saat melihat Cheng Yunan duduk di kursi tunggu. "Nona Cheng, kapan Anda datang? Sudah lama menunggu?"
Begitu sadar, Chen Nian meraba batang hidungnya, merasa nada bicaranya barusan terlalu ketus.
"Aku juga baru datang. Tadi lewat pintunya dan melihatmu sedang membicarakan urusan penting dengan Lu Shiye, jadi aku tidak masuk," jawab Cheng Yunan.
Chen Nian sama sekali tidak curiga, lagipula tadi ia memang mengunci pintu kamar dari dalam dan suara bicara mereka juga sengaja dikecilkan, jadi wanita itu pasti tidak mendengar percakapan mereka dengan jelas.
"Oh, Ketua masih di dalam. Dia pasti senang melihatmu datang, silakan langsung masuk saja."
Setelah Chen Nian pergi, Cheng Yunan melangkah masuk ke ruang rawat dengan membawa barang-barangnya.
"Sudah makan belum? Perasaanmu sudah agak membaik?" tanya Cheng Yunan dengan senyum cerah di wajahnya sambil meletakkan kaleng buah di atas meja.
Lu Shiye dengan sangat tenang meletakkan bungkusan di samping tubuhnya, di tempat yang mudah dijangkau tangan.
Cheng Yunan hanya melirik sekilas sebelum kembali menarik pandangannya.
"Sudah!" Merasa jawabannya terlalu singkat, ia menambahkan, "Rumah sakit punya kantin, sangat praktis. Kamu tidak perlu bolak-balik, terlalu merepotkan."
Cheng Yunan mengangkat alisnya dengan suasana hati yang bagus, setidaknya pria itu tahu cara memedulikannya.
Lu Shiye juga sedang menatap Cheng Yunan. Baru setengah hari berlalu, ia merasa tunangannya ini tampak sedikit berbeda.
Sebelumnya ia hanya tahu gadis muda itu berpenampilan lumayan, tetapi jika diamati baik-baik sekarang, gadis itu benar-benar sangat cantik.
Sepasang rambut kepang ganda diikat dengan pita rambut, sepasang mata bunga persik yang jernih tampak besar dan bersinar, hidungnya kecil dan mancung, kulitnya putih bersih kemerahan, tingginya sekitar seratus enam puluh lima sentimeter, hanya saja tubuhnya terlihat agak kurus.
Mengingat perlakuan yang diterima gadis itu selama tinggal di keluarga Cheng, Lu Shiye merasa sedikit iba.
"Tidak merepotkan. Lagipula aku datang bukan untuk mengantarkan makanan untukmu. Nah! Aku lihat kamu tidak punya pakaian ganti, jadi aku sengaja pergi ke pusat perbelanjaan untuk membelikannya. Nanti minta perawat membantumu menggantinya."
Hati Lu Shiye bergetar tipis.
Ia tidak menyangka gadis muda itu begitu penuh perhatian, bahkan secara khusus membelikannya pakaian dan mengantarkannya ke sini.
Begitu bungkusan itu dibuka, ia melihat baju dan celana biasa dengan ukuran yang pas untuk tubuhnya. Namun, ketika melihat benda yang terbungkus paling dalam—sehelai pakaian dalam—wajahnya seketika memerah padam. Pandangannya langsung salah tingkah, membuat seluruh dirinya merasa gelisah luar biasa.
Dia... bagaimana bisa gadis itu membelikannya barang seperti itu?
Melihat Lu Shiye yang tampak salah tingkah dan malu-malu seperti pengantin baru, Cheng Yunan merasa hal itu sangat menggemaskan.
"Ada apa? Ukuran pakaiannya tidak pas? Kalau tidak cocok, katakan saja sekarang, aku masih bisa menukarnya."
"Uhuk, uhuk!" Lu Shiye berdehem dua kali sebelum menjawab dengan suara serak, "Tidak, ukurannya pas!"
"Oh! Kalau begitu aku akan memanggil perawat untuk membantumu membersihkan diri dan merapikan diri, sekalian mengganti pakaian bersih!"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri!"
Sejak kemarin, Lu Shiye sebenarnya sudah tidak memerlukan perawat untuk mendampinginya lagi.
"Baiklah, aku tunggu di luar. Kalau ada apa-apa, panggil saja aku."
Lu Shiye memperhatikan Cheng Yunan keluar ruangan, hingga rona panas di wajahnya perlahan-lahan mereda.
Lu Shiye bergerak sendiri, dan butuh waktu lebih dari sepuluh menit baginya untuk merapikan diri.
Setelah mengenakan pakaian baru, aura ketus di tubuh Lu Shiye seakan meredup dua tingkat.
Cheng Yunan mengagumi pakaian yang baru saja dibelinya, dan ia merasa seleranya memang bagus. Saat dikenakan oleh Lu Shiye, pakaian itu terlihat seperti dibuat khusus untuk ukuran tubuhnya.
Pria yang ditaksirnya memang tidak mengecewakan: bahu bidang, pinggang ramping, dan kaki jenjang. Mulai sekarang, semua ini adalah miliknya! Miliknya!